Tim SAR gabungan akhirnya bisa mengevakuasi turun jenazah pertama yang ditemukan setelah tertahan selama 30 jam di lereng Gunung Bulusaraung. Nantinya, jenazah korban jatuhnya pesawat Indonesia Air Transport (IAT) ATR 42-500 ini akan dievakuasi ke Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros untuk selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Makassar.
Kepala Basarnas Makassar Muh Arif Anwar membenarkan personel SAR masih dalam perjalanan mengevakuasi turun jenazah yang ditemukan pertama dari lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep ke Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.
"Sementara masih dalam perjalanan," ujarnya saat dihubungi melalui telepon, Selasa (20/1).
Advertisement
Menelusuri Jejak Serpihan Pesawat
Arif menyampaikan bahwa tim SAR gabungan melakukan teknik rappeling di titik yang tidak jauh dari lokasi awal pesawat menabrak punggungan.
“Tim menurunkan tali sekitar 100 meter ke dasar jurang yang berada dekat dengan serpihan pesawat. Proses turun menggunakan tali dan alat descender memakan waktu sekitar dua hingga tiga menit per orang,” ujar Arif.
Ia memaparkan sebanyak 10 personel tim SAR gabungan diturunkan ke dasar jurang. Setibanya di bawah, tim melakukan penyisiran dengan berjalan mengikuti celah jalur air sambil menelusuri jejak serpihan pesawat sejauh kurang lebih 200 meter ke arah bawah.
Advertisement
Evakuasi ke Kampung Terdekat
Sementara salah satu rescuer Basarnas Makassar, Rusmadi mengungkapkan kondisi yang dihadapi tim di lapangan saat melakukan evakuasi korban pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan. Setelah itu, tim melakukan proses packing jenazah selama kurang lebih satu jam karena posisi korban berada di kemiringan kurang lebih 30 derajat dan tepat di bibir tebing.
"Upaya pengangkatan jenazah sempat dilakukan ke arah atas sejauh sekitar 60 meter," kata dia.
Namun, karena keterbatasan tenaga, peralatan, serta kondisi hujan deras yang terus mengguyur lokasi membuat tim melakukan evaluasi lapangan.
“Setelah diskusi, tim memutuskan mengubah arah evakuasi ke bawah menuju kampung terdekat karena medan dinilai lebih memungkinkan untuk proses evakuasi lanjutan,” jelas Rusmadi.
Advertisement
Kondisi Cuaca Makin Buruk
Namun selama proses evakuasi ke bawah yang berlangsung sekitar tiga jam, kondisi cuaca semakin memburuk. Hujan deras disertai kabut tebal dan suhu dingin menyelimuti area operasi, membuat pergerakan tim semakin terbatas.
Tim akhirnya memutuskan untuk bermalam di lereng tebing dengan kontur tanah berbatu yang labil dan berisiko longsor akibat hujan yang tidak berhenti. Seluruh personel bertahan bersama jenazah selama kurang lebih 30 jam di lokasi.
“Kami turun dari titik dekat punggungan awal pesawat jatuh. Setelah menemukan korban, kondisi medan dan cuaca benar-benar tidak bersahabat. Hujan deras, kabut tebal, dan dingin membuat kami harus bertahan di lereng tebing semalaman sambil menjaga jenazah,” kata Rusmadi.
Advertisement
Estafet Jenazah
Ia menambahkan, pada siang hari berikutnya (19/1), tim pertama melakukan estafet penyerahan jenazah kepada tim lanjutan karena kondisi fisik dan keselamatan personel sudah tidak memungkinkan untuk melanjutkan evakuasi.
“Keselamatan tim tetap menjadi prioritas, sehingga proses evakuasi dilanjutkan oleh tim berikutnya,” ujarnya.
Tim kedua yang melanjutkan estafet jenazah menuju area persawahan kampung Lampeso dengan waktu tempuh 20 jam perjalanan (20/1), dan melanjutkan intercept dengan tim ketiga di Desa Lampeso untuk menuju ke kampung baru melalui jalan setapak sekitar 15 kilometer dengan melewati medan yang bervariasi (punggungan dan sungai).
"Kemudian dilanjutkan lagi dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih 5 kilometer untuk mencapai jalan poros Kecamatan Cenrana dan kemudian akan dievakuasi ke RS Bhayangkara Makassar untuk diserahkan ke pihak DVI," ucapnya.