Jakarta – Tim Indonesia Search and Rescue (INASAR) tengah mempersiapkan diri untuk naik kelas dari level medium menuju heavy. Persiapan ini dilakukan menjelang proses penilaian ulang oleh International Search and Rescue Advisory Group (INSARAG) yang dijadwalkan tahun ini. Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menegaskan pentingnya peningkatan klasifikasi ini bagi reputasi SAR nasional.
Peningkatan klasifikasi INASAR menjadi level heavy akan memperkuat posisi Indonesia dalam forum internasional. Hal ini juga akan menjaga reputasi tim SAR nasional, khususnya di kawasan Asia Pasifik. Saat ini, INASAR baru bisa berkontribusi dalam operasi SAR di negara-negara selevel, seperti di Myanmar dan Turki.
Secara kompetensi personel, tim INASAR dinilai telah memenuhi standar internasional, menempatkan mereka pada level medium atau tingkat dua. Namun, peningkatan sarana dan prasarana menjadi syarat utama untuk dapat naik ke level heavy atau tingkat satu. Basarnas berharap dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk DPR RI.
Advertisement
Advertisement
Ambisi Indonesia untuk membuat INASAR naik kelas ke level heavy bukan tanpa alasan kuat. Klasifikasi ini akan membuka peluang bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam operasi SAR di banyak negara di Eropa dan Amerika. Saat ini, kemampuan INASAR terbatas pada operasi di negara-negara dengan klasifikasi setara.
Mohammad Syafii menjelaskan bahwa INSARAG telah memberikan "warning" terkait kompetensi tim INASAR. Namun, ia memastikan bahwa kompetensi personel tim SAR di Indonesia sebenarnya sudah tidak ada masalah. Fokus utama saat ini adalah pada peningkatan sarana dan prasarana.
Peningkatan ini akan memungkinkan INASAR untuk membawa peralatan dan personel yang lebih banyak dan lebih canggih. Hal ini penting untuk menghadapi berbagai jenis bencana dengan skala yang lebih besar dan kompleks. Dengan demikian, peran Indonesia dalam misi kemanusiaan global akan semakin signifikan.
Advertisement
Advertisement
Meski kompetensi personel INASAR telah diakui secara internasional, kendala utama untuk INASAR naik kelas adalah ketersediaan sarana dan prasarana. Evaluasi sebelumnya menempatkan INASAR pada level medium, dengan catatan spesifik mengenai kebutuhan peningkatan fasilitas.
Mohammad Syafii secara eksplisit menyatakan, "INSARAG sudah memberikan warning terkait dengan kompetensi tim INASAR atau tim SAR yang ada di Indonesia, sebenarnya sudah tidak ada masalah, tinggal sarana-prasarana yang perlu ditingkatkan untuk bisa naik ke heavy cuma masalah itu saja." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi pemenuhan kebutuhan peralatan.
Tanpa peningkatan infrastruktur yang memadai, status medium klasifikasi INASAR berpotensi dicabut. Ini akan memengaruhi posisi diplomasi Indonesia di tingkat internasional, terutama dalam konteks penanganan bencana lintas negara. Dukungan anggaran dan kebijakan sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan ini.
Advertisement
Advertisement
Peningkatan klasifikasi INASAR menjadi level heavy sangat vital untuk memperkuat posisi Indonesia di mata dunia. Basarnas sebelumnya melaporkan bahwa posisi SAR Indonesia turun ke peringkat delapan Asia Pasifik pada tahun 2025. Penurunan ini berdasarkan hasil audit organisasi internasional seperti International Maritime Organization (IMO), International Civil Aviation Organization (ICAO), dan INSARAG.
Syafii mengingatkan bahwa apabila persyaratan penambahan sarana dan prasarana tidak terpenuhi, status medium klas INASAR berpotensi dicabut. Pencabutan status ini akan berdampak negatif pada diplomasi Indonesia di tingkat internasional. Indonesia sebagai negara kepulauan di lingkar cincin api Pasifik sangat membutuhkan layanan SAR berstandar global.
Oleh karena itu, Basarnas berharap dukungan penuh dari DPR RI, khususnya Komisi V, agar penguatan sarana dan prasarana dapat segera direalisasikan. Realisasi ini tidak hanya untuk memenuhi standar INSARAG, tetapi juga untuk memastikan kesiapsiagaan Indonesia menghadapi potensi bencana. Ini adalah langkah strategis untuk menjaga keamanan dan kemanusiaan.
Advertisement
Sumber: AntaraNews