Probolinggo, 17 Januari 2026 – Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, KH Moh Zuhri Zaini, menyatakan bahwa misi utama pesantren adalah dakwah yang mencakup aspek sangat luas. Misi ini tidak hanya terbatas pada ritual dan spiritual, tetapi juga merambah ke ranah sosial, ekonomi, bahkan politik.
Pernyataan ini disampaikan Kiai Zuhri dalam acara halaqah alumni yang merupakan bagian dari rangkaian Haul Masyayikh dan peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-77 Pondok Pesantren Nurul Jadid. Acara tersebut berlangsung di Aula Ponpes Nurul Jadid Paiton, Probolinggo, pada Sabtu lalu.
Kiai Zuhri menekankan bahwa pesantren memiliki peran krusial dalam membentuk masyarakat yang utuh, dengan mencontohkan Nabi Muhammad SAW dan pendiri Ponpes Nurul Jadid, KH Zaini Mun'im, sebagai teladan dalam mengintegrasikan dakwah dengan berbagai aspek kehidupan.
Advertisement
Advertisement
Peran Ekonomi dalam Misi Dakwah Pesantren
Kiai Zuhri menyoroti pentingnya penguasaan ekonomi sebagai bagian integral dari misi dakwah pesantren. Beliau mencontohkan Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai pebisnis sukses, menggunakan hartanya untuk mendukung perjuangan dakwah.
Hal serupa juga dilakukan oleh pendiri Ponpes Nurul Jadid, KH Zaini Mun'im, yang merupakan seorang pebisnis tembakau. Dari hasil penjualan tembakau yang dibudidayakannya, Kiai Zaini Mun'im mampu membangun masjid pertama di pesantren tersebut.
“Beliau mengajarkan bahwa ekonomi adalah sarana ibadah dan perjuangan,” tutur Kiai Zuhri, menggarisbawahi bahwa kekuatan finansial dapat menjadi penopang utama dalam menyebarkan ajaran agama dan nilai-nilai kebaikan.
Advertisement
Kiai Zuhri juga mengutip semboyan “Laisa indal fulus fahuwa manfus” (orang yang tidak punya uang akan mampus/sulit bergerak), menegaskan betapa vitalnya kemandirian ekonomi bagi keberlangsungan dan efektivitas dakwah.
Advertisement
Dakwah Kultural dan Pendidikan Inovatif Nurul Jadid
Selain aspek ekonomi, Kiai Zuhri juga menceritakan pendekatan dakwah kultural yang bijak yang diterapkan oleh KH Zaini Mun'im. Salah satu contoh yang diberikan adalah bagaimana pendiri pesantren tersebut berhasil mengubah tradisi sesajen di sawah menjadi tumpengan yang disertai doa Yasin dan Tahlil.
“Cara mengubah tradisi yang tidak sesuai syariat dilakukan dengan bijak, tidak dengan marah-marah apalagi memakai pentungan. Ini perlu kita tiru,” kata Kiai Zuhri, menyoroti pentingnya pendekatan persuasif dan adaptif dalam dakwah.
Dalam bidang pendidikan, Pesantren Nurul Jadid diakui telah menerapkan kurikulum yang lengkap sejak dini, jauh sebelum kurikulum nasional diterapkan secara luas. Kurikulum ini menggabungkan ilmu agama (kitab kuning) dengan ilmu umum seperti matematika dan sosiologi, menunjukkan visi pendidikan yang holistik.
Advertisement
Integrasi ilmu agama dan umum ini mencerminkan upaya pesantren untuk mencetak santri yang tidak hanya mendalami ilmu keagamaan, tetapi juga memiliki bekal pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Advertisement
Peran Alumni dan Makna Sejati Santri
Dalam forum halaqah yang dihadiri oleh alumni dari berbagai negara, Kiai Zuhri menekankan agar kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi seremonial rutin. Beliau mengungkapkan kekhawatiran jika halaqah alumni hanya bertujuan meramaikan suasana haul tanpa dampak konkret.
Menurut Kiai Zuhri, tanda keseriusan sebuah halaqah adalah lahirnya keputusan-keputusan atau rekomendasi penting yang realistis dan sesuai dengan kondisi di lapangan. “Saya harapkan ini betul-betul serius, tidak hanya seremonial dan jangan sampai hanya selesai di halaqah kemudian tinggal catatan saja dalam sejarah. Harus ada implementasi dan pertemuan lanjutan untuk membahas masalah teknis di lapangan,” ucapnya.
Kiai Zuhri juga mengulas sejarah pesantren yang akar budayanya telah dimulai sejak zaman Nabi Muhammad SAW, menyebut istilah “santri” dalam bahasa Madura sering disebut “kancah” yang merupakan terjemahan dari kata “sahabat”. Ini mencerminkan hubungan yang sangat akrab dan tanpa jarak antara guru (Kiai) dan murid (santri), sebagaimana Nabi Muhammad SAW memperlakukan para sahabatnya.
Advertisement
“Sebagai alumni tetaplah santri, bukan ‘alumni santri’, kalau alumni pesantren boleh, tapi jangan sampai menjadi mantan santri. Lebih baik menjadi mantan preman seperti Sunan Kalijaga yang berproses menjadi wali, daripada menjadi mantan santri,” seloroh Kiai Zuhri, yang disambut khidmat oleh peserta halaqah, menegaskan identitas santri yang melekat seumur hidup.
Sumber: AntaraNews