Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan (Polda Sulsel) telah menyiapkan tim Disaster Victim Identification (DVI) guna mengidentifikasi korban insiden kecelakaan pesawat ATR 42-500. Pesawat nahas ini dilaporkan jatuh di sekitar lereng gunung Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, yang mencakup wilayah Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep), pada Minggu (18/1).
Kepala Polda Sulsel, Inspektur Jenderal Polisi Djuhandhani Raharjo Puro, memastikan persiapan tim DVI telah rampung. Pihak kepolisian juga telah mengundang keluarga korban untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Tim DVI akan ditempatkan di Rumah Sakit TNI AU Dodi Sarjito Makassar untuk pelaksanaan pemeriksaan antemortem dan postmortem.
Selain tim dari Polda Sulsel, tim DVI dari Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri) juga dikerahkan untuk membantu proses identifikasi. Koordinasi intensif terus dilakukan dengan seluruh pemangku kepentingan dalam operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban kecelakaan pesawat ATR tersebut.
Advertisement
Advertisement
Persiapan Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat ATR Sulsel
Polda Sulsel mengambil langkah cepat dengan mempersiapkan tim DVI khusus untuk kecelakaan pesawat ATR Sulsel. Tim ini bertugas mengumpulkan data antemortem dari keluarga korban, seperti rekam medis, sidik jari, dan ciri-ciri fisik khusus, yang kemudian akan dicocokkan dengan temuan postmortem dari jenazah. Proses ini krusial untuk memastikan identifikasi yang akurat dan valid.
Inspektur Jenderal Polisi Djuhandhani Raharjo Puro menekankan pentingnya komunikasi berkelanjutan dengan keluarga korban. Pihak berwenang berupaya memberikan informasi terkini mengenai perkembangan operasi SAR dan proses identifikasi. Kehadiran tim DVI dari Mabes Polri juga memperkuat kapasitas identifikasi di lapangan.
Rumah Sakit TNI AU Dodi Sarjito Makassar menjadi pusat penanganan medis dan identifikasi. Fasilitas ini dilengkapi untuk mendukung kerja tim DVI dalam mengumpulkan bukti dan melakukan analisis forensik. Seluruh upaya ini bertujuan untuk memberikan kepastian kepada keluarga korban secepat mungkin.
Advertisement
Advertisement
Kronologi Hilang Kontak Pesawat ATR 42-500
Pesawat latih ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.17 WITA. Insiden ini terjadi saat pesawat dalam penerbangan dari Yogyakarta menuju Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Pesawat awalnya berangkat pukul 09.08 WITA dengan estimasi tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar pukul 12.22 WITA.
Pada pukul 12.23 WITA, pesawat dengan registrasi PK-THT menerima instruksi dari petugas Air Traffic Control (ATC) Makassar Radar. Instruksi tersebut mengarahkan pesawat untuk melakukan intercept ILS runway 21 melalui Openg pada ketinggian 5.300 kaki. Namun, pesawat dilaporkan melewati titik yang telah ditentukan, memicu kekhawatiran.
Setelah melewati titik instruksi, pesawat tersebut kemudian dilaporkan hilang kontak. Perkiraan titik koordinat terakhir adalah 04°57’08” lintang selatan dan 119°42’54” bujur timur. Lokasi ini berada di atas wilayah udara perbatasan Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, yang menjadi fokus utama area pencarian.
Advertisement
Advertisement
Penemuan Serpihan dan Operasi SAR Gabungan
Operasi SAR gabungan memasuki hari kedua berhasil menemukan serpihan pesawat ATR 42-500. Penemuan ini menjadi petunjuk penting dalam upaya pencarian korban dan badan pesawat. Serpihan ditemukan di sekitar lereng Gunung Bulusaraung, Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung.
Kepala Kantor Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, Muhammad Arif Anwar, menyatakan bahwa penemuan serpihan ini sangat membantu mempersempit area pencarian. Tim SAR gabungan kini fokus pada pengamanan lokasi, pendataan temuan, serta penyesuaian taktik operasi sesuai kondisi medan. Medan yang sulit, terutama di area lereng, membutuhkan peralatan mountaineering khusus untuk keselamatan personel.
Pada pukul 07.46 WITA, tim menemukan serpihan berupa bagian jendela pesawat dalam kondisi kecil di koordinat 04°55’48” LS – 119°44’52” BT. Informasi lebih lanjut menyebutkan penemuan bagian badan pesawat berukuran besar, bagian puntak pesawat yang telah terbuka, serta bagian ekor pesawat di lereng bawah lokasi kejadian. Penemuan ini melibatkan tim udara dan darat.
Advertisement
Pesawat tersebut membawa 11 orang, terdiri dari delapan kru pesawat dan tiga penumpang. Kru pesawat meliputi Captain Andy Dahananto, Yudha Mahardika, Captain Sukardi, Hariadi, Franky D Tanamal, Junaidi, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita. Sementara itu, penumpang teridentifikasi atas nama Deden, Ferry, dan Yoga. Operasi SAR melibatkan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Makassar, TNI, Polri, AirNav Indonesia, Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta dukungan masyarakat setempat.
Sumber: AntaraNews