Sorong, Papua Barat Daya – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Papua Barat Daya mengeluarkan peringatan serius kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Peringatan ini terkait potensi kebakaran lahan yang meningkat seiring dengan suhu yang kian panas dan kondisi kemarau di wilayah tersebut.
Kepala DLH Papua Barat Daya, Julian Kelly Kambu, di Sorong pada Sabtu (08/8), menegaskan bahwa perubahan iklim yang semakin ekstrem berpotensi besar memicu risiko kebakaran. Risiko ini dapat berasal dari aktivitas manusia maupun faktor alam.
“Kita perlu ada kewaspadaan dan kehati-hatian untuk menjaga lingkungan, karena panas bumi yang semakin tinggi dan perubahan iklim dapat memicu terjadinya kebakaran,” ujar Julian Kelly Kambu. Ia menekankan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya terbatas pada kebakaran lahan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi ketersediaan air permukaan dan air tanah.
Advertisement
Advertisement
Potensi Peningkatan Risiko Kebakaran di Papua Barat Daya
Kondisi cuaca panas dan kemarau ekstrem yang melanda Papua Barat Daya menjadi pemicu utama peningkatan risiko kebakaran lahan. Perubahan iklim yang semakin ekstrem turut memperparah situasi ini, menjadikan wilayah tersebut rentan terhadap insiden kebakaran.
Julian Kelly Kambu menyoroti bahwa kebakaran dapat dipicu oleh berbagai faktor, baik yang disebabkan oleh kelalaian manusia maupun kondisi alam yang kering. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan.
Selain risiko kebakaran, kondisi perubahan iklim juga membawa dampak lain yang perlu diwaspadai. Ketersediaan air permukaan dan air tanah berpotensi terganggu, yang dapat menimbulkan masalah kekeringan dan pasokan air bersih bagi masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Ancaman Kebakaran TPA dan Bahaya Gas Metana
Salah satu kekhawatiran utama DLH Papua Barat Daya adalah potensi kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Kebakaran di TPA sangat berbahaya karena dapat menghasilkan gas metana, yang memiliki dampak negatif signifikan bagi kesehatan dan lingkungan.
Julian Kelly Kambu menyebutkan bahwa kebakaran di TPA Manokwari masih menjadi perhatian serius, dan insiden serupa juga sempat terjadi di kawasan Sorong Makmur. Gas metana yang dilepaskan dari kebakaran TPA dapat menyebar ke wilayah perkotaan, menimbulkan ancaman serius bagi pernapasan warga.
“Kita takut kalau TPA terbakar karena ada gas metana. Kalau gas metana ini menyebar ke wilayah kota, tentu sangat berbahaya bagi masyarakat yang menghirupnya,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa pencemaran udara akibat kebakaran seringkali tidak terlihat langsung, berbeda dengan pencemaran air, sehingga kewaspadaan masyarakat harus lebih tinggi.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Kolaborasi dalam Pencegahan Kebakaran
Upaya pencegahan kebakaran lahan tidak dapat hanya dibebankan kepada DLH Provinsi Papua Barat Daya. Julian Kelly Kambu menekankan bahwa dibutuhkan keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan.
“Ini bukan tanggung jawab Dinas Lingkungan Hidup saja. Harus ada kesadaran bersama, bangkit dari diri kita masing-masing untuk menjaga lingkungan,” tegasnya. DLH Papua Barat Daya mendorong kolaborasi erat antara pemerintah, masyarakat adat, kelompok tani hutan, aparat penegak hukum, serta berbagai pihak terkait lainnya.
Kolaborasi lintas sektor ini diharapkan dapat menciptakan strategi pencegahan dan penanganan kebakaran yang lebih efektif. Dengan adanya sinergi, sumber daya dan upaya dapat dioptimalkan untuk melindungi lingkungan dari ancaman kebakaran.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Penanganan dan Kesiapsiagaan di Sorong
Julian Kelly Kambu mencontohkan kebakaran yang pernah terjadi di kawasan belakang Korem Kota Sorong pada malam hari. Kondisi medan yang sulit dan akses menuju lokasi yang terbatas menjadi kendala besar dalam proses pemadaman api.
Selain itu, kondisi kemarau juga menyulitkan upaya pemadaman karena ketersediaan air yang terbatas. “Kebakaran di Kota Sorong sudah beberapa kali terjadi. Kita juga kesulitan mengambil air karena kondisi kemarau. Jadi masyarakat harus waspada, termasuk kesiapan pemadam kebakaran,” ungkapnya.
DLH Papua Barat Daya berharap kesiapsiagaan menghadapi kebakaran dapat diperkuat di masa mendatang melalui kerja sama lintas sektor. Pihak bandara dan Pertamina diharapkan dapat turut serta mendukung ketersediaan sumber daya dalam penanganan kebakaran, memastikan respons yang cepat dan efektif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews