Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, secara tegas mengimbau seluruh lapisan masyarakat di daerah tersebut untuk menunjukkan sikap bijak dalam menghadapi perbedaan jadwal pelaksanaan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah. Imbauan ini disampaikan guna menjaga kerukunan dan persatuan umat Muslim di tengah perbedaan keyakinan.
Pernyataan tersebut disampaikan Wali Kota di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, pada hari Sabtu, 21 Maret, setelah sebagian masyarakat telah menunaikan Shalat Idul Fitri sehari sebelumnya. Ia menekankan bahwa perbedaan ini tidak perlu dipermasalahkan, melainkan harus disikapi dengan kedewasaan. Penetapan 1 Syawal 1447 H sendiri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, berdasarkan sidang isbat pemerintah.
Menurut Ramlan, pelaksanaan Shalat Idul Fitri sangat berkaitan erat dengan keyakinan individu umat Muslim, sehingga perbedaan jadwal adalah hal yang lumrah dan harus dihargai. Sikap toleransi menjadi kunci utama dalam menyikapi situasi seperti ini.
Advertisement
Advertisement
Wali Kota Ramlan Nurmatias menegaskan bahwa perbedaan jadwal pelaksanaan Shalat Idul Fitri merupakan bagian dari keyakinan umat Muslim yang harus dihormati. Ia sendiri bersama Wakil Wali Kota, Kapolresta Bukittinggi, dan Komandan Kodim 0304/Agam, serta masyarakat setempat, melaksanakan Shalat Idul Fitri pada Sabtu di Lapangan Wirabraja Kota Bukittinggi.
Sebelumnya, pada Jumat (20/3), sebagian umat Muslim di kota tersebut telah lebih dahulu menunaikan shalat sunah yang dilaksanakan setiap 1 Syawal itu, berdasarkan metode perhitungan yang berbeda. "Walaupun ada perbedaan (jadwal pelaksanaan) Shalat Idul Fitri tahun ini, tidak perlu dipermasalahkan," kata Wali Kota Ramlan Nurmatias di Kota Bukittinggi.
Perbedaan semacam ini, lanjut Ramlan, tidak boleh menjadi pemicu perpecahan di kalangan masyarakat, khususnya umat Muslim. Sebaliknya, hal tersebut justru harus menjadi landasan kuat untuk terus saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada.
Advertisement
"Perbedaan jadwal pelaksanaan Shalat Idul Fitri tidak hanya terjadi pada tahun ini, namun sudah terjadi beberapa kali dan itu harus kita hargai," ajak Wali Kota. Hal ini menunjukkan bahwa toleransi adalah nilai yang harus terus dipupuk dalam masyarakat.
Advertisement
Selain mengimbau sikap bijak perbedaan Idul Fitri, Wali Kota Ramlan Nurmatias juga menyinggung tentang solidaritas sosial. Ia menyempatkan diri untuk membahas musibah banjir bandang yang melanda tiga provinsi di Sumatera, termasuk beberapa kabupaten dan kota di Sumatera Barat seperti Kabupaten Agam dan Tanah Datar.
Meskipun menghadapi musibah, ia optimis bahwa masyarakat di daerah berjuluk "Ranah Minang" tersebut akan segera bangkit. Optimisme ini didasari oleh tingginya kepedulian dan semangat tolong-menolong yang ditunjukkan oleh masyarakat dari berbagai daerah.
Semangat kebersamaan ini tidak hanya terlihat dalam menyikapi perbedaan keyakinan, tetapi juga dalam menghadapi bencana alam. "Kita bersama-sama bisa membantu para korban berkat bantuan pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan kota," ujar Ramlan.
Advertisement
Sikap saling membantu dan gotong royong ini menjadi bukti nyata bahwa persatuan dan kepedulian sosial tetap terjaga, bahkan di tengah perbedaan jadwal ibadah maupun cobaan bencana. Hal ini memperkuat nilai-nilai kebersamaan dalam masyarakat Bukittinggi.
Sumber: AntaraNews