Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Gunung Bromo dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) diperluas ke dua titik baru hari ini.
"Jadi, sekarang kan masih dalam upaya pemadaman, kemarin 34 titik, sekarang ada dua titik di B30 perbatasan Probolinggo, Malang, ada lagi di lembah itu, mudah-mudahan hari ini bisa selesai," kata Suharyanto ditemui usai rapat bersama Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago di Jakarta, Senin (10/8), demikian dikutip dari Antara.
Ia menegaskan, hingga saat ini wilayah TNBTS memang masih ditutup untuk alasan keamanan. Sementara itu, upaya pemadaman terus diperluas ke titik-titik api yang hingga kini masih menyebar.
"TNBTS masih ditutup karena kan sampai betul-betul yakin dan aman. Kita akan lihat terus kondisinya paling tidak seminggu begitu, nanti baru dievaluasi, kalau tidak ada kebakaran lagi, mungkin segera bisa dibuka kembali," ujar dia.
Suharyanto menjelaskan, fenomena panas akibat El Nino memang meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), utamanya di wilayah padang savana yang didominasi vegetasi ilalang, rumput, hingga semak-semak seperti di wilayah Gunung Bromo yang sangat kering.
"Ketika El Nino, panas, untung sekarang ini kan belum puncak, dulu waktu puncak di Jawa Timur itu tiga gunung yang kebakaran, yakni Bromo, Arjuno, Lawu, tahun 2023. Nah, kemudian sekarang tahun 2026 ini yang gunung-gunung (kebakaran) kan Pangrango, Rinjani, Bromo, mudah-mudahan lah tidak seperti tahun 2023," ucap Suharyanto.
Di sisi lain, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu pemadaman karhutla di TNBTS hingga saat ini belum bisa dilakukan.
Advertisement
Kendala Pemadaman
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut, Satyawan Pudyatmoko mengatakan bahwa kendala tersebut terjadi karena ketersediaan awan konvektif yang menjadi syarat operasi modifikasi cuaca belum terbentuk di wilayah Bromo.
OMC merupakan intervensi untuk meningkatkan potensi hujan dengan cara menyemai garam atau Natrium Klorida (NaCl) ke gumpalan awan menggunakan pesawat khusus berbasis data ilmiah yang melibatkan tim ahli Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan TNI Angkatan Udara.
"Sebenarnya kita sudah berpikir untuk melakukan modifikasi cuaca, tetapi menurut BMKG paling tidak sampai 10 hari ke depan belum mungkin dilakukan karena awan konveksinya belum terbentuk untuk membuat OMC," kata Satyawan kepada ANTARA di Taman Wisata Alam Angke, Jakarta, Senin (10/8).