Sebanyak 431 santri Pondok Pesantren (Ponpes) Manbaul Hikam harus mendapat penanganan medis setelah diduga mengalami keracunan makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jumlah tersebut merupakan bagian dari sekitar 1.000 santri yang menyantap menu MBG pada hari kejadian.
Pengasuh Ponpes Manbaul Hikam, KH Abdul Wahid Harun, mengatakan kondisi para santri yang terdampak berbeda-beda. Sebagian harus menjalani perawatan di rumah sakit, sementara santri lainnya mendapat penanganan sesuai kondisi masing-masing.
"Santri sekitar 1.000, ya. Hari ini yang dievakuasi ke rumah sakit 431. Ya, kondisi kekuatan fisik masing-masing santri beda-beda," ujar Wahid.
Advertisement
SPPG Dikelola Pihak Luar
Wahid menyebut peristiwa tersebut tidak pernah diperkirakan oleh pihak pesantren. Ia juga menegaskan makanan yang dikonsumsi para santri bukan diproduksi oleh pihak pondok.
Menurut dia, menu MBG tersebut disiapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah yang berada di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Pesantren, lanjut Wahid, hanya menjadi penerima manfaat program tersebut.
"SPPG, bukan ditangani pesantren, tapi dari beliau, dari (SPPG) Kalitengah dan kami hanya menerima manfaat saja. Tidak benar kalau SPPG itu ada di pondok, tidak benar," katanya.
Pihak pesantren kini memprioritaskan pendampingan terhadap santri yang menjalani perawatan sekaligus memberikan penjelasan kepada para wali santri. Wahid mengatakan pengurus berupaya menjaga suasana tetap kondusif agar keluarga santri tidak semakin khawatir.
Ia mengajak seluruh pihak menghadapi kejadian tersebut dengan tenang dan tetap berpikir positif.
"Kami sudah mendampingi beliau-beliau, semua sudah paham. Mungkin Anda akan naik kelas (naik derajat). Berkah dari musibah ya. Kita positive thinking saja pada Allah," tuturnya.
Advertisement
Kegiatan Belajar Tergantung Kondisi Santri
Untuk kegiatan belajar-mengajar, pihak pesantren belum menentukan langkah selanjutnya. Wahid mengatakan keputusan akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi para santri dan penanganan kasus tersebut.
"Wait and see, lihat situasi. Tapi semua harus tertangani secara tuntas, ya," ujarnya.
Pesantren juga telah menyiapkan posko pemantauan. Sejumlah pengurus ditugaskan untuk memantau santri yang masih berada di lingkungan pondok maupun mereka yang menjalani perawatan, baik rawat inap maupun rawat jalan.
"Ya di sana ada posko. Ada posko dan pengurus-pengurus juga ikut memantau di tempat rumah sakit di mana anak-anak santri dirawat inap, ada yang rawat jalan," tambahnya.