Bandara Internasional Soekarno-Hatta kembali menghentikan sementara operasional penerbangan akibat meningkatnya aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan pembaruan Notice to Airmen (NOTAM) A3387/26 atau NOTAMR A3373/26, Bandara Soekarno-Hatta berstatus closed akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Penutupan terbaru berlaku mulai pukul 17.33 WIB dan diperkirakan berlangsung hingga pukul 23.59 WIB pada Senin (7/9/2026).
Keputusan penghentian operasional ini memberikan dampak langsung pada jadwal perjalanan udara secara luas. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat hingga Minggu (6/9/2026), sebanyak 22.798 penumpang terkena dampak, mulai dari pembatalan penerbangan hingga penjadwalan ulang perjalanan (reschedule).
Advertisement
Sebaran Abu Vulkanik Membumbung Tinggi di Jalur Jelajah
Ancaman erupsi kali ini dinilai sangat serius mengingat daya jangkau sebaran abunya. Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau telah membumbung hingga ketinggian 50.000 kaki.
Ketinggian ini berada jauh di atas batas jalur jelajah pesawat komersial yang umumnya berada pada rentang 30.000 hingga 35.000 kaki dengan batas maksimum sekitar 40.000 kaki, sehingga awan abu berisiko tinggi membahayakan pesawat yang melintas.
Mengutip penjelasan pengamat penerbangan Alvin Lie dari Liputan6.com, abu vulkanik terdiri dari partikel yang sangat keras dan tajam sehingga berdampak fatal pada armada udara. Selain menggores kaca kokpit dan membatasi jarak pandang pilot, abu tersebut berpotensi menyumbat pitot tube atau tabung sensor pengukur kecepatan dan ketinggian.
Kerusakan pada sensor ini dapat mengacaukan data navigasi dan orientasi terbang. Tak hanya itu, residu abu juga dapat mengganggu komponen mekanis seperti flap, aileron, dan elevator yang mengendalikan arah pesawat. Risiko paling berbahaya terjadi jika abu terhisap ke dalam mesin, karena dapat mengganggu proses pembakaran hingga menyebabkan mesin mati total di udara.
Advertisement
Rekam Jejak Sejarah Insiden Abu Vulkanik, British Airways Flight 009
Ancaman fatal abu vulkanik terhadap penerbangan terbukti dari rekam jejak sejarah, salah satunya insiden British Airways Flight 009 pada 24 Juni 1982. Pesawat Boeing 747 rute London–Auckland tersebut sempat kehilangan fungsi keempat mesinnya secara bersamaan setelah menerobos awan abu vulkanik Gunung Galunggung di atas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.
Pilot akhirnya harus menerbangkan pesawat dengan teknik meluncur tanpa mesin hingga keluar dari awan abu. Setelah berhasil turun ke ketinggian 10.000 kaki, keempat mesin pesawat dapat dinyalakan kembali dan berhasil mendarat darurat dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.