Dalam rangka peringatan 400 tahun Syekh Yusuf, Angkatan Muda Syekh Yusuf bersama Merial Institute menyelenggarakan Halal Bihalal dan Dialog Kebudayaan di Balla Lompoa, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Rabu (25/3).
Forum ini diarahkan sebagai upaya sadar untuk mengaktivasi kembali warisan kepemimpinan intelektual Syekh Yusuf dari tanah kelahirannya. Gowa ditempatkan sebagai pusat artikulasi nilai, tempat ingatan sejarah diolah menjadi energi moral bagi generasi kini.
Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf Arief Rosyid menegaskan momentum ini harus dibaca sebagai koreksi atas arah pembentukan generasi. Menurutnya, selama ini ruang publik dihadapkan pada krisis keteladanan yang konkret. Pemuda sering berhadapan dengan figur yang terfragmentasi, kuat di satu sisi tetapi rapuh di sisi lain. Situasi ini melahirkan kekosongan narasi yang utuh untuk diikuti.
Advertisement
Kekurangan Teladan yang Utuh
Dalam konteks itu, Syekh Yusuf hadir sebagai rujukan yang menyeluruh. Ia menghadirkan kesatuan antara kedalaman ilmu, kekuatan spiritual, dan keberanian politik dalam satu garis hidup yang konsisten.
“Kita tidak kekurangan informasi, kita kekurangan teladan yang utuh. Syekh Yusuf memberi kita arsitektur kepemimpinan yang lengkap. Ia menunjukkan bahwa intelektualitas tanpa keberanian akan kehilangan daya, spiritualitas tanpa keberpihakan akan menjadi gerakan sunyi, dan patriotisme tanpa dasar ilmu akan mudah goyah.”
Ia juga menekankan pentingnya mengembalikan narasi besar kepada pemuda dengan pijakan yang jelas.
“Dari Gowa, kita menegaskan bahwa warisan ini bukan sekadar kebanggaan historis. Ini adalah perangkat hidup untuk membentuk cara berpikir dan cara bertindak. Pemuda membutuhkan figur yang bisa diikuti secara utuh. Syekh Yusuf telah memberikan itu. Tugas kita adalah menerjemahkannya menjadi praktik kepemimpinan yang hadir di tengah masyarakat.”
Advertisement
Tidak Berhenti pada Formulasi Gagasan
Akademisi UIN Alauddin Prof. Wahyuddin Halim menegaskan bahwa kekuatan utama Syekh Yusuf terletak pada konsistensi antara bangunan pemikiran dan tindakan. Ia mengurai bagaimana sintesis antara syariat, tasawuf, dan keberanian politik membentuk karakter kepemimpinan yang tidak terbelah.
“Syekh Yusuf tidak berhenti pada formulasi gagasan. Beliau menguji pemikirannya dalam realitas yang keras. Kedalaman ilmu bertemu dengan disiplin syariat dan ketajaman dimensi batin. Dari situ lahir integritas yang tidak mudah digoyahkan. Dari situ pula muncul keberanian yang memiliki dasar. Ini yang hilang dalam banyak praktik kepemimpinan hari ini.”
Advertisement
Satu Tarikan Napas
Sementara itu, akademisi Universitas Hasanuddin, Dr. Adi Suryadi Culla, melihat warisan tersebut sebagai kerangka pembentukan karakter publik yang berbasis proses. Ia menegaskan bahwa krisis keteladanan hari ini berakar pada terputusnya hubungan antara ilmu, spiritualitas, dan keberpihakan. Syekh Yusuf justru menghadirkan ketiganya dalam satu tarikan napas.
“Syekh Yusuf adalah produk dari perjalanan intelektual yang panjang dan disiplin yang ketat. Sebelum masuk ke arena perjuangan, lintasan ilmunya sudah selesai. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. Ada akumulasi pengetahuan, ada pembentukan karakter. Generasi muda perlu membaca ini sebagai standar.”
Melalui dialog ini, Gowa diharapkan kembali menjadi titik tolak bagi lahirnya kepemimpinan yang berakar kuat pada nilai dan relevan dengan tuntutan zaman. Hadir pada kegiatan Halal Bihalal dan Dialog Kebudayaan ini, Ketua Dewan Masjid Sulawesi Selatan, Mayjend (Purn) TNI Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, Ketua Majelis Adat Tinggi Kerajaan Gowa, Andi Bau Malik Barammamase, dan Ketua Umum Forum Komunikasi Generasi Pelanjut Sultan Hasanuddin (FKGP-SH), Andi Pangerang Nur Akbar.