Gerakan Jiwitan Si Manis Probolinggo: Inovasi Tekan Stunting Berbasis Gotong Royong

Kabupaten Probolinggo meluncurkan Gerakan Jiwitan Si Manis, sebuah inovasi berbasis jimpitan untuk menekan angka stunting dengan semangat gotong royong ASN dan masyarakat. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan gizi keluarga sasaran stunting.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gerakan Jiwitan Si Manis Probolinggo: Inovasi Tekan Stunting Berbasis Gotong Royong
Kabupaten Probolinggo meluncurkan Gerakan Jiwitan Si Manis, sebuah inovasi berbasis jimpitan untuk menekan angka stunting dengan semangat gotong royong ASN dan masyarakat. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan gizi keluarga sasaran stunting. (AntaraNews)

Probolinggo, Jawa Timur, menjadi saksi lahirnya inovasi sosial bernama Gerakan “Jiwitan Si Manis” yang digagas untuk menekan angka stunting di wilayah tersebut. Gerakan ini merupakan jimpitan atau sumbangan sukarela yang disalurkan secara rutin setiap bulan, khususnya pada hari Jumat manis. Inisiatif ini menjadi salah satu upaya konkret Pemerintah Kabupaten Probolinggo dalam mengatasi permasalahan gizi buruk pada anak.

Camat Maron, Nurhafiva, menyatakan bahwa gerakan ini menjadi simbol kuat semangat gotong royong dan kepedulian Aparatur Sipil Negara (ASN) Kecamatan Maron. Mereka berupaya membantu pemenuhan gizi keluarga yang menjadi sasaran program penanganan stunting. Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa penanganan stunting memerlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, bukan hanya satu pihak saja.

Gerakan “Jiwitan Si Manis” diinisiasi sebagai bentuk kerja sama antara pemerintah kecamatan, tenaga kesehatan, pendamping sosial, dan pemerintah desa. Inovasi ini sejalan dengan visi dan misi Bupati dan Wakil Bupati Probolinggo yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD). Tujuannya adalah meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) melalui penurunan angka stunting di daerah tersebut.

Penanganan stunting merupakan tantangan kompleks yang membutuhkan pendekatan multisektoral. Gerakan “Jiwitan Si Manis” berhasil mengintegrasikan berbagai pihak, mulai dari ASN Kecamatan Maron hingga tenaga kesehatan di lapangan. Keterlibatan pendamping sosial dan pemerintah desa juga memastikan bantuan dapat menjangkau keluarga yang paling membutuhkan.

Camat Nurhafiva menekankan bahwa kolaborasi ini adalah kunci keberhasilan program. Seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat berkontribusi dalam upaya penanganan stunting. Dengan demikian, beban penanganan tidak hanya ditanggung oleh satu pihak, melainkan menjadi tanggung jawab bersama.

Koordinasi yang erat antara Puskesmas, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB), bidan desa, serta kader posyandu menjadi fondasi penting. Mereka berperan dalam menentukan keluarga penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan. Hal ini memastikan bahwa bantuan gizi yang disalurkan tepat sasaran dan memberikan dampak maksimal.

Inspirasi Gerakan “Jiwitan Si Manis” berasal dari budaya lokal jimpitan, yaitu tradisi gotong royong masyarakat untuk mengumpulkan sesuatu secara sukarela demi tujuan bersama. ASN Kecamatan Maron mengadaptasi nilai luhur ini dengan menyisihkan sebagian rezeki mereka. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan untuk membantu keluarga dengan anak stunting yang kondisi ekonominya kurang beruntung.

Budaya jimpitan ini dihidupkan kembali dalam bentuk donasi sukarela dari ASN. Donasi dikumpulkan dalam kaleng yang ditempatkan di setiap ruangan kantor kecamatan. Hasil pengumpulan dana ini kemudian didistribusikan kepada keluarga stunting yang paling membutuhkan di wilayah tersebut.

Gerakan ini lahir dari rasa empati dan kepedulian ASN Kecamatan Maron terhadap permasalahan stunting. Mereka ingin bertanggung jawab tidak hanya melalui program formal, tetapi juga melalui gerakan moral yang nyata. Ini menunjukkan komitmen kuat dari ASN untuk berkontribusi aktif dalam kesejahteraan masyarakat.

Pengumpulan donasi “Jiwitan Si Manis” dilakukan secara rutin setiap bulan, tepatnya pada hari Jumat manis. Proses penyaluran bantuan juga dikoordinasikan dengan tenaga kesehatan dan kader di lapangan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa keluarga yang menerima bantuan adalah mereka yang benar-benar membutuhkan dan bantuan tersebut berdampak positif pada pemenuhan gizi anak.

Sebagai langkah awal, telah dibentuk Tim Penyusun Gagasan Inovasi melalui Keputusan Camat Maron. Tim ini bertugas menyusun mekanisme program, memastikan transparansi dalam pengelolaan dana, dan mengawal keberlanjutan program. Transparansi menjadi prioritas untuk menjaga kepercayaan para donatur dan penerima manfaat.

Meskipun kontribusi Gerakan “Jiwitan Si Manis” mungkin tidak secara instan menurunkan angka stunting secara signifikan, setiap upaya memiliki arti besar. Pemerintah Kecamatan Maron berharap gerakan ini dapat menumbuhkan kesadaran kolektif dan budaya saling peduli di masyarakat. Dengan demikian, penanganan stunting dapat dilakukan secara berkelanjutan dan menyentuh langsung mereka yang membutuhkan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi