Kapan Hujan Abu Gunung Anak Krakatau Berhenti? Ini Penjelasan Ahli

Erupsi Anak Krakatau memicu hujan abu sejak 4–6 September 2026. IABI menjelaskan faktor berhentinya abu, sementara BMKG memprakirakan arah sebaran.

Supriatin
Oleh Supriatin - Reporter
Kapan Hujan Abu Gunung Anak Krakatau Berhenti? Ini Penjelasan Ahli
Aktivitas Gunung Anak Krakatau dari udara yang terus mengalami erupsi, Minggu (23/12). Tsunami yang menerjang wilayah Selat Sunda, Pandeglang, Serang, dan Lampung Selatan merusak ratusan bangunan dan kapal. (Liputan6.com/Pool/Susi Air)

Erupsi Anak Krakatau terjadi beruntun dari Jumat (4/9/2026) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9/2026) pukul 00.04 WIB. Aktivitas itu memicu hujan abu yang terdampak ke sejumlah wilayah.

Kondisi ini membuat publik mempertanyakan kapan hujan abu akan berhenti dan kapan situasi kembali normal.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan waktu berhentinya hujan abu tidak bisa dipastikan karena bergantung pada dinamika magma dan tekanan di tubuh gunung api.

"Letusan baru akan benar-benar berhenti jika pasokan magma segar dari perut bumi sudah habis dan tekanan di dalam dapur magma sudah tenang kembali," jelas Daryono, Selasa (8/9/2026).

Selama kantong magma di bawah gunung masih mendapat suplai dari kedalaman, erupsi yang membawa abu bisa berlanjut dengan intensitas yang berubah-ubah, kadang melemah lalu kembali menguat.

Mengapa Aliran Magma Dapat Terhenti

Menurut Daryono, pasokan magma berhenti ketika dorongan alami dari dalam bumi kehilangan tenaga. Tanpa dorongan cukup, magma dalam saluran akan mendingin, mengeras, dan akhirnya menyumbat jalurnya.

Saat sumbatan terbentuk, kondisi gunung api bisa kembali stabil karena tidak lagi mampu menyemburkan material ke permukaan.

"Tanda-tanda pasokan magma mulai habis dapat terlihat dari alat pemantau, seperti hilangnya gempa dalam dari bawah gunung, menurunnya drastis bau gas menyengat, serta tubuh gunung yg mulai menyusut (deflasi)," jelas Daryono.

Dia menambahkan, akhir erupsi sulit diprediksi secara presisi hingga jam, tanggal, atau bulan tertentu.

Perut bumi berada jauh di bawah permukaan dengan sistem yang sangat kompleks. Saat ini belum ada teknologi yang mampu mengukur secara persis berapa banyak magma yang tersisa.

Keterbatasan tersebut serupa dengan gempa bumi yang juga belum dapat diprediksi secara tepat karena mekanismenya berlangsung jauh di bawah permukaan.

Arah Pergerakan Abu Vulkanik

Daryono menjelaskan, arah dan jarak sebaran abu vulkanik ditentukan terutama oleh dua faktor: kekuatan letusan dan arah angin.

Pada letusan yang kuat, partikel abu halus dapat terlontar ke lapisan udara lebih tinggi dan kemudian terbawa angin dalam jarak jauh sebelum kembali jatuh ke permukaan.

"Angin kencang akan membawa debu-debu ringan ini melayang jauh hingga puluhan bahkan ratusan km sebelum akhirnya jatuh ke tanah," kata dia.

Abu Krakatau Menjauhi Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau bergerak menjauhi wilayah Indonesia berdasarkan pemantauan Selasa (8/9/2026) pukul 04.00 WIB.

"Sebaran abu vulkanik GAK (Gunung Anak Krakatau) diprakirakan bergerak menjauhi wilayah Indonesia," tulis BMKG dalam unggahan di Instagram.

BMKG merujuk informasi PVMBG dan VAAC Darwin serta analisis citra RGB Himawari-9 pada 8 September 2026 pukul 04.00 WIB yang mengidentifikasi sebaran debu vulkanik Anak Krakatau.

Dari permukaan hingga ketinggian 6.000 ft (1,8 km), abu teramati bergerak ke selatan–barat daya, mencakup wilayah Samudera Hindia barat laut Banten.

BMKG menyebut masih ada sebaran abu vulkanik yang menurunkan kualitas udara dan jarak pandang.

"Serta pada ketinggian tertentu dapat mengganggu aktivitas penerbangan," tulis BMKG.
Rekomendasi