Advertisement
Enam orang di Indonesia positif terjangkit pneumonia misterius. Namun, seluruhnya sudah sembuh.
Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Nastiti Kaswandani mengungkapkan alasan meningkatnya kasus pneuomonia misterius. Penyakit yang menghebohkan China ini sudah terdeteksi di Indonesia.
Nastiti berujar, kasus ini meningkat karena terjadi lonjakan terlebih dahulu di China usai peraturan lockdown dicabut.
Padahal, penyebab pneumonia misterius, yaitu bakteri mycoplasma pneumoniae sudah ada sejak dahulu kala.
"Kehebohan ini kelihatannya terjadi ketika di China. Mereka lifting restriction artinya yang tadinya lockdown, yang tadinya distancing, kemudian dibebaskan ya, enggak pakai masker sehingga muncul lah berbagai macam virus, bakteri, termasuk salah satunya mycoplasma pneumoniae," kata Nastiti saat konferensi pers, Rabu (6/12).
Advertisement
Nastiti menambahkan, bakteri dan virus yang muncul usai lockdown dicabut juga beragam. Misalnya, Respiratory Syncytial virus (RSV), adenovirus, hingga influenza virus.
Advertisement
Maka dari itu, dianggap misterius.
"Ini angkanya naik signifikan karena memang surveilans untuk mendeteksi bakteri atau penyebab atau virus penyebab ISPAnya tuh apa sehingga kelihatannya kok ada tren peningkatan,"
jelas Nastiti.
Advertisement
merdeka.com
Meski demikian, akhirnya terdeteksi banyak kasus di sana diakibatkan oleh mycoplasma pneumonaie. Bakteri tersebut pun sudah lama muncul sehingga masyarakat tak perlu khawatir.
"Berbeda dengan Covid-19. Covid-19 memang virus baru yang timbulnya tahun 2019 sebelumnya belum ada. Tapi kalau mycoplasma pneumoniae, di buku-buku pedoman tentang pneumonia, bakteri dan virus penyebab pneumonia, mycolasma sudah sangat lama disebut sebagai salah satu penyebab bakteri penyebab pneumonia pada anak," jelasnya.
Sebagai informasi, Kemenkes menemukan enam kasus pneumonia misterius di Indonesia. Meski demikian, keenam kasus tersebut merupakan kasus lama yang terjadi pada Oktober dan November.
Advertisement
Advertisement
Untuk usia pasien, paling muda merupakan anak berusia tiga tahun dan yang paling tua adalah usia 12 tahun.
"Yang paling muda itu tiga tahun, umur paling besar di kasusnya 12 tahun. Tiga sampai 12 dan gejala yang telah ada, hampir semua sama dan hasil pemeriksaan laboraturium di Medistra sendiri itu memang positif bakteri pneumonia mycoplasma,"
imbuh Maxi.
Advertisement
merdeka.com