Pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPD PPNI) Kota Surabaya menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Mereka baru saja menggelar pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang menyasar warga awam di Surabaya.
Kegiatan vital ini bertujuan membekali masyarakat dengan keterampilan esensial dalam menghadapi kondisi kegawatdaruratan. Kolaborasi lintas organisasi menjadi kunci sukses pelaksanaan program edukasi kesehatan ini.
Pelatihan BHD ini menjadi langkah strategis untuk menciptakan "safe community" atau masyarakat tanggap darurat yang mampu memberikan pertolongan pertama secara cepat dan tepat. Inisiatif ini sangat relevan mengingat pentingnya tindakan awal dalam menyelamatkan nyawa.
Advertisement
Advertisement
Ketua DPD PPNI Kota Surabaya, Dr. Nuh Huda, menekankan bahwa penyelamat pertama dalam situasi darurat bukanlah tenaga kesehatan di rumah sakit. Justru masyarakat yang berada di lokasi kejadian memegang peran krusial.
Dalam kondisi henti jantung, setiap detik memiliki nilai yang sangat berharga. Tindakan cepat dan tepat dari penolong pertama dapat menjadi penentu utama keberhasilan penyelamatan nyawa korban.
Dr. Sriyono, Ketua Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI) Jawa Timur, menegaskan pentingnya edukasi kegawatdaruratan. Langkah ini merupakan strategi untuk memperkuat sistem penanganan pra-rumah sakit berbasis komunitas.
Advertisement
Pertolongan yang diberikan dalam menit pertama kejadian dapat meningkatkan peluang keberhasilan penyelamatan hingga 98 persen. Oleh karena itu, pelatihan BHD bagi masyarakat awam sangat krusial dalam membangun sistem penanganan darurat yang kuat di tingkat komunitas.
Advertisement
Pelatihan BHD ini merupakan bagian dari rangkaian acara Hari Ulang Tahun ke-52 Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Acara ini melibatkan sinergi kuat antara DPD PPNI Kota Surabaya dengan HIPGABI Jawa Timur.
Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surabaya turut berperan aktif sebagai tuan rumah dan mitra penyelenggara. Keterlibatan institusi pendidikan ini menunjukkan komitmen bersama dalam pengabdian kepada masyarakat.
Lebih dari 200 peserta dari berbagai organisasi masyarakat antusias mengikuti pelatihan ini. Mereka berasal dari Nasyiatul Aisyiyah, Fatayat Nahdlatul Ulama (NU), Takmir Masjid Al Akbar, serta kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Surabaya.
Advertisement
Perwakilan Kelurahan Perak Barat juga turut serta, menunjukkan cakupan partisipasi yang luas dan beragam. Dekan FIK Universitas Muhammadiyah Surabaya, Dr. Dede Nasrullah, menyatakan bahwa perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung edukasi publik melalui kolaborasi dengan organisasi profesi.
Advertisement
Pelatihan BHD dirancang dengan pendekatan yang komprehensif untuk memastikan pemahaman dan keterampilan peserta. Tahapan pelatihan mencakup pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta.
Setelah itu, peserta menerima pemberian materi secara mendalam mengenai berbagai aspek kegawatdaruratan. Sesi ini dirancang untuk memberikan landasan teoritis yang kuat sebelum masuk ke praktik.
Bagian praktik langsung menjadi inti dari pelatihan, meliputi resusitasi jantung paru (RJP) yang merupakan teknik penyelamatan nyawa dasar. Peserta juga dilatih teknik Heimlich untuk penanganan tersedak secara efektif.
Advertisement
Selain itu, materi pelatihan juga mencakup penanganan luka bakar dan fraktur, serta komunikasi darurat melalui layanan 112. Melalui pendekatan edukatif ini, peserta didorong tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis sebagai penolong pertama, sehingga mampu berkontribusi dalam mewujudkan masyarakat tanggap darurat atau safe community.
Sumber: AntaraNews