Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali melaporkan adanya peningkatan optimisme dalam kegiatan bisnis di Pulau Dewata pada awal tahun 2026. Hal ini didorong oleh beberapa faktor ekonomi penting yang memberikan angin segar bagi pelaku usaha.
Kepala Perwakilan BI Bali, Erwin Soeriadimadja, menyatakan bahwa Indeks Penjualan Riil (IPR) mencapai 124,2, menunjukkan pertumbuhan tahunan sebesar 6,5 persen dan tetap berada pada level optimis. Kinerja positif ini mengindikasikan geliat ekonomi yang kuat di wilayah tersebut.
Peningkatan optimisme bisnis Bali ini terutama dipicu oleh penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan kenaikan upah minimum kabupaten (UMK) di seluruh wilayah Bali. Kondisi ini secara langsung mempengaruhi daya beli dan kepercayaan konsumen.
Advertisement
Advertisement
Kinerja penjualan eceran di Bali pada Januari 2026 menunjukkan pertumbuhan bulanan sebesar 0,9 persen, sesuai hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bali. Optimisme pelaku usaha semakin menguat seiring dengan penurunan harga Pertamax per 1 Januari 2026, dari Rp12.750 menjadi Rp12.350 per liter.
Survei bank sentral juga mengungkapkan keyakinan pelaku usaha terhadap adanya dorongan berbelanja yang signifikan. Keyakinan ini sejalan dengan kenaikan UMK sebesar tujuh persen di seluruh wilayah Bali, yang meningkatkan pendapatan disposable masyarakat.
Survei bulanan ini dilakukan oleh BI terhadap 100 penjual eceran di Denpasar dan sekitarnya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi awal mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.
Advertisement
Advertisement
Beberapa sektor menunjukkan peningkatan permintaan yang menonjol. Penjualan obat-obatan dan vitamin, misalnya, mengalami kenaikan signifikan akibat peralihan cuaca, yang turut mendongkrak harganya.
Pelaku usaha peralatan sekolah juga menunjukkan optimisme penjualan yang tinggi. Hal ini disebabkan oleh momentum peralihan tahun ajaran baru yang mendorong pembelian perlengkapan sekolah.
Bank sentral mengidentifikasi enam sub-sektor pembentuk Indeks Penjualan Riil (IPR) dengan pertumbuhan bulanan tertinggi. Kategori Barang Lainnya, meliputi farmasi, kosmetik, elpiji rumah tangga, dan bahan kimia, meningkat sebesar 3,2 persen.
Advertisement
Sub-sektor lain yang menunjukkan pertumbuhan positif meliputi Bahan Bakar Kendaraan Bermotor naik 3,2 persen, Sandang meningkat 2,6 persen, serta Peralatan Informasi dan Komunikasi naik 2,3 persen. Barang Budaya dan Rekreasi, termasuk alat tulis dan olahraga, melonjak 2,3 persen, sementara Makanan, Minuman, dan Tembakau terkerek 1,4 persen.
Pertumbuhan IPR di Bali ini secara jelas menunjukkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat di Pulau Dewata masih berada dalam tren yang positif. Hal ini menjadi indikator penting bagi kesehatan ekonomi regional.
Untuk proyeksi ke depan, Indeks Ekspektasi Penjualan (IEP) untuk tiga bulan mendatang, atau Maret 2026, diperkirakan sebesar 126. Angka ini sedikit lebih rendah dari IEP Februari 2026 yang mencapai 164.
Advertisement
Namun, ekspektasi penjualan untuk enam bulan ke depan, atau Juni 2026, tetap optimistis pada level 184. Angka ini bahkan lebih tinggi dari IEP Mei 2026 yang sebesar 176, menunjukkan keyakinan jangka panjang pelaku usaha.
Advertisement
Dalam upaya mendukung stabilitas ekonomi domestik, Bank Indonesia terus mempertahankan suku bunga acuan. Suku bunga acuan tetap berada di level 4,75 persen per Februari 2026.
Di sisi lain, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Provinsi Bali juga aktif mengakselerasi pelaksanaan pasar murah. Kegiatan ini dilakukan menjelang periode libur penting seperti Imlek, Ramadhan, dan Nyepi, khususnya untuk komoditas strategis.
Langkah-langkah ini diambil untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi potensi lonjakan inflasi selama periode permintaan tinggi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews