Jepang Pilar Ekonomi Indonesia: Mendag Budi Santoso Soroti Kemitraan Strategis

Mendag Budi Santoso menegaskan Jepang sebagai pilar penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Kemitraan strategis ini terus diperkuat melalui perdagangan, investasi, dan kolaborasi di berbagai sektor.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Jepang Pilar Ekonomi Indonesia: Mendag Budi Santoso Soroti Kemitraan Strategis
Mendag Budi Santoso menegaskan Jepang sebagai pilar penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Kemitraan strategis ini terus diperkuat melalui perdagangan, investasi, dan kolaborasi di berbagai sektor. (AntaraNews)

Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menegaskan bahwa Jepang merupakan pilar penting bagi pembangunan ekonomi Indonesia dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik. Pernyataan ini disampaikan dalam Resepsi Hari Nasional Jepang yang diselenggarakan di Jakarta. Acara tersebut menjadi simbol kuatnya hubungan bilateral antara kedua negara sahabat.

Mendag Budi Santoso menyoroti bagaimana hubungan Indonesia dan Jepang telah berkembang pesat. Dari sekadar hubungan perdagangan tunggal, kini telah menjadi kemitraan strategis yang canggih. Kemitraan ini dibangun di atas dasar saling percaya serta visi bersama untuk mewujudkan Indo-Pasifik yang stabil dan makmur.

Resepsi Hari Nasional Jepang diadakan dalam rangka merayakan Hari Ulang Tahun ke-66 Kaisar Jepang Naruhito. Perayaan ini akan jatuh pada tanggal 23 Februari 2026 mendatang. Momen ini sekaligus menjadi ajang untuk memperkuat ikatan diplomatik dan ekonomi yang telah terjalin lama.

Jepang secara konsisten menjadi salah satu mitra dagang terpenting bagi Indonesia, sebuah status yang diperkuat melalui Perjanjian Kemitraan Ekonomi Indonesia-Jepang (IJEPA). Perjanjian ini telah berlaku sejak tahun 2007, menjadi kerangka kerja sama bilateral pertama bagi Indonesia.

IJEPA tidak hanya memfasilitasi perdagangan barang, tetapi juga pertukaran keterampilan dan teknologi antara kedua negara. Tujuan utama IJEPA adalah meningkatkan perdagangan dan investasi melalui tiga proyek kunci: liberalisasi perdagangan, fasilitasi perdagangan, dan peningkatan kapasitas.

Pada tahun lalu, total perdagangan bilateral antara Indonesia dan Jepang tercatat sebesar 32 miliar dolar Amerika Serikat, atau sekitar Rp539,5 triliun. Angka ini menempatkan Jepang sebagai mitra dagang terbesar keempat bagi Indonesia. Mendag Budi Santoso berharap kerja sama ini akan semakin meluas pasca penandatanganan protokol perubahan perjanjian kemitraan ekonomi antara Jepang dan Indonesia pada tahun lalu.

Indonesia saat ini memiliki 20 perjanjian perdagangan internasional yang aktif, dengan 15 perjanjian lainnya dalam proses ratifikasi dan 11 perjanjian dalam tahap negosiasi. Mendag Budi Santoso mendorong komunitas bisnis untuk memanfaatkan perjanjian-perjanjian ini guna memaksimalkan peluang pasar yang ada.

Jepang terus menjadi investor papan atas di Indonesia, memberikan dukungan signifikan pada sektor-sektor krusial seperti infrastruktur, manufaktur, dan otomotif. Pada tahun 2025, Jepang menjadi investor terbesar kelima di Indonesia, dengan investasi tambahan senilai 3,1 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp52,3 triliun.

Investasi ini tidak hanya terbatas pada sektor-sektor tradisional, melainkan juga mencakup pembangunan infrastruktur berskala besar. Melalui kemitraan publik-swasta dan bantuan pembangunan, Jepang turut serta dalam proyek-proyek transportasi, pelabuhan, pembangkit listrik, dan infrastruktur perkotaan.

Mendag Budi Santoso menyoroti beberapa proyek infrastruktur penting yang merupakan hasil kolaborasi nyata ini. Contohnya termasuk MRT Jakarta yang telah mentransformasi mobilitas perkotaan, Pelabuhan Laut Dalam Patimban yang meningkatkan kemampuan logistik nasional, serta pusat kelautan dan perikanan terpadu yang mendorong perekonomian maritim.

Ke depan, Indonesia melihat potensi kolaborasi yang tidak terbatas dengan Jepang di berbagai bidang baru. Sektor-sektor seperti ekonomi digital, energi terbarukan, dan rantai pasokan berkelanjutan menjadi fokus utama untuk kerja sama di masa mendatang.

Kedua negara juga aktif dalam inisiatif Asian Zero Emission Community (AZEC), yang membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pengelolaan lingkungan dapat berjalan beriringan. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen Indonesia dan Jepang untuk pembangunan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Perluasan akses pasar merupakan hal yang sangat penting bagi kepentingan nasional Indonesia, dan pemerintah terbuka untuk negosiasi perdagangan lebih lanjut. Ini menunjukkan kesiapan Indonesia untuk terus memperkuat posisinya dalam perdagangan internasional.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi