Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-62 Sulawesi Tengah (Sulteng) menjadi momentum penting bagi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) setempat. Organisasi ini menyerukan agar perayaan tersebut dimanfaatkan sebagai kesempatan emas untuk semakin memperkuat toleransi antar-umat beragama di seluruh wilayah provinsi. Ketua FKUB Sulteng, Zainal Abidin, menegaskan bahwa 62 tahun bukanlah waktu yang singkat, melainkan sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan dinamika dan tantangan.
Zainal Abidin, yang juga Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), menyampaikan pandangannya di Palu pada Senin, 13 April. Menurutnya, perjalanan panjang Sulteng telah diwarnai oleh berbagai pasang surut, cobaan, serta tragedi besar yang pernah mengguncang sendi-sendi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, HUT provinsi ini harus menjadi refleksi untuk terus menjaga dan memupuk kerukunan.
Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Sulawesi Tengah. FKUB menekankan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini menjadi kunci utama dalam membangun peradaban yang harmonis di Bumi Tadulako.
Advertisement
Advertisement
Kehidupan majemuk di Tanah Tadulako, julukan bagi Sulawesi Tengah, merupakan bukti nyata bahwa toleransi telah mengakar kuat dalam sendi kehidupan masyarakat setempat. Zainal Abidin menjelaskan bahwa toleransi yang hidup saat ini tumbuh dari kesadaran kolektif. Kesadaran ini menyatakan bahwa perbedaan, baik agama, suku, maupun latar belakang, bukanlah penghalang untuk membangun peradaban yang maju dan damai.
Di berbagai wilayah seperti Palu, Poso, Tentena, Luwuk, dan Tolitoli, serta seluruh penjuru Sulteng, masyarakat menyaksikan bagaimana tetangga dengan keyakinan berbeda saling menjaga, membantu, dan menghormati dalam keseharian hidup mereka. “Itulah wajah asli Sulawesi Tengah,” ujar Zainal Abidin. Interaksi ini menunjukkan praktik nyata dari nilai-nilai toleransi yang dipegang teguh oleh warga.
Pengalaman panjang selama 62 tahun telah membentuk karakter masyarakat Sulteng yang mampu hidup berdampingan. Meskipun pernah menghadapi cobaan berat, semangat kerukunan selalu berhasil dipulihkan. Ini membuktikan bahwa fondasi toleransi telah tertanam kuat dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas provinsi ini.
Advertisement
Advertisement
FKUB Sulawesi Tengah merasakan betul bahwa dialog antar-umat beragama yang terus-menerus dibangun menjadi fondasi kokoh untuk mencegah perpecahan. Dialog ini memungkinkan berbagai pihak untuk saling memahami dan menghargai perbedaan. Pendekatan ini sangat efektif dalam menjaga stabilitas sosial dan keharmonisan.
Ketika terjadi gesekan kecil, masalah tersebut selalu diselesaikan dengan musyawarah. Sementara itu, kesalahpahaman diluruskan melalui pendekatan hati ke hati. “Inilah kearifan lokal mosintuwu, bersatu dalam kebersamaan,” kata Zainal Abidin. Prinsip mosintuwu ini menjadi kunci dalam menyelesaikan konflik dan membangun persatuan.
Melalui mekanisme dialog dan musyawarah, setiap perbedaan pandangan dapat dijembatani. Hal ini memastikan bahwa setiap isu yang berpotensi memecah belah dapat diatasi secara damai dan konstruktif. FKUB berperan aktif dalam memfasilitasi proses-proses ini, memastikan bahwa komunikasi antar-umat beragama tetap berjalan efektif.
Advertisement
Advertisement
Di usia ke-62 provinsi ini, FKUB menginginkan agar toleransi yang telah dirawat selama ini dianggap sebagai amanah leluhur. Amanah ini wajib diwariskan kepada generasi penerus. Pentingnya menjaga nilai-nilai ini ditekankan agar kerukunan tetap lestari di masa mendatang.
Zainal Abidin juga menyerukan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak membiarkan provokasi dari mana pun merobek kain persaudaraan yang telah susah payah dirajut. Kerukunan, menurutnya, bukan berarti melebur perbedaan, melainkan justru dalam perbedaan itulah ditemukan kekayaan dan keindahan Sulawesi Tengah yang sesungguhnya.
Peran tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat sangat menentukan dalam merawat kerukunan. Ini bukan pekerjaan satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama. “Terima kasih yang setulus-tulusnya kepada seluruh masyarakat Sulawesi Tengah yang telah menjadi penjaga kerukunan sejati,” pungkas Zainal Abidin, mengapresiasi dedikasi semua pihak dalam menjaga perdamaian.
Advertisement
Sumber: AntaraNews