Presiden Prabowo Subianto sangat terkesan dengan kemampuan berorasi dalam bahasa asing yang ditunjukkan oleh siswa Sekolah Rakyat. Pada acara peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 provinsi yang berlangsung di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada Senin (12/1), sejumlah siswa berpidato dalam empat bahasa di hadapan Prabowo.
"Luar biasa mereka itu. Yang (pidato) bahasa Inggris luar biasa. Karena saya besar di luar negeri, kalau saya bagus bahasa Inggrisnya, wajar (karena) saya pernah tinggal di daerah-daerah itu. Tapi anak ini, saya kagum juga sama dia tadi," ungkap Prabowo.
"Mungkin, bagusnya kita kirim juga ke luar negeri. Kira-kira bagaimana?" yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari para hadirin.
Prabowo juga mengapresiasi prestasi siswa-siswa Sekolah Rakyat yang meskipun baru beroperasi selama enam bulan, sudah mampu mencetak siswa-siswa berbakat. "Saya kagum, masa baru enam bulan tadi saya lihat, sudah ada yang juara olimpiade. Juara Olimpiade Matematika. Luar biasa," ujarnya.
Sekolah Rakyat sendiri didirikan sebagai upaya pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan ekstrem melalui pendidikan berasrama gratis. Melalui sekolah ini, anak-anak dari keluarga kurang mampu, khususnya yang termasuk dalam kelompok desil 1 dan desil 2 menurut Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), diberikan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Para siswa yang berhasil menarik perhatian Presiden berasal dari latar belakang ekonomi yang rentan, dengan orang tua yang bekerja di sektor informal dan memiliki penghasilan terbatas. Salah satu contohnya adalah M. Kiendra Lian Damarta, yang menyampaikan orasi dalam bahasa Inggris, merupakan anak dari seorang pengemudi ojek online dengan pendapatan yang tidak menentu.
Keluarga Kiendra tinggal menumpang di rumah sanak saudara. Sekolah Rakyat memberikan kesempatan bagi Kiendra untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah atas. Selain itu, ada juga Muhammad Nazril Kurniawan, anak tunggal dari ayah yang bekerja sebagai cleaning service dengan penghasilan yang tidak tetap, serta Nazila Barqiah Harum yang berasal dari keluarga pedagang kecil dengan pendapatan yang tidak menentu, dan siswa-siswa lainnya dari keluarga kurang mampu.
Advertisement
Siswa Sekolah Rakyat Ukir Prestasi
Momen yang paling mengharukan dalam acara tersebut terjadi saat siswa Sekolah Rakyat memberikan orasi berjudul 'Terima Kasih Presiden' dalam empat bahasa: Inggris, Arab, Mandarin, dan Jepang. Dalam pidato berbahasa Inggris, siswa-siswa tersebut secara langsung menyebut Presiden Prabowo Subianto dan para menteri Kabinet Merah Putih, menegaskan bahwa mereka tidak berdiri di sana sebagai anak-anak yang paling pintar atau paling beruntung, melainkan sebagai anak-anak yang akhirnya mendapatkan kesempatan.
Melalui bahasa Arab, mereka menyampaikan pesan yang sederhana namun sangat berarti: bagi mereka, sekolah adalah simbol harapan dan masa depan. Dalam bahasa Mandarin, para siswa menegaskan bahwa Sekolah Rakyat telah memberikan mereka kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan menjadi individu yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sementara itu, dalam bahasa Jepang, mereka menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Presiden Prabowo atas kepeduliannya kepada mereka, anak-anak kecil yang akan menjadi penerus bangsa Indonesia.
Di bagian lain dari orasi, siswa-siswa ini juga mengekspresikan empati terhadap anak-anak di Palestina yang hingga kini masih belum mendapatkan akses pendidikan, serta kepada korban bencana di Sumatra yang kehilangan rumah dan keluarga. Mereka mengajak seluruh anak Indonesia untuk terus belajar, karena belajar adalah kunci untuk mengubah nasib dan membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.