Anak Krakatau Erupsi, Benarkah Bisa Picu Tsunami?

Letusan yang menyemburkan kolom abu setinggi 200 meter di atas puncak ini tak pelak kembali membangkitkan memori kelam masyarakat terkait ancaman bahaya tsunami.

Azzura Galexia
Oleh Azzura Galexia - Reporter
Anak Krakatau Erupsi, Benarkah Bisa Picu Tsunami?
Gunung Anak Krakatau Erupsi (Dok. Istimewa)

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda Kembali erupsi. Letusan yang menyemburkan kolom abu setinggi 200 meter di atas puncak ini tak pelak kembali membangkitkan memori kelam masyarakat terkait ancaman bahaya tsunami.

Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu dari enam gunung api yang mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026. Saat itu, letusan menyemburkan kolom abu setinggi sekitar 200 meter di atas puncak.

Aktivitas tersebut kembali menjadi perhatian, terutama bagi masyarakat yang tinggal di pesisir Banten dan Lampung. Pasalnya, Anak Krakatau memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang pernah memicu tsunami.

Namun, apakah setiap erupsi Anak Krakatau otomatis berarti ancaman tsunami?

Apakah setiap erupsi Anak Krakatau otomatis berarti ancaman tsunami?

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi, Rita Susilawati, meminta masyarakat tidak langsung mengaitkan erupsi kali ini dengan potensi tsunami.

Menurut Rita, erupsi gunung api tidak serta-merta menghasilkan tsunami. Tsunami akibat aktivitas vulkanik dapat terjadi dalam kondisi tertentu, misalnya ketika terjadi longsoran material gunung api ke laut atau perubahan besar pada tubuh gunung yang menyebabkan perpindahan massa air. Karena itu, munculnya letusan atau kolom abu saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tsunami akan terjadi.

"Kami sangat memahami kekhawatiran masyarakat karena histori tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau di masa lalu. Namun, perlu kami tegaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau ini tidak otomatis menimbulkan tsunami," kata Rita melalui keterangannya di Kota Bandung pada Rabu (2/9).

Masyarakat juga diminta tidak menentukan tingkat bahaya hanya berdasarkan apa yang terlihat dari jauh. Aktivitas gunung api dinilai berdasarkan berbagai parameter ilmiah.

Bagaimana PVMBG Menilai Bahayanya?

Penentuan status gunung api tidak hanya melihat tinggi rendahnya kolom abu atau besar kecilnya letusan.

PVMBG mengevaluasi sejumlah indikator, antara lain aktivitas kegempaan, perubahan bentuk atau deformasi tubuh gunung, pelepasan gas vulkanik, perkembangan aktivitas erupsi dan potensi ancaman terhadap keselamatan masyarakat.

Hingga 2 September 2026, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Status tersebut telah berlaku sejak 2 Juli 2026.

Radius 3 Kilometer Masih Terlarang

PVMBG tetap menetapkan batas aman bagi masyarakat di sekitar gunung. Masyarakat, nelayan, maupun wisatawan dilarang mendekati atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif Anak Krakatau. Larangan tersebut merupakan langkah pencegahan terhadap bahaya langsung dari aktivitas gunung api, terlepas dari ada atau tidaknya potensi tsunami.

 

Mengapa Riwayat Tsunami Anak Krakatau Sering Diingat?

Kekhawatiran masyarakat tidak muncul tanpa alasan. Anak Krakatau berada di kawasan Selat Sunda dan memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang berkaitan dengan tsunami. Karena itu, setiap peningkatan aktivitas gunung api tersebut wajar menjadi perhatian masyarakat di Banten dan Lampung.

Namun, kondisi setiap erupsi berbeda. Potensi tsunami harus dinilai berdasarkan kondisi gunung dan data pemantauan terkini, bukan semata-mata berdasarkan pengalaman masa lalu.

 

Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?

Masyarakat di sekitar Selat Sunda tidak perlu panik, tetapi tetap harus waspada dan mengikuti informasi resmi.

Langkah yang dapat dilakukan antara lain mematuhi larangan beraktivitas dalam radius yang ditetapkan, tidak mendekati kawasan kawah aktif, mengikuti informasi terbaru mengenai status Gunung Anak Krakatau, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi danmengikuti instruksi pemerintah daerah serta petugas kebencanaan jika terjadi perubahan kondisi.

PVMBG juga mengimbau masyarakat merujuk pada kanal informasi resmi, termasuk aplikasi MAGMA Indonesia, untuk memperoleh informasi mengenai aktivitas gunung api.

Rekomendasi