Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu (26/8/2026) di Yonif 834/WM, Kabupaten Nagekeo. Rapat ini membahas laporan terkini mengenai kondisi pascagempa, jumlah pengungsi, serta penanganan warga yang terdampak.
Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya membuka rapat dengan menyampaikan kehadiran sejumlah pejabat penting, termasuk Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Menteri Dalam Negeri, Kapolri, Wakil Panglima TNI, serta Forkopimda dan Gubernur NTT. Teddy kemudian mempersilakan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto untuk memberikan penjelasan lebih lanjut.
Kepala BNPB Suharyanto melaporkan bahwa tujuh kabupaten di NTT terdampak gempa dengan magnitudo 7 yang terjadi beberapa waktu lalu, termasuk Kabupaten Nagekeo. Dia menyampaikan bahwa total gempa yang tercatat mencapai 7.259 kali dari tanggal 15 Agustus hingga Rabu siang.
“Hari ini, Bapak Kepala BMKG sudah memiliki data terbaru. Untuk gempanya sendiri, jumlahnya 7.259 kali,” ungkap Suharyanto, seperti yang disiarkan di YouTube Sekretariat Presiden.
Meski demikian, Suharyanto menegaskan bahwa tidak ada lagi gempa susulan dengan magnitudo di atas 7 setelah kejadian pada 15 Agustus 2026. Dia mencatat bahwa terdapat 143 kali gempa susulan dengan magnitudo 6,2 sejak tanggal tersebut.
“Dari mulai tanggal 15 sampai sekarang, jika hari ini hanya tinggal satu kali,” jelasnya.
Di sisi lain, Prabowo juga menerima laporan mengenai jumlah korban meninggal dunia akibat gempa di NTT, yang mencapai 105 orang per Rabu (26/8/2026). Korban terdiri dari orang dewasa, anak-anak, hingga lansia.
“Kami laporkan bahwa korban yang terkena langsung akibat gempa adalah 48 orang. Kemudian ada tambahan 57 orang, ini berdasarkan data lengkap dari operasi SAR yang dilakukan oleh Basarnas, serta mereka yang dirawat di fasilitas kesehatan yang tidak selamat, termasuk yang mengalami trauma, lansia, dan anak-anak,” kata Suharyanto, menambahkan bahwa total korban meninggal kini mencapai 105 orang.