Dihantui Kabut Asap Pontianak

Kekhawatiran orang tua itu bukan tanpa alasan. Anak-anak belum sepenuhnya memahami bahaya asap. Mereka juga tetap berpotensi bermain dan beraktivitas di luar ruangan selama berada di sekolah.

Muhamad Agil Aliansyah
Oleh Muhamad Agil Aliansyah - Reporter
Dihantui Kabut Asap Pontianak
Petugas membagikan masker untuk warga mengantisipasi paparan asap kebakaran hutan dan lahan. (Foto Antara).

Pagi di Pontianak seharusnya menjadi awal rutinitas. Anak-anak bersiap mengenakan seragam, menggendong tas, lalu berangkat menuntut ilmu. Namun, ketika udara kembali diselimuti kabut asap, rutinitas itu berubah menjadi kekhawatiran.

Bagi Rahmawati, orang tua siswa kelas 2 MIN 4 Pontianak, mengantar anak ke sekolah dalam kondisi seperti ini bukan perkara sederhana. Dalam tiga hari terakhir, ia melihat asap kembali semakin pekat. Sebelumnya, sekolah sempat diliburkan, tetapi kegiatan belajar kemudian kembali berlangsung seperti biasa.

Rahmawati berharap pemerintah kembali mempertimbangkan kebijakan belajar dari rumah atau pembelajaran daring jika kondisi udara memburuk.

“Kalau kondisi mulai pekat lagi, saya berharap kembali sekolah diliburkan atau belajar dari rumah saja secara daring,” ujar Rahmawati di Pontianak, Jumat (21/8), dikutip Antara.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Anak-anak, kata Rahmawati, belum sepenuhnya memahami bahaya asap. Mereka juga tetap berpotensi bermain dan beraktivitas di luar ruangan selama berada di sekolah.

Dia takut paparan udara buruk memicu gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Ribuan Titik Panas

Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat pada Agustus 2026 berkaitan dengan kebakaran lahan di berbagai daerah.

Berdasarkan pemantauan pada 20 Agustus 2026, sebanyak 3.759 titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat. Dari jumlah tersebut, 224 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 3.389 titik tingkat kepercayaan menengah, dan 146 titik tingkat kepercayaan rendah.

Ketapang menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, mencapai 1.795 titik. Disusul Sanggau 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik, dan Melawi 190 titik.

Menariknya, pada periode pemantauan tersebut tidak ditemukan titik panas di Kota Pontianak. Namun, bukan berarti warga ibu kota Kalimantan Barat terbebas dari dampak asap.

Titik panas sendiri terdeteksi menggunakan sensor VIIRS dan MODIS yang terpasang pada sejumlah satelit, di antaranya NOAA-20, S-NPP, Terra, dan Aqua. Sensor tersebut menangkap anomali suhu panas dibandingkan kondisi di sekitarnya.

Angka Kualitas Udara Membuat Cemas

Di Pontianak, persoalan justru terasa pada kualitas udara yang dihirup warga.

Data IQAir pada 21 Agustus 2026 pukul 09.00 WIB menunjukkan indeks kualitas udara (AQI⁺ US) Pontianak mencapai 491, atau masuk kategori “Berbahaya” (Hazardous).

Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 321 mikrogram per meter kubik. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan paparan dalam jumlah tinggi berisiko mengganggu kesehatan pernapasan serta jantung.

Pada saat itu, suhu Pontianak sekitar 31 derajat Celsius, dengan kecepatan angin 8 kilometer per jam dan kelembapan 51 persen.

Meski diperkirakan menurun, kualitas udara masih berada pada level sangat tinggi. AQI diproyeksikan berada di angka 466 pada pukul 10.00 WIB, kemudian 440 pada pukul 11.00, 413 pada pukul 12.00, 385 pada pukul 13.00, dan 358 pada pukul 14.00 WIB.

 

Antara Sekolah dan Kesehatan Anak

Di tengah angka-angka tersebut, keresahan orang tua menemukan bentuk paling sederhana: apakah anak harus tetap berangkat sekolah ketika udara di luar sedang tidak sehat?

Bagi Rahmawati, pilihan belajar daring sementara dapat menjadi jalan untuk mengurangi risiko paparan asap, terutama bagi anak-anak yang belum mampu melindungi dirinya sendiri dari bahaya polusi.

Sementara keputusan pemerintah masih menjadi harapan para orang tua, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya aktivitas fisik berat, ketika kualitas udara berada pada kondisi sangat buruk.

Pemantauan kualitas udara juga penting dilakukan secara berkala. Sebab, kondisi udara dapat berubah mengikuti cuaca, arah angin, kecepatan angin, serta perkembangan sumber polusi.

Di Pontianak, kabut asap mungkin akan kembali menipis ketika angin berubah. Namun, bagi para orang tua, kekhawatiran terhadap udara yang dihirup anak-anak belum serta-merta ikut menghilang.

Rekomendasi