Siswa SDN 05 Kayu Pasak Agam Kembali Belajar Normal Pasca-Bencana Banjir Bandang

Sebanyak 97 siswa SDN 05 Kayu Pasak Agam di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kini dapat kembali belajar di ruang kelas setelah sebelumnya sekolah mereka menjadi lokasi pengungsian korban banjir bandang.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Siswa SDN 05 Kayu Pasak Agam Kembali Belajar Normal Pasca-Bencana Banjir Bandang
Sebanyak 97 siswa SDN 05 Kayu Pasak Agam di Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, kini dapat kembali belajar di ruang kelas setelah sebelumnya sekolah mereka menjadi lokasi pengungsian korban banjir bandang. (AntaraNews)

Sebanyak 97 siswa SDN 05 Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, telah kembali melaksanakan proses belajar mengajar di ruang kelas. Aktivitas pendidikan ini dapat berlangsung normal setelah sebelumnya bangunan sekolah tersebut difungsikan sebagai tempat pengungsian bagi penyintas bencana banjir bandang. Proses belajar mengajar di lokal sekolah dimulai sejak Senin, 26 Januari 2026, menandai kembalinya rutinitas pendidikan bagi para siswa di tengah upaya pemulihan pasca-bencana.

Kepala SDN 05 Kayu Pasak, Novita Yuliarman, menjelaskan bahwa para penyintas bencana telah menempati hunian sementara (huntara) yang berlokasi sekitar 10 meter dari sekolah. Sebelumnya, sekolah ini menjadi lokasi pengungsian bagi ratusan penyintas banjir bandang di Nagari Salareh Aia sejak Kamis, 27 November 2025. Kondisi ini memungkinkan ruang kelas untuk digunakan kembali secara penuh setelah masa darurat pengungsian berakhir.

Meskipun demikian, proses belajar mengajar bagi 97 siswa SDN 05 Kayu Pasak sempat diadakan di tenda milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk empat kelas. Selain itu, satu kelas menggunakan perpustakaan sekolah dan satu kelas lainnya memanfaatkan mushala SDN 05 Kayu Pasak. Penggunaan tenda ini merupakan solusi sementara untuk memastikan pendidikan tetap berjalan di tengah keterbatasan fasilitas akibat bencana.

Kembali Normal Setelah Bencana

Proses belajar mengajar di SDN 05 Kayu Pasak kini telah kembali maksimal dengan durasi 35 menit setiap jam pelajaran, berbeda saat menggunakan tenda. Novita Yuliarman mengakui bahwa pembelajaran di tenda tidak optimal karena cuaca yang cukup panas, sehingga jam pelajaran hanya berlangsung 30 menit. Kondisi normal ini sangat diharapkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran siswa.

Banjir bandang yang melanda Palembayan pada akhir November 2025 lalu tidak hanya menyebabkan ratusan rumah terdampak, tetapi juga menimbulkan duka mendalam bagi komunitas sekolah. Delapan siswa SDN 05 Kayu Pasak meninggal dunia akibat bencana tersebut. Dari total 105 siswa sebelumnya, kini jumlah siswa yang terdaftar adalah 97 orang, mencerminkan dampak tragis yang ditimbulkan oleh bencana alam.

Dampak Bencana pada Pendidikan

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Agam, Andri, mengungkapkan bahwa bencana banjir bandang dan tanah longsor di Agam telah mengakibatkan kerusakan pada 67 sekolah dari berbagai jenjang, mulai dari TK, PAUD, SD, hingga SMP. Kerusakan ini menunjukkan skala dampak bencana yang luas terhadap infrastruktur pendidikan di wilayah tersebut. Upaya pemulihan pendidikan menjadi prioritas utama pemerintah daerah.

Beberapa sekolah mengalami kerusakan parah, seperti SDN 09 Bancah dan SDN 14 Labuah Kecamatan Tanjung Raya, yang kini harus melaksanakan kegiatan belajar mengajar di MDA dan shelter. Sementara itu, MTs Muhammadiyah dan SMA Muhammadiyah Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, juga terpaksa belajar di tenda yang telah difasilitasi oleh Disdikbud Agam. Situasi ini menuntut adaptasi dan solusi cepat agar hak pendidikan siswa tetap terpenuhi.

Upaya Pemulihan dan Bantuan

Pemerintah daerah telah memasukkan pembangunan kembali sekolah-sekolah yang rusak ke dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P). Anggaran sebesar Rp20 miliar telah dialokasikan untuk program ini, menunjukkan komitmen serius dalam memulihkan fasilitas pendidikan. Dana ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan kembali sekolah agar siswa dapat belajar di lingkungan yang layak dan aman.

Bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berupa tenda pengungsian juga sangat membantu dalam memastikan keberlangsungan pendidikan darurat. Tenda-tenda ini dipasang di halaman sekolah dan menjadi ruang kelas sementara bagi siswa yang terdampak. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga nasional menjadi kunci dalam penanganan pasca-bencana, khususnya dalam sektor pendidikan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi