Gempa bumi magnitudo 7,4 mengguncang wilayah barat Kolombia pada Senin (10/8/2026). Guncangan tersebut berpusat di sekitar San José del Palmar, Provinsi Chocó, dan menewaskan sedikitnya 132 orang serta merusak sejumlah bangunan.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono mengatakan, Gempa Kolombia menjadi gambaran penting untuk memahami mekanisme gempa yang bersumber dari dalam lempeng tersubduksi serta konsekuensinya terhadap struktur bangunan di kawasan perkotaan.
"Gempa Kolombia Mw 7,4 memberikan pemahaman dan gambaran komprehensif mengenai mekanisme seismotektonik lempeng penunjam serta dampaknya terhadap kegagalan struktur di kawasan perkotaan," kata Daryono, Senin.
Berdasarkan parameter gempa, episenter berada pada koordinat 4,844° Lintang Utara dan 76,242° Bujur Barat, sekitar 5 kilometer di selatan San José del Palmar. Sementara itu, sumber gempa berada pada kedalaman sekitar 110,3 kilometer.
Dengan kedalaman tersebut, gempa Kolombia masuk dalam kategori gempa menengah atau intermediate-depth earthquake. Posisi sumber yang cukup dalam ini berkaitan erat dengan proses tektonik yang berlangsung di kawasan tersebut.
Daryono menjelaskan, gempa itu terjadi dalam lingkungan subduksi aktif yang membentang di kawasan Kolombia-Ekuador-Peru-Chili. Di zona ini, Lempeng Samudra Nazca terus bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Benua Amerika Selatan.
Meski berada dalam sistem subduksi, sumber gempa Kolombia bukan berasal dari bidang pertemuan kedua lempeng atau zona megathrust. Energi justru dilepaskan akibat deformasi yang terjadi di bagian dalam lempeng Nazca yang telah masuk ke bawah lempeng Amerika Selatan.
Jenis gempa seperti ini disebut gempa intraslab. Artinya, patahan yang memicu gempa terjadi di dalam tubuh lempeng yang telah tersubduksi, bukan pada batas kontak antarlempeng.
"Berbeda dengan gempa di zona megathrust yang terjadi tepat pada bidang sentuh atau kontak gesekan antara dua lempeng tektonik, gempa intraslab ini justru bersumber dari pelepasan energi atau rekahan yang terjadi jauh di bagian dalam lempeng itu sendiri," ujar Daryono.
Di kedalaman sekitar 110 kilometer, lempeng Nazca yang telah menunjam masih relatif kuat, padat, dan dingin dibandingkan material mantel di sekitarnya. Pada saat yang sama, lempeng tersebut terus tertarik ke bawah akibat gaya gravitasi atau slab pull dan mengalami pembengkokan ketika bergerak memasuki bagian mantel Bumi yang lebih dalam.
Gerakan tersebut membuat bagian dalam lempeng mengalami tekanan dan regangan secara terus-menerus. Ketika akumulasi tegangan telah melampaui kemampuan batuan untuk menahannya, batuan dapat mengalami patahan secara tiba-tiba. Pelepasan energi inilah yang kemudian menghasilkan gelombang seismik dan mengguncang permukaan.
Advertisement
Mengapa Guncangannya Bisa Merusak?
Salah satu karakter penting gempa intraslab adalah bagaimana energi seismiknya merambat dari sumber gempa menuju permukaan.
Gelombang seismik yang dilepaskan di dalam slab litosfer yang relatif kaku, padat, dan dingin dapat merambat dengan efisien. Kondisi tersebut membuat pelemahan atau atenuasi gelombang relatif rendah, sehingga energi seismik, terutama pada frekuensi yang dapat berdampak terhadap bangunan, dapat menjangkau wilayah yang luas.
Akibatnya, meskipun sumber gempa berada pada kedalaman lebih dari 100 kilometer, guncangannya tetap dapat dirasakan dan menimbulkan kerusakan di wilayah yang jauh dari episenter.
Selain itu, kedalaman menengah memungkinkan energi gempa dipancarkan ke wilayah yang luas. Kondisi tersebut dapat menghasilkan area guncangan yang besar hingga ratusan kilometer dari episenter.
Karakteristik kedalaman ini juga membuat gempa tersebut berbeda dari gempa dangkal di dasar laut yang berpotensi menggeser dasar laut secara signifikan dan memicu tsunami. Pada kasus gempa intraslab seperti ini, ancaman utama berada pada guncangan tanah, bukan tsunami.
Advertisement
Guncangan Memukul Struktur Bangunan
Guncangan kuat yang tiba di permukaan menghasilkan percepatan tanah atau Peak Ground Acceleration (PGA) yang dapat memberikan gaya inersia besar terhadap bangunan.
Pada bangunan bertingkat, terutama struktur yang tidak dirancang atau tidak dibangun sesuai standar ketahanan gempa, gaya lateral tersebut dapat menyebabkan simpangan antarlantai atau drift yang melampaui kapasitas struktur.
Salah satu bentuk kegagalan yang dapat terjadi adalah soft-story failure, ketika salah satu lantai memiliki kekakuan atau kekuatan yang jauh lebih rendah dibandingkan lantai lainnya. Kondisi ini dapat membuat lantai tersebut mengalami keruntuhan lebih dahulu dan kemudian memicu kerusakan pada bagian bangunan lainnya.
Dalam kondisi yang lebih parah, kegagalan elemen struktur dapat berkembang menjadi keruntuhan progresif hingga pancake collapse, ketika lantai-lantai bangunan runtuh secara bertingkat.
Material beton dan pasangan bata yang mengalami keruntuhan secara tiba-tiba juga dapat menghasilkan falling debris dalam jumlah besar. Reruntuhan tersebut memenuhi jalan dan kawasan permukiman, sementara material yang hancur dapat membentuk kepulan debu pekat atau dust plume yang mengganggu jarak pandang.
Risiko pascagempa juga dapat bertambah apabila kerusakan bangunan diikuti gangguan pada jaringan energi yang memicu kebakaran. Kondisi tersebut membuat situasi di kawasan padat penduduk menjadi semakin kompleks.
Rangkaian kerusakan itu kemudian mendorong warga berhamburan keluar bangunan untuk menyelamatkan diri. Di tengah puing, debu, kepanikan, dan kemungkinan gempa susulan, proses evakuasi pun dapat menjadi lebih sulit.
Advertisement
Bukan Pertama Kali Kolombia Diguncang Gempa Dahsyat
Kolombia merupakan salah satu kawasan yang memiliki aktivitas tektonik kompleks. Sejarah mencatat sejumlah gempa besar yang menimbulkan korban dan kerusakan luas.
Pertama, Gempa Kolombia-Ekuador Mw 8,8 pada 1906. Gempa kuat di lepas pantai perbatasan Ekuador dan Kolombia ini memicu tsunami dan dilaporkan menewaskan hingga sekitar 1.500 orang.
Kedua, Gempa Cúcuta Mw 7,9 pada 1875 yang terjadi di dekat perbatasan Kolombia-Venezuela. Gempa tersebut menyebabkan kerusakan besar dan menewaskan sekitar 10.000 orang.
Ketiga, Gempa Armenia Mw 6,2 pada 1999 yang mengguncang kawasan kopi atau Eje Cafetero. Gempa ini menewaskan lebih dari 1.900 orang dan menyebabkan kerusakan luas.
Keempat, Gempa Chocó Mw 7,4 pada 2026. Gempa yang terjadi pada 10 Agustus 2026 ini berpusat di sekitar San José del Palmar dan menimbulkan kerusakan bangunan serta korban jiwa yang sementara tercatat mencapai 132 orang.
Advertisement
Pelajaran Penting bagi Indonesia
Menurut Daryono, pengalaman Kolombia menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Kedua negara sama-sama berada pada lingkungan tektonik aktif yang dipengaruhi proses subduksi.
Indonesia memiliki sistem penunjaman lempeng yang membentang dari barat Sumatra, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara hingga kawasan Indonesia timur. Karena itu, sumber ancaman gempa di Indonesia tidak hanya berasal dari zona megathrust atau sesar aktif di dekat permukaan.
Gempa intraslab berkedalaman menengah juga perlu menjadi bagian dari perhitungan risiko. Gempa jenis ini dapat menghasilkan guncangan kuat dengan jangkauan wilayah terdampak yang luas, meskipun sumbernya berada jauh di bawah permukaan.
"Ancaman gempa tidak hanya bersumber dari zona megathrust atau sesar aktif permukaan, melainkan juga dari fenomena intraslab kedalaman menengah yang mampu memancarkan guncangan berfrekuensi tinggi dengan spektrum wilayah terdampak yang sangat luas," kata Daryono.
Karena itu, mitigasi tidak cukup hanya berfokus pada pemetaan sumber gempa. Ketahanan bangunan juga menjadi faktor kunci dalam mengurangi korban.
Audit terhadap penerapan standar bangunan tahan gempa atau building code perlu dilakukan secara konsisten, terutama pada bangunan yang berada di kawasan dengan tingkat ancaman seismik tinggi. Pemetaan risiko juga perlu memasukkan sumber gempa dalam-lempeng serta memperhitungkan karakter guncangan yang dapat dihasilkannya.
Di sisi lain, kesiapsiagaan masyarakat perlu diperkuat bukan hanya untuk menghadapi guncangan utama, tetapi juga berbagai dampak ikutannya, seperti runtuhan bangunan, falling debris, gangguan akses jalan, hingga potensi kebakaran.