Gubernur Sulteng: Peringatan Haul Guru Tua Bukti Kecintaan Abadi pada Sang Pendiri Alkhairaat

Gubernur Sulawesi Tengah menegaskan Peringatan Haul Guru Tua ke-58 adalah manifestasi kecintaan tak terbatas Abnaulkhairaat, sekaligus ajakan untuk melanjutkan perjuangan pendidikan sang pendiri.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gubernur Sulteng: Peringatan Haul Guru Tua Bukti Kecintaan Abadi pada Sang Pendiri Alkhairaat
Gubernur Sulawesi Tengah menegaskan Peringatan Haul Guru Tua ke-58 adalah manifestasi kecintaan tak terbatas Abnaulkhairaat, sekaligus ajakan untuk melanjutkan perjuangan pendidikan sang pendiri. (AntaraNews)

Puluhan ribu jamaah memadati Kompleks Perguruan Alkhairaat di Kota Palu untuk menghadiri Peringatan Haul ke-58 Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, atau yang akrab disapa Guru Tua. Acara sakral ini berlangsung pada Rabu, 1 April 2026, bertepatan dengan 12 Syawal, menjadi momen penting bagi seluruh Abnaulkhairaat dari berbagai penjuru Indonesia.

Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, turut hadir dan memberikan sambutan, menegaskan bahwa kehadiran massa yang luar biasa ini merupakan bukti nyata kecintaan mendalam kepada sosok Guru Tua. Ia menekankan bahwa peringatan haul bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ekspresi cinta yang melampaui batasan ruang dan waktu.

Gubernur juga mengajak seluruh Abnaulkhairaat untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga menerjemahkan kecintaan tersebut dalam tindakan nyata. Perjuangan Guru Tua dalam bidang pendidikan diharapkan dapat terus dilanjutkan demi kemajuan bangsa dan umat.

Dalam sambutannya, Gubernur Anwar Hafid mengungkapkan bahwa Peringatan Haul Guru Tua adalah manifestasi dari cinta yang tak terbatas. “Kalau bukan karena cinta kepada Guru Tua, tidak mungkin kita ada di sini. Ini adalah cinta yang tidak terbatas,” ujarnya di hadapan puluhan ribu jamaah yang memadati lokasi acara.

Ia menyoroti fakta menarik bahwa hanya sekitar 20 persen dari Abnaulkhairaat yang hadir pernah bertemu langsung dengan Habib Idrus. Sebagian besar, termasuk dirinya sendiri, belum pernah berjumpa fisik dengan Guru Tua, namun kecintaan itu tetap membara.

Menurut penuturan orang tuanya, Guru Tua wafat tiga bulan setelah Gubernur Anwar Hafid dilahirkan. Hal ini menunjukkan bahwa warisan spiritual dan ajaran Guru Tua mampu menjangkau generasi yang tidak pernah berinteraksi langsung dengannya, membuktikan keberadaan dan pengaruhnya yang abadi hingga saat ini.

Gubernur Anwar Hafid mengajak seluruh Abnaulkhairaat untuk membuktikan kecintaan mereka melalui tindakan nyata, bukan sekadar kehadiran di haul atau pemasangan foto. Ia menegaskan, “Tanda cinta kita bukan hanya hadir di haul, bukan hanya memasang foto. Tanda cinta kita adalah melanjutkan perjuangan Guru Tua.”

Anwar menjelaskan bahwa Guru Tua tidak mewariskan harta benda, melainkan mewariskan pendidikan sebagai jalan utama untuk mengubah nasib. Keyakinan ini sejalan dengan pandangan global bahwa pendidikan adalah kunci utama untuk kemajuan dan peningkatan kualitas hidup.

Perguruan Alkhairaat, sebagai buah perjuangan Guru Tua, kini memiliki jangkauan yang sangat luas. Tidak kurang dari sepuluh juta Abnaulkhairaat tersebar di seluruh Indonesia, menunjukkan dampak luar biasa dari visi pendidikan yang dicanangkan oleh Guru Tua.

Di bidang pendidikan formal, Alkhairaat mengelola satu perguruan tinggi, sekitar 50 pondok pesantren, serta 1.700 madrasah di berbagai tingkatan pendidikan. Ini menjadi bukti nyata komitmen Alkhairaat dalam melanjutkan estafet pendidikan yang diwariskan oleh pendirinya.

Peringatan Haul ke-58 Guru Tua di Kompleks Perguruan Alkhairaat, Kota Palu, dipadati puluhan ribu warga Alkhairaat (Abnaulkhairaat) yang datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Lautan manusia membanjiri lapangan kompleks seluas satu hektar, bahkan meluber hingga ke Jalan Sis Aljufri di depan Kantor Pengurus Besar (PB) Alkhairaat.

Antusiasme ini mencerminkan kuatnya ikatan spiritual dan kecintaan Abnaulkhairaat terhadap sosok Guru Tua yang telah memberikan kontribusi besar bagi pendidikan dan syiar Islam di Indonesia. Kehadiran mereka menjadi saksi bisu betapa besar pengaruh Habib Sayyid Idrus bin Salim Aljufri.

Peringatan Haul ke-58 mengusung tema “Meneguhkan Spirit Keteladanan Guru Tua dalam Bingkai Peradaban Ilmu dan Akhlak”. Tema ini relevan dengan semangat untuk terus meneladani nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh Guru Tua dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum puncak acara haul, telah diselenggarakan Festival Raudhah SIS Aljufri. Festival ini berlangsung dari tanggal 28 hingga 30 Maret 2026, menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk memeriahkan dan memperingati jasa-jasa Guru Tua.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi