Wihara Amurva Bhumi (Hok Tek Tjeng Sin) yang berlokasi di Jalan Prof Dr Satrio No. 2, Karet, Jakarta Selatan, tengah bersiap menyambut perayaan Tahun Baru Imlek. Berbagai persiapan telah mulai dilakukan untuk memastikan kelancaran puncak perayaan. Salah satu tradisi utama yang akan digelar adalah ritual "mandi rupang" atau penyucian patung dewa dewi.
Menurut Arifin, salah satu pengurus Wihara Amurva Bhumi, persiapan saat ini baru mencapai sekitar 25 persen. Ritual "mandi rupang" akan menjadi penanda bahwa persiapan telah mencapai tahap hampir rampung. Tradisi ini dijadwalkan akan dilaksanakan mendekati hari raya Imlek, menandakan kesiapan wihara menyambut tahun baru.
Persiapan menyeluruh ini mencakup kegiatan bersih-bersih bangunan hingga penyediaan perlengkapan sembahyang agar puncak perayaan berjalan lancar. Wihara Amurva Bhumi berkomitmen untuk menjaga tradisi dan tata cara ibadah yang telah turun temurun.
Advertisement
Advertisement
Ritual "mandi rupang" merupakan tradisi penting dalam perayaan Imlek yang dilakukan oleh umat Tionghoa. Di Wihara Amurva Bhumi, tradisi penyucian patung dewa-dewi ini direncanakan akan berlangsung pada 11 Februari, sekitar seminggu sebelum perayaan Imlek.
Tradisi ini memiliki makna mendalam sebagai simbol pembersihan diri dan lingkungan sebelum memasuki tahun baru. Setelah patung-patung dewa dibersihkan, biasanya akan diganti pakaiannya dan altar akan ditata ulang. Hal ini bertujuan agar tampilan altar menjadi lebih rapi dan sakral, mencerminkan kesucian menyambut Imlek.
Pengurus wihara, Arifin, menjelaskan bahwa "mandi rupang" adalah bagian tak terpisahkan dari persiapan Imlek. "Kalau mandi rupang nanti kita lakukan pada 11 Februari. Mandi rupang itu memang tradisi, biasanya seminggu sebelum Imlek," ujarnya.
Advertisement
Advertisement
Selain ritual "mandi rupang", Wihara Amurva Bhumi juga melakukan serangkaian persiapan fisik lainnya. Kegiatan bersih-bersih bangunan dijadwalkan akan dimulai pada awal Februari, khususnya pada tanggal 2 Februari, dengan fokus pada pembersihan tembok dan tiang-tiang wihara.
Penyediaan perlengkapan ibadah juga menjadi prioritas utama. Wihara telah menyiapkan berbagai kebutuhan sembahyang, termasuk lilin berukuran besar. "Kita sudah sediakan lilin juga buat Imlek, dengan ukuran 50 kati," kata Arifin.
Dekorasi khas Imlek seperti lampion juga tidak luput dari perhatian. Pengurus berencana untuk mengganti lampion dan dekorasi lainnya mendekati hari perayaan, tepatnya pada 10 Februari. "Nanti 10 Februari, ganti baru semua, lampion juga beda," tambah Arifin.
Advertisement
Advertisement
Malam puncak perayaan Imlek di Wihara Amurva Bhumi akan diawali dengan sembahyang bersama yang diperkirakan berlangsung sekitar satu setengah jam. Setelah itu, umat dan pengunjung akan dihibur dengan pertunjukan barongsai yang menjadi salah satu daya tarik utama.
Wihara Amurva Bhumi akan dibuka selama 24 jam penuh pada malam Imlek untuk mengakomodasi kunjungan umat. Wihara juga akan tetap menerima kunjungan hingga dua minggu setelah Imlek, sampai penutupan perayaan Cap Go Meh. "Kalau malam Imlek 24 jam kita bukanya, dalam dua minggu sampai Cap Go Meh akhir Imlek tuh penutupan," jelas Arifin.
Pengurus memprediksi bahwa sekitar 500 hingga 700 orang akan datang mengunjungi wihara pada malam puncak Imlek. Namun, jumlah ini dapat berfluktuasi tergantung pada kondisi cuaca. "Kalau malam Imleknya bisa ratusan orang, bisa 500 orang, 700 orang juga ada. Kalau hujan paling sekitar 300-400 orang, kalau enggak hujan bisa ramai sampai 700 an orang," ungkap Arifin.
Advertisement
Sumber: AntaraNews