Ini 10 Pekerjaan Paling Terdampak AI

McKinsey: 11 juta pekerja AS berpotensi pindah peran imbas otomatisasi AI. Ini daftar 10 pekerjaan paling terdampak.

Cahya Alena Fauza
Oleh Cahya Alena Fauza - Reporter
Ini 10 Pekerjaan Paling Terdampak AI
<p>Ilustrasi orang dewasa bekerja menggunakan komputer. (Foto: Unsplash/Annie Spratt)</p>

McKinsey Global Institute memperkirakan sekitar 7% tenaga kerja Amerika Serikat, setara 11 juta orang, mungkin perlu berganti pekerjaan dalam satu dekade ke depan seiring percepatan adopsi kecerdasan buatan (AI). Temuan ini termuat dalam laporan yang dirilis 29 September 2026 dan menyoroti kategori pekerjaan yang paling terdampak otomatisasi.

Di sisi lain, dorongan teknologi diproyeksikan menciptakan 40 juta lapangan kerja baru dalam 10 tahun ke depan. Namun adopsi AI dan otomatisasi lain juga berpotensi menurunkan permintaan untuk berbagai pekerjaan saat ini sebesar 21%, atau sekitar 36 juta posisi hingga 2035, dikutip dari CNBC Make It, Senin (12/10/2026).

Masih menurut laporan tersebut, sekitar 25 juta pekerja diperkirakan tetap pada pekerjaan saat ini meski alur kerjanya berubah, sementara 11 juta lainnya perlu bergeser ke bidang berbeda. "Kabar baiknya adalah permintaan akan lebih besar dari penurunannya," kata Direktur McKinsey Global Institute, Tanguy Catlin.

10 Pekerjaan Paling Terdampak Otomatisasi AI Versi McKinsey

McKinsey mengurutkan kategori pekerjaan paling terdampak berdasarkan tiga indikator: jumlah karyawan purnawaktu, estimasi proporsi jam kerja saat ini yang dapat atau akan terdampak otomatisasi, dan proyeksi penurunan permintaan tenaga kerja akibat otomatisasi.

  1. Dukungan Kantor dan Administrasi

    Jumlah karyawan full-time: 18 juta

    Proporsi jam kerja terdampak: 81%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 38%

  2. Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan

    Jumlah karyawan full-time: 400,000

    Proporsi jam kerja terdampak: 76%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 43%

  3. Teknologi dan Analitik

    Jumlah karyawan full-time: 5,2 juta

    Proporsi jam kerja terdampak: 70%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 22%

  4. Manufaktur dan Produksi

    Jumlah karyawan full-time: 8,5 juta

    Proporsi jam kerja terdampak: 68%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 25%

  5. Perdagangan Ritel dan Penjualan

    Jumlah karyawan full-time: 13,3 juta

    Proporsi jam kerja terdampak: 67%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 27%

  6. Bisnis dan Keuangan

    Jumlah karyawan full-time: 10,5 juta

    Proporsi jam kerja terdampak: 62%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 18%

  7. Layanan Makanan

    Jumlah karyawan full-time: 13,7 juta

    Proporsi jam kerja terdampak: 60%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 31%

  8. Seni, Media, dan Hiburan

    Jumlah karyawan full-time: 1,9 juta

    Proporsi jam kerja terdampak: 58%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 13%

  9. Transportasi dan Logistik

    Jumlah karyawan full-time: 13,8 juta

    Proporsi jam kerja terdampak: 55%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 30%

  10. Instalasi dan Perbaikan

    Jumlah karyawan full-time: 6,1 juta

    Proporsi jam kerja terdampak: 54%

    Penurunan permintaan tenaga kerja: 15%

Otomatisasi Tinggi Tak Selalu Turunkan Permintaan

Catlin menekankan bahwa tingkat otomatisasi yang tinggi tidak otomatis berarti permintaan tenaga kerja akan menyusut. Menurut dia, sejumlah pekerjaan cenderung "diciptakan kembali" atau diperbesar fungsinya oleh adopsi AI ketimbang digantikan sepenuhnya.

Contohnya, di bidang legal otomatisasi diperkirakan memengaruhi 47% jam kerja, tetapi penurunan permintaan tenaga kerjanya hanya 18%. Catlin menjelaskan, pengacara secara historis menghabiskan banyak waktu untuk riset, yang kini dapat dipercepat dengan AI sehingga mereka bisa berfokus pada tugas yang menuntut penilaian manusia. "Pekerjaan atau jabatannya tidak berubah, namun bagaimana waktu dihabiskan berubah secara masif," tutur Catlin.

Ia menambahkan, ada perbedaan antara seberapa banyak pekerjaan secara teori bisa diotomatisasi dengan apa yang akan benar-benar diotomatisasi di dalam organisasi. Dengan pertimbangan itu, jumlah pekerja yang harus mengganti pekerjaannya diperkirakan berada pada rentang enam hingga 16 juta, dengan 11 juta sebagai skenario dasar.

Transisi Karier: Keterampilan Baru Jadi Kunci

Bagi sekitar 11 juta pekerja yang terdampak dan perlu berganti pekerjaan, proses transisi tidak selalu mudah, menurut Catlin.

Satu dari tujuh pekerja diproyeksikan memiliki jalur langsung menuju peran serupa yang mensyaratkan kualifikasi mudah diperoleh, dengan kompensasi setara atau lebih baik dari sebelumnya.

Namun hampir 45% kemungkinan melalui jalur yang lebih menantang, seperti harus pindah lokasi, meningkatkan keterampilan secara signifikan, atau mengambil kualifikasi baru, yang kerap disertai gaji lebih rendah dibanding peran semula.

"Untuk mendapatkan sertifikasi tersebut mungkin memerlukan investasi waktu dan investasi uang, dan itu akan menjadi sumber hambatan," kata Catlin.

Agar 11 juta pekerja dapat terserap ke pekerjaan baru dalam satu dekade, sekitar 770.000 orang perlu berganti kelompok pekerjaan setiap tahun, atau sekitar 3,6 kali di atas rata-rata historis.

Catlin menilai transisi ini memungkinkan, tetapi memerlukan respons sistemik di mana perusahaan dan pemerintah membantu pekerja mengejar kemampuan baru. "Karyawan tidak bisa menutup celah ini sendirian," tutur Catlin.

Sementara itu, ia menyarankan pekerja mengasah kemampuan pemecahan masalah, komunikasi interpersonal, kolaborasi, pemikiran kritis, rasa ingin tahu, dan kemauan untuk belajar. Menurutnya, keterampilan tersebut membuka akses ke pekerjaan yang lebih baik sekaligus meningkatkan ketangguhan saat dunia kerja terus berubah.

Rekomendasi