Penjelasan soal Sesar Naik Busur Belakang Flores, Jadi Pemicu Gempa NTT

Gempa M 7,7 di NTT dikaitkan dengan Sesar Naik Busur Belakang Flores. Ahli geologi memaparkan karakter sesar, potensi magnitudo, dan kaitannya dengan tsunami.

Luqman Rimadi
Oleh Luqman Rimadi - Reporter
Penjelasan soal Sesar Naik Busur Belakang Flores, Jadi Pemicu Gempa NTT
Kerusakan di Manggarai dan Sikka akibat gempa M7,0 Guncang NTT (Foto: Istimewa)

Gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) dikaitkan dengan aktivitas Sesar Naik Busur Belakang Flores, struktur tektonik aktif di dasar laut kawasan Nusa Tenggara.

Dosen Teknik Geologi Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMat), Aji Syailendra, menyebut keberadaan sesar ini menjadi salah satu kunci untuk memahami tingginya aktivitas gempa di wilayah tersebut.

"Sesar Naik Busur Belakang Flores merupakan struktur tektonik aktif yang penting dalam memahami potensi gempa dan bencana geologi di Nusa Tenggara," ujar Aji dalam keterangannya di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (15/8/2026).

Pusat Gempa di Laut, Potensi Tsunami Diwaspadai

Gempa M 7,7 pada Sabtu berpusat di laut pada koordinat 8,41 derajat Lintang Selatan dan 121,39 derajat Bujur Timur, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.

Posisi sumber gempa yang berada di laut membuat aktivitas pada Sesar Naik Busur Belakang Flores perlu dikaitkan dengan potensi tsunami. Aji menjelaskan, pergerakan sesar naik di dasar laut dapat menyebabkan perubahan vertikal dasar laut; bila cukup besar, kolom air di atasnya terdorong sehingga berpotensi memicu tsunami.

Pada kejadian kali ini, BMKG sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami. Peringatan tersebut kemudian dicabut setelah hasil pemantauan menunjukkan tidak ada lagi kenaikan muka air laut yang signifikan.

Sistem Memanjang Hingga Bali, Potensi M 7,8–M 7,9

Sesar Naik Busur Belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust berada di dasar laut di sebelah utara Pulau Flores dan memanjang ratusan kilometer hingga kawasan Sumbawa, Lombok, dan Bali.

Sebagai sesar naik, pergerakan terjadi ketika satu blok batuan terdorong naik terhadap blok lainnya. Jika tekanan tektonik yang terakumulasi dilepaskan secara tiba-tiba, energi tersebut dapat menghasilkan gempa bumi dengan kekuatan besar.

Menurut Aji, sistem Sesar Naik Busur Belakang Flores memiliki potensi menghasilkan gempa sekitar Magnitudo 7,8 hingga 7,9.

Jejak Sistem Sama: Flores 1992 dan Lombok 2018

Gempa yang mengguncang NTT pada Sabtu disebut Aji berkaitan dengan sistem sesar yang sama dengan sumber gempa besar di kawasan Nusa Tenggara sebelumnya.

"Kalau dilihat dari aspek geologi, ini merupakan sistem sesar yang sama dengan yang menyebabkan gempa Flores 1992 dan rangkaian gempa Lombok 2018," kata Aji.

Risiko tsunami terkait sistem ini pernah terjadi pada 12 Desember 1992. Gempa saat itu memicu tsunami yang menerjang Maumere dan Pulau Babi, dengan ketinggian gelombang mencapai sekitar 26 meter serta menewaskan lebih dari 2.500 orang.

"Dari sudut pandang geologi, Nusa Tenggara bukan sekadar wilayah yang sering gempa. Kawasan itu berada pada zona tektonik aktif dengan berbagai potensi bencana geologi mulai dari gempa bumi hingga tsunami," ujar Aji.

Rekomendasi