Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menyoroti pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Proyeksi terbaru ini turun dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Rahma Gafmi memandang hal ini sebagai sinyal penting untuk memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi nasional.
Penurunan proyeksi ini bukan tanpa alasan, mencerminkan realitas ekonomi domestik yang sedang menghadapi tekanan. Terutama, eskalasi geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat turut memberikan dampak signifikan. Situasi global ini menambah kompleksitas tantangan ekonomi yang ada.
Perlambatan konsumsi rumah tangga menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi proyeksi tersebut. Selain itu, kebijakan moneter yang ketat juga turut berkontribusi pada perlambatan aktivitas ekonomi. Faktor eksternal seperti perlambatan ekonomi global juga berperan penting dalam kondisi ini.
Advertisement
Advertisement
Tantangan di Balik Proyeksi Ekonomi Indonesia yang Melambat
Perlambatan konsumsi rumah tangga menjadi pemicu utama penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Konsumsi, yang menyumbang lebih dari 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), kini menghadapi tekanan. Daya beli masyarakat kelas menengah cenderung melemah akibat kenaikan harga kebutuhan pokok.
Kondisi ini tercermin dari penjualan ritel dan kendaraan bermotor yang stagnan. Kenaikan harga kebutuhan pokok tidak sepenuhnya diimbangi oleh peningkatan upah riil, sehingga membebani rumah tangga. Akibatnya, masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja.
Kebijakan moneter yang ketat juga turut memengaruhi aktivitas ekonomi di Indonesia. Suku bunga yang relatif tinggi bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Namun, hal ini berdampak pada mahalnya biaya pinjaman bagi usaha dan perumahan, membuat pelaku usaha dan investor cenderung lebih berhati-hati.
Advertisement
Faktor eksternal turut memperparah kondisi ekonomi domestik. Perlambatan ekonomi global dan melemahnya permintaan dari mitra dagang utama seperti China berdampak pada kinerja ekspor komoditas Indonesia. Rahma Gafmi menyebut angka 4,7 persen lebih mendekati realitas lapangan saat ini.
Advertisement
Mengoptimalkan Sektor Industri dan Pertanian untuk Pertumbuhan Berkelanjutan
Meskipun ada pemangkasan proyeksi, target pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen masih dapat diupayakan. Penguatan sektor industri pengolahan menjadi kunci utama untuk mencapai target tersebut. Sektor ini merupakan kontributor PDB terbesar, sekitar 19-20 persen dari total PDB nasional.
Hilirisasi komoditas seperti nikel, tembaga, dan bauksit menjadi produk bernilai tambah tinggi perlu terus didorong. Pengembangan rantai pasok industri baterai dan kendaraan listrik juga sangat penting. Manufaktur harus tumbuh di atas pertumbuhan ekonomi nasional agar target 5 persen tercapai.
Sektor pertanian juga memiliki potensi besar sebagai motor pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia. Peningkatan produktivitas pertanian harus didukung dengan penyederhanaan distribusi pupuk. Penguatan program ketahanan pangan juga krusial untuk menjaga stabilitas harga.
Advertisement
Sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen pada tahun 2025, membalikkan tren sebelumnya yang di bawah 2 persen. Ini menunjukkan potensi besar pertanian untuk berkontribusi lebih pada PDB. Investasi pada sektor ini dapat menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Advertisement
Mendorong Konsumsi, Investasi, dan Ekonomi Digital untuk Resiliensi Ekonomi
Konsumsi rumah tangga, yang mencapai sekitar 54 persen terhadap PDB, memegang peran penting dalam pertumbuhan ekonomi. Menjaga daya beli masyarakat adalah kunci utama dalam kondisi saat ini. Stabilitas harga pangan harus dijamin untuk melindungi daya beli masyarakat.
Percepatan belanja pemerintah juga dapat memicu perputaran uang di masyarakat. Proyek-proyek infrastruktur seperti irigasi, waduk, dan jalan dapat menciptakan banyak pekerjaan padat karya. Hal ini akan meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat.
Masuknya investasi asing langsung (FDI) akan memberikan efek berganda bagi perekonomian. FDI dapat menciptakan lapangan kerja formal dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara signifikan. Pemerintah perlu terus menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Advertisement
Sektor energi hijau dan ekonomi digital memiliki prospek pertumbuhan yang kuat di masa depan. Program seperti pengembangan Biodiesel B50 diproyeksikan menghemat anggaran hingga Rp48 triliun. Investasi di bidang teknologi dan ekonomi digital juga penting untuk pertumbuhan eksponensial.
Sumber: AntaraNews