Gema takbir berkumandang di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pada Sabtu pagi. Ratusan warga penyintas banjir bandang merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah dengan penuh kekhusyukan dan kebersamaan. Perayaan ini berlangsung di tengah suhu dingin yang mencapai 13 derajat Celcius, menambah nuansa syahdu.
Sejak pukul 05.00 WIB, penduduk desa mulai beranjak dari hunian masing-masing untuk menjalankan tradisi silaturahmi yang telah turun-temurun. Mereka saling mengunjungi rumah tetua kampung sebagai bentuk penghormatan dan menjaga adat istiadat setempat. Momen ini menjadi ajang untuk saling bermaafan dan mempererat tali persaudaraan.
Meski baru pulih dari bencana banjir bandang akhir November 2025, semangat Idul Fitri tidak luntur di hati warga Agusen. Mereka menunjukkan ketabahan dan rasa syukur karena tidak ada korban jiwa dalam musibah tersebut. Kebersamaan menjadi kunci dalam menyongsong hari yang lebih baik.
Advertisement
Advertisement
Tradisi Silaturahmi di Tengah Dinginnya Pagi
Pagi Idul Fitri di Desa Agusen dimulai dengan tradisi silaturahmi yang menghangatkan suasana. Warga, seperti Sabedah (41), mendatangi rumah tetua kampung untuk bermaafan bersama warga lainnya. Kegiatan ini berlangsung sederhana namun sarat makna kekeluargaan, di mana pelukan hangat menjadi simbol persaudaraan yang erat.
Rahmat (62), salah satu tetua desa, telah bersiap menyambut kedatangan warga di depan hunian sementara (huntara) miliknya. Bersama anak dan cucunya, ia menerima setiap kunjungan dengan senyum ceria. Momen ini mencerminkan kuatnya ikatan sosial dan adat istiadat yang masih terjaga di tengah masyarakat Agusen.
Setelah bersilaturahmi, warga kemudian berjalan bersama menuju lapangan terbuka yang telah disiapkan untuk Shalat Idul Fitri berjamaah. Mereka berbaris memanjang, membaur dengan sesama penyintas bencana, baik yang menempati huntara maupun yang telah merenovasi rumah mereka. Perjalanan ini menjadi simbol kebersamaan untuk bangkit dari keterpurukan.
Advertisement
Advertisement
Khusyuknya Shalat Id Berlatar Perbukitan Hijau
Setibanya di lokasi Shalat Id, warga tampak beriringan membawa sajadah dan alas seadanya. Sebagian kaum perempuan dengan sigap menggelar tikar dan karpet dari huntara, sementara yang lain membantu merapikan barisan di atas tanah berpasir dan berbatu. Anak-anak pun turut serta, duduk berkelompok dengan wajah penuh rasa ingin tahu di samping orang tua mereka.
Meskipun fasilitas yang tersedia terbatas, suasana khusyuk tetap terasa kuat saat pelaksanaan shalat dimulai. Barisan jamaah tersusun rapi menghadap kiblat, dengan latar belakang perbukitan hijau yang indah mengelilingi Desa Agusen. Pemandangan alam ini menambah kekhidmatan ibadah dan ketenangan jiwa para jamaah.
Setelah shalat usai, warga kembali saling bersalaman dan bermaafan, menciptakan atmosfer hangat penuh kebersamaan. Mereka kemudian kembali ke hunian masing-masing untuk menyantap hidangan khas Idul Fitri. Aroma rempah Gayo dari rendang, lontong, gulai kari, dan lemang memenuhi udara, melengkapi kebahagiaan perayaan ini.
Advertisement
Advertisement
Ketabahan Warga Agusen Pasca Banjir Bandang
Desa Agusen adalah salah satu daerah yang mengalami dampak signifikan akibat banjir bandang pada akhir November 2025. Seluruh 279 keluarga di desa tersebut menjadi korban bencana alam ini. Bencana tersebut meninggalkan duka mendalam namun tidak mematahkan semangat warga untuk terus berjuang.
Dari total keluarga terdampak, sebanyak 155 kepala keluarga (KK) saat ini menempati hunian sementara karena rumah mereka rusak parah atau bahkan hanyut digulung arus deras. Sementara itu, sebagian warga lainnya memilih untuk bertahan dan memperbaiki rumah lama mereka dengan memanfaatkan material sisa banjir. Ini menunjukkan upaya keras mereka untuk kembali normal.
Di tengah antrean menuju lokasi shalat, seorang warga mengungkapkan rasa syukur mendalam karena tidak ada korban jiwa dalam bencana tersebut. “Syukurnya ratusan orang warga Agusen, tidak ada yang menjadi korban jiwa. Allah SWT masih sayang dengan kita,” ujarnya. Harapan untuk kehidupan yang lebih baik pun terus digaungkan oleh warga lainnya, “Yang sabar ya pak. Meuah lahe baten,” sambut ibu itu.
Advertisement
Sumber: AntaraNews