Gubernur Sulteng Dukung Penuh Aspirasi Warga untuk Wujudkan Taman Memorial Balaroa

Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyatakan dukungan penuh terhadap aspirasi masyarakat korban likuefaksi Balaroa untuk menjadikan kawasan terdampak sebagai Taman Memorial Balaroa, bukan lagi permukiman.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Gubernur Sulteng Dukung Penuh Aspirasi Warga untuk Wujudkan Taman Memorial Balaroa
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid menyatakan dukungan penuh terhadap aspirasi masyarakat korban likuefaksi Balaroa untuk menjadikan kawasan terdampak sebagai Taman Memorial Balaroa, bukan lagi permukiman. (AntaraNews)

Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, menegaskan dukungannya terhadap aspirasi masyarakat korban likuefaksi Balaroa terkait pemanfaatan dan penataan kawasan terdampak bencana sebagai taman memorial. Kawasan di Palu ini diharapkan menjadi tempat mengenang tragedi, berziarah, dan edukasi kebencanaan bagi generasi mendatang.

Pernyataan ini disampaikan saat Gubernur Anwar Hafid menerima audiensi perwakilan Forum Likuefaksi Balaroa di Palu pada hari Sabtu. Beliau sepakat bahwa area likuefaksi tidak lagi cocok untuk pembangunan perumahan, melainkan lebih tepat ditata secara rapi dan humanis sebagai taman memorial.

Dukungan ini menjadi angin segar bagi ribuan korban likuefaksi yang kini tersebar di hunian tetap dan sementara, serta menaruh harapan besar pada komitmen pemerintah untuk mewujudkan Taman Memorial Balaroa. Inisiatif ini bertujuan untuk memperjuangkan solusi penanganan yang bermartabat dan berkeadilan bagi para penyintas bencana.

Komitmen Pemerintah Provinsi untuk Taman Memorial

Gubernur Anwar Hafid secara tegas menyatakan kesepakatannya bahwa kawasan likuefaksi Balaroa tidak lagi digunakan untuk perumahan, melainkan sebagai taman memorial. Konsep ini didasari pada kebutuhan akan tempat untuk mengenang, berziarah, serta sebagai pusat edukasi kebencanaan yang penting bagi generasi mendatang.

Untuk merealisasikan aspirasi ini, Gubernur mendorong masyarakat membentuk yayasan atau ikatan persaudaraan sebagai badan pengelola kawasan. Hal ini penting mengingat status lahan yang masih merupakan milik warga, sehingga pengelolaan bersama melalui yayasan akan mempermudah proses.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah siap memberikan dukungan dan bantuan melalui mekanisme yang sesuai dengan aturan yang berlaku. Masyarakat dapat mengajukan proposal konsep Taman Memorial Balaroa melalui yayasan tersebut, dan pemerintah akan mempelajarinya sesuai ketentuan.

Aspirasi Warga dan Nilai Sejarah Balaroa

Ketua Forum Likuefaksi Balaroa, Abdul Rahman Kasim, menyampaikan bahwa masyarakat korban likuefaksi masih memiliki harapan besar terhadap komitmen pemerintah. Sejak awal, pemerintah telah menyatakan bahwa kawasan ini tidak akan dibangun permukiman, melainkan dijadikan Memorial Park.

Kawasan Balaroa memiliki nilai sejarah dan kemanusiaan yang sangat tinggi, mengingat masih ada ratusan korban yang belum berhasil dievakuasi pasca-bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi Palu 2018. Tragedi kemanusiaan ini telah menjadi bagian dari sejarah dunia yang perlu dikenang dan dipelajari.

Pembentukan Forum Likuefaksi Balaroa sendiri merupakan wadah persaudaraan bagi korban bencana untuk memperjuangkan penanganan yang bermartabat. Mereka menyuarakan pentingnya penetapan kawasan terdampak likuefaksi Balaroa sebagai taman memorial untuk mengenang para korban.

Rencana Jangka Panjang Edukasi Kebencanaan

Selain dukungan terhadap Taman Memorial Balaroa, Gubernur Anwar Hafid juga mengungkapkan rencana jangka panjang Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah. Rencana tersebut adalah pembangunan museum kebencanaan sebagai pusat dokumentasi tragedi gempa, tsunami, dan likuefaksi Palu 2018.

Museum ini direncanakan mulai dibangun pada tahun 2027, menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam upaya mitigasi dan edukasi kebencanaan. Keberadaan museum ini akan melengkapi fungsi Taman Memorial Balaroa sebagai sarana pembelajaran dan pengingat.

Inisiatif ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada masyarakat tentang risiko bencana. Dengan demikian, generasi mendatang dapat belajar dari pengalaman masa lalu dan lebih siap menghadapi potensi bencana di masa depan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi