Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut lebih sulit dipadamkan dibandingkan kebakaran yang hanya terjadi di permukaan. Pasalnya, api dapat merambat dan bertahan di lapisan gambut bawah tanah meski kobaran di permukaan sudah tidak terlihat.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia (UI), Daryono, menjelaskan kebakaran pada gambut kering dapat berlangsung melalui proses smouldering combustion, yakni pembakaran yang membara tanpa menghasilkan nyala api yang jelas.
Kondisi tersebut membuat kebakaran gambut sulit dideteksi dan ditangani secara menyeluruh. Padamnya api di permukaan belum tentu menandakan seluruh titik kebakaran telah berhasil dipadamkan.
"Akibatnya, permukaan tanah yang terlihat tidak lagi mengeluarkan api belum tentu menunjukkan bahwa kebakaran telah benar-benar padam. Bara dapat tetap bertahan di lapisan gambut dan berpotensi kembali memicu kebakaran permukaan apabila kondisi mendukung," ujar Daryono.
Selain bara tersembunyi di bawah tanah, keterbatasan air dan sulitnya akses menuju kawasan gambut turut menghambat proses pemadaman. Persoalan tersebut semakin berat ketika kebakaran terjadi pada puncak musim kemarau.
"Pada puncak musim kemarau, ketersediaan air untuk pembasahan dapat berkurang. Banyak kawasan gambut juga berada di wilayah terpencil dengan keterbatasan akses kendaraan dan peralatan," katanya.
Daryono menjelaskan, penanganan karhutla di lahan gambut membutuhkan upaya lebih dari sekadar memadamkan kobaran api yang terlihat.
Pembasahan harus menjangkau bagian gambut yang terbakar, disertai pengelolaan tata air dan pemantauan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tertinggal.
"Karena itu, penanganan kebakaran gambut membutuhkan pembasahan yang memadai, pengelolaan tata air, pemantauan kondisi bawah permukaan, dan pemeriksaan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa," tuturnya.
Advertisement
Gambut Kering Meningkatkan Risiko Kebakaran
Daryono menjelaskan, gambut yang secara alami berada dalam kondisi basah relatif lebih sulit terbakar. Risiko kebakaran meningkat ketika gambut mengering, antara lain akibat terganggunya tata air atau turunnya muka air tanah.
Meski demikian, kekeringan tidak serta-merta menyebabkan kebakaran. Kondisi tersebut membuat lingkungan lebih rentan terhadap penyulutan api, termasuk yang berasal dari aktivitas manusia.
"Namun, perlu dipahami bahwa kekeringan bukan berarti kebakaran pasti terjadi. Kekeringan terutama meningkatkan kerentanan lingkungan terhadap sumber penyulutan api," ujarnya.
Aktivitas manusia, seperti penggunaan api untuk membuka atau mengelola lahan, serta kejadian tidak disengaja akibat kelalaian, juga dapat memicu kebakaran.
Karena itu, upaya pencegahan perlu dilakukan dengan menjaga kondisi hidrologis lahan gambut agar tetap basah. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko kebakaran sebelum api menyebar dan semakin sulit dikendalikan.
"Prinsip terpenting dalam mitigasi kebakaran gambut adalah mempertahankan kondisi hidrologis gambut agar tetap basah. Mencegah gambut mengering umumnya jauh lebih efektif daripada memadamkan kebakaran setelah api berkembang luas," kata Daryono.