BMKG Ungkap Abu Vulkanik Anak Krakatau Belum Terdeteksi di Jateng

Kepastian itu berdasarkan hasil paper test dilakukan BMKG.

Danny Adriadhi Utama
Oleh Danny Adriadhi Utama - Reporter
BMKG Ungkap Abu Vulkanik Anak Krakatau Belum Terdeteksi di Jateng
Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo bicara mengenai abu vulkanik anak krakatau di Jawa Tengah. (merdeka/Danny).

Beredar kabar di media sosial (medsos) wilayah Jawa Tengah terdampak sebaran abu vulkanik gunung berapi di Selat Sunda tersebut.

Kabar diunggah akun Instagram @informasiseputarsemarang menyertakan peringatan darurat menyebutkan pantauan zona merah abu vulkanis Gunung Anak Krakatau sudah sampai Kota Padang dan Semarang per 07.00 WIB.

Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang menyebut bahwa abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau, hingga kini belum terdeteksi mencapai permukaan wilayah Jawa Tengah.

"Jadi dari Kertajati, Tegal, kemudian Cilacap dan Semarang sendiri, paper test-nya negatif,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo di kantor Gubernur Jawa Tengah, Senin (7/8).

Secara teknis, Yoga menjelaskan, pengujian dilakukan selama dua hari dengan menempatkan kertas berwarna hitam atau putih dari pagi hingga malam, untuk mengetahui ada tidaknya material debu yang mengendap.

Menurutnya, Kertajati dan Tegal menjadi sampel yang mewakili wilayah Pantura Jawa Barat dan Jawa Tengah. Sementara, Cilacap mewakili Jawa Tengah bagian barat.

"Seandainya yang di sebelah barat kita aman, logika sederhananya harusnya semakin ke timur semakin aman. Jadi Semarang dan barangkali sampai Jawa Timur akan aman,” ujar dia.

Namun keberadaan abu di lapisan atmosfer atas tetap berbeda dengan abu yang sampai ke permukaan. Pemantauan satelit dapat mendeteksi material di atmosfer, tetapi belum tentu material tersebut turun ke permukaan.

“Kenyataannya paper test kami mengatakan, bahwa debu tidak sampai ke bawah,” kata dia.

Pihaknya meminta masyarakat tidak langsung mempercayai informasi sebaran abu vulkanik dari media sosial atau aplikasi, tanpa melakukan konfirmasi.

"Mohon teman-teman media kalau mengambil dari lembaga yang resmi. Lembaga resmi PVAC Darwin atau BMKG atau PVMBG,” tuturnya.

Terkait debu yang ditemukan menempel pada kendaraan, Yoga mengatakan belum tentu merupakan abu vulkanik. Untuk memastikan jenis material tersebut, diperlukan pemeriksaan laboratorium, karena abu vulkanik memiliki kandungan silika dan karakter partikel yang lebih tajam.

"Kalau tadi ada cerita bahwa motornya kotor, bisa jadi karena efek musim kemarau yang kering. Kurang lebihnya begitu, debu biasa, bukan debu vulkanik,” pungkasnya.

Rekomendasi