Dispursip Kalteng Wujudkan Transformasi Perpustakaan Melalui Pameran Seni Inovatif

Dinas Perpustakaan dan Arsip Kalimantan Tengah (Dispursip Kalteng) menggelar pameran seni unik, menjadi langkah konkret mewujudkan transformasi perpustakaan sebagai pusat interaksi dan kreativitas masyarakat. Jangan lewatkan inovasi literasi ini!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dispursip Kalteng Wujudkan Transformasi Perpustakaan Melalui Pameran Seni Inovatif
Dinas Perpustakaan dan Arsip Kalimantan Tengah (Dispursip Kalteng) menggelar pameran seni unik, menjadi langkah konkret mewujudkan transformasi perpustakaan sebagai pusat interaksi dan kreativitas masyarakat. Jangan lewatkan inovasi literasi ini! (AntaraNews)

Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispursip) Kalimantan Tengah (Kalteng) secara aktif menghadirkan pameran seni di ruang baca perpustakaan daerah. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya implementasi mewujudkan transformasi perpustakaan di era modern. Pameran ini bertujuan untuk mengubah persepsi masyarakat tentang fungsi perpustakaan yang lebih dinamis dan inklusif.

Kepala Dispursip Kalteng, Adiah Chandra, menjelaskan bahwa melalui Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, perpustakaan kini tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat peminjaman buku atau lokasi yang cenderung sepi. Pihaknya berupaya menjadikan gedung perpustakaan sebagai pusat interaksi masyarakat yang aktif. Selain itu, perpustakaan diharapkan menjadi ruang berbagi pengetahuan serta arena bagi para pemuda untuk menampilkan bakat dan kreativitas mereka.

Pameran seni yang bertajuk "Tradisi Kreatif Ekspresi Nusantara Dalam Karya" ini mengusung tema besar kreativitas tangan, warisan budaya, dan karya bermakna. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Dispursip Kalteng dengan mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Palangka Raya (UPR). Pameran ini diselenggarakan selama tiga hari, mulai tanggal 10 hingga 12 April 2026, di Palangka Raya.

Pameran seni yang diselenggarakan di ruang baca perpustakaan Dispursip Kalteng ini memberikan perspektif baru tentang pemahaman literasi yang lebih luas. Literasi tidak hanya diartikan sebagai kemampuan memahami teks, tetapi juga mencakup kemampuan menginterpretasikan visual, budaya, serta emosi yang terwujud dalam karya seni. Pendekatan ini memperkaya makna literasi bagi pengunjung.

Melalui pameran ini, masyarakat diajak untuk melihat literasi dari sudut pandang yang berbeda, di mana seni menjadi medium penting dalam penyampaian pengetahuan dan pemahaman. Ini sejalan dengan visi transformasi perpustakaan yang ingin menjadikan institusi ini sebagai pusat pembelajaran multidimensional. Pengunjung dapat belajar dan mengapresiasi berbagai bentuk ekspresi kreatif.

Pameran ini menampilkan lebih dari 80 kriya atau kerajinan tangan hasil karya mahasiswa PGSD UPR. Karya-karya tersebut memanfaatkan bahan-bahan yang sudah tidak digunakan, kemudian diolah kembali sehingga memiliki nilai yang semakin tinggi. Ragam kriya yang ditampilkan sangat beragam, mulai dari barang bekas, seni lukis, hingga kerajinan tangan lainnya.

Ketua panitia kegiatan, Ragil Fadila, mengungkapkan bahwa pameran ini merupakan pengalaman luar biasa bagi para mahasiswa. Mereka berkesempatan menampilkan karya yang dibuat dengan sungguh-sungguh di ruang publik. Pameran ini juga menjadi sarana bagi mahasiswa PGSD UPR untuk belajar menyampaikan suatu gagasan atau nilai budaya kepada masyarakat luas.

Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial yang diusung Dispursip Kalteng bertujuan untuk menjadikan perpustakaan sebagai wadah yang lebih inklusif dan relevan bagi seluruh lapisan masyarakat. Pameran seni ini adalah salah satu wujud nyata dari program tersebut, mengundang berbagai kalangan untuk berinteraksi dan berpartisipasi.

Dengan menghadirkan kegiatan seni di lingkungan perpustakaan, Dispursip Kalteng berupaya menciptakan suasana yang lebih hidup dan menarik. Hal ini diharapkan dapat menarik minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk lebih sering mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan menjadi lebih dari sekadar tempat membaca, melainkan juga pusat pengembangan diri dan komunitas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi