Cerita Desa di Lereng Merapi, Kelola Mata Air Beromzet Rp26 Miliar hingga Gratiskan BPJS Warga

Wunut adalah desa mandiri di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terkenal karena kesuksesan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mengelola sumber mata air alami Umbul Pelem.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Cerita Desa di Lereng Merapi, Kelola Mata Air Beromzet Rp26 Miliar hingga Gratiskan BPJS Warga
Desa Wunut Klaten sukses kelola mata air beromzet Rp26 miliar. (merdeka.com/Arie Sunaryo).

Desa Wunut di Lereng Timur Gunung Merapi mendadak viral setelah membagikan Tunjangan Hari Raya (THR) ratusan ribu rupiah per jiwa kepada seluruh warganya saat Idulfitri 2026. Wunut adalah desa mandiri di Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terkenal karena kesuksesan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) mengelola sumber mata air alami Umbul Pelem.

Kesuksesan Desa Wunut dipimpin Kepala Desa Iwan Sulistiya Setiawan mengelola Umbul Pelem diawali sekitar 10 tahun lalu. Dengan modal dana desa Rp2,4 miliar, Iwan bersama perangkat desa lainnya memutar otak agar uang tersebut berkembang dan kembali ke rakyat. Kini, berkat pengelolaan BUMDes Sumber Kamulyan, omzet desa itu tembus Rp26 miliar pada 2025.

"Umbul Pelem ini kan status tanahnya kas desa, bengkok Kepala Desa dan Kasi Pemerintahan. Dulu hamparan tanaman cenil, selada. Diawal saya jadi kepala desa tahun 2007, kita biarkan. Tahun 2015 ada dana desa, kita buat masterplan dan kita sampaikan ke musyawarah desa. Dan Alhamdulillah diterima. Tahun 2016 mulai kita bangun dari dana desa," ujar Iwan saat ditemui merdeka.com, Selasa (18/8).

"Dana desa yang dialokasikan di Umbul Pelem itu sekitar Rp2,4 miliar. Alhamdulillah dari Rp2,4 miliar ini sampai tahun 2025 kemarin omzetnya sudah Rp26 miliar. Jadi di tahun kedua itu modal sudah kembali," sambung Iwan.

Yang lebih mengejutkan, sebagian besar keuntungan itu dikembalikan ke warga dalam bentuk THR, BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, bahkan santunan kematian hingga Rp90 juta.

Desa Wunut Klaten sukses kelola mata air beromzet Rp26 miliar. (merdeka.com/Arie Sunaryo).
Desa Wunut Klaten sukses kelola mata air beromzet Rp26 miliar. (merdeka.com/Arie Sunaryo).

Bermula dari Umbul Pelem

BUMDes Sumber Kamulyan didirikan tahun 2016. Usaha pertama yang digarap adalah wisata air Umbul Pelem Waterpark yang mulai dibuka 2018 di atas lahan 9.000 meter persegi.

Awalnya pengunjung hanya 100 orang per hari. Kini, di hari biasa bisa 500-1.000 orang. Saat libur sekolah tembus 3.000 orang. Puncaknya Sabtu-Minggu bisa 7.000 pengunjung per hari.

Di Umbul Pelem ada 6 kolam, yakni kolam dewasa, anak, balita, waterboom, mandi busa, hingga terapi ikan. Tiketnya Rp8.000 di weekday dan Rp10.000 saat weekend.

Para pengunjung di kolam ini didominasi kalangan dewasa saat pagi buta. Bahkan tak sedikit pensiunan asal Kota Solo dan sekitar yang datang usai subuh untuk berenang.

"Kita punya grup WhatsApp. Pukul 05.00 WIB sudah mulai berenang. Ada yang cuma berendam sambil jalan kaki. Ini bagian dari terapi untuk kami-kami yang sudah berumur," ucap Agus Sunarto warga Banyuanyar Solo.

Tak berhenti di situ. Desember 2025 lalu, Desa Wunut membuka wisata baru bernama Umbul Gede. Di lokasi baru ini kolam renang pria dan wanita dipisah. Tiketnya lebih murah, Rp6.000 weekday dan Rp8.000 weekend.

Namun tak seperti Umbul Pelem, Umbul Gede yang juga memiliki kejernihan air layaknya kaca yang sangat dingin, relatif lebih sepi. Kolam tertutup khusus untuk kaum hawa lebih diminati.

"Mungkin karena masih baru mas, banyak yang belum tahu," ungkap Wiwid, penjaga loket masuk.

Desa Wunut Klaten sukses kelola mata air beromzet Rp26 miliar. (merdeka.com/Arie Sunaryo).
Desa Wunut Klaten sukses kelola mata air beromzet Rp26 miliar. (merdeka.com/Arie Sunaryo).

Punya Peternakan hingga Perikanan

Selain wisata, dikatakan Iwan, BUMDes Wunut juga merambah unit usaha ketahanan pangan. Ada peternakan ayam, budidaya ikan nila, dan pertanian.

"Kita mulai membangunnya 2016 menggunakan dana desa. Dana desa yang kita alokasikan di BUMDes itu sekitar Rp2,4 miliar secara bertahap," jelas Iwan.

 

Desa Wunut Klaten sukses kelola mata air beromzet Rp26 miliar. (merdeka.com/Arie Sunaryo).
Desa Wunut Klaten sukses kelola mata air beromzet Rp26 miliar. (merdeka.com/Arie Sunaryo).

Keuntungan Diputar untuk Kesejahteraan Warga

Inilah yang membuat Desa Wunut beda. Dari 2.343 jiwa penduduk, semua mendapat 'jatah' dari BUMDes.

Tahun 2026 total dana THR yang dikucurkan Rp585.250.000. Naik dari tahun lalu yang Rp200.000. Pemerintah desa berbagi rezeki karena warga turut berpartisipasi dalam merawat dan mengembangkan objek wisata yang dikelola desa.

"Tahun ini total anggaran kita siapkan Rp585.250.000 untuk 2.341 jiwa. Tahun kemarin kita memberikan per jiwa per orang Rp200.000. Untuk tahun ini kita naikkan jadi Rp250.000," kata dia.

Pendapatan objek wisata Umbul Pelem tahun 2025 tercatat mencapai Rp5,1 miliar, meningkat dibandingkan tahun 2024 yang sebesar Rp4,7 miliar.

"Untuk pendapatan tahun ini (2025) Umbul Pelem Rp5,1 miliar. Dibandingkan tahun 2024 ada kenaikan sekitar Rp400 juta. Jadi yang kita bagikan pendapatan tahun 2025," ujar Iwan.

"BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan gratis Premi dibayar desa dari pendapatan BUMDes," imbuh dia.

 

Desa Wunut Klaten sukses kelola mata air beromzet Rp26 miliar. (merdeka.com/Arie Sunaryo).
Desa Wunut Klaten sukses kelola mata air beromzet Rp26 miliar. (merdeka.com/Arie Sunaryo).

Jika ada warga yang meninggal namun tidak bekerja akan mendapatkan santunan Rp42 juta. Nanun jika meninggal dalam kondisi bekerja dapat hampir Rp90 juta.

"Kenapa kita memutuskan untuk memberikan THR terus kemudian BPJS. Itu tak lain kan kita ingin hadir di tengah masyarakat di saat senang maupun susah," ucap Iwan.

"Kalau kesehatan kalau sakit kan sudah bisa dipakai untuk berobat gratis. Kalau ketenagakerjaan, ketika kecelakaan kerja baik dia pedagang, petani, buruh, bisa di-cover," tambah dia.

Dengan jam operasional Umbul Pelem pukul 05.00-16.00 WIB dan Umbul Gede pukul 06.00-16.00 WIB, Desa Wunut di lereng Merapi ini membuktikan bahwa mengelola sumber daya lokal bisa mengangkat kesejahteraan satu desa.

Rekomendasi