Trauma Psikis Hantui Korban Lakalantas Makassar, Keluarga Terbebani Biaya dan Teror Pelaku

Irma, korban lakalantas di Makassar, alami trauma psikis dan kesulitan finansial pasca kecelakaan, sementara keluarga juga diteror pelaku, menambah beban berat.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Trauma Psikis Hantui Korban Lakalantas Makassar, Keluarga Terbebani Biaya dan Teror Pelaku
Irma, korban lakalantas di Makassar, alami trauma psikis parah setelah kecelakaan 7 Desember 2025. Ia kini cemas akan biaya pengobatan dan teror pelaku. (AntaraNews)

Seorang warga Makassar bernama Irma kini harus berjuang menghadapi trauma psikis dan beban ekonomi setelah mengalami kecelakaan lalu lintas pada 7 Desember 2025. Insiden nahas ini terjadi di Jalan Sibula Dalam, Makassar, meninggalkan dampak mendalam pada kehidupannya.

Akibat kecelakaan tersebut, Irma mengalami patah kaki yang memerlukan operasi dan kini dalam masa pemulihan panjang. Kondisi ini tidak hanya menghambat aktivitas fisiknya, tetapi juga memicu kecemasan berlebihan mengenai masa depan, bahkan ia mengaku takut mengemudikan motor lagi.

Beban finansial keluarga kian terasa berat karena Irma tidak lagi bisa bekerja dan suaminya, Basri, terpaksa menunda melaut. Situasi ini diperparah dengan dugaan teror dari pihak pelaku kecelakaan, menambah penderitaan yang harus ditanggung keluarga di Jalan Barukang VI.

Dampak Psikis dan Beban Ekonomi Pasca Kecelakaan

Trauma psikis korban lakalantas Makassar ini sangat nyata, membuat Irma kesulitan tidur nyenyak. Kecemasan akan biaya penyembuhan pasca operasi menjadi pikiran utama yang terus menghantuinya. "Saya beberapa hari ini tidak bisa tidur nyenyak karena memikirkan dimana ambil uang untuk biaya pasca kecelakaan," ungkap Irma.

Selain biaya pengobatan, keluarga juga menghadapi pengeluaran tak terduga lainnya. Misalnya, biaya antar jemput anak sekolah yang sebelumnya dilakukan oleh Irma kini harus menggunakan ojek online. Kondisi Irma yang tidak bisa berjalan sendiri membuat aktivitas sehari-hari menjadi sangat terbatas.

Sebelum kecelakaan, Irma aktif membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kebutuhan pokok nelayan dan nasi kuning. Namun, kini ia bahkan kesulitan berjalan ke kamar mandi tanpa bantuan. Suaminya, Basri, seorang nelayan, juga terpaksa tidak melaut untuk fokus mendampingi proses pemulihan istrinya.

Perjuangan Keluarga di Tengah Keterbatasan

Daniel, anak korban, menjelaskan bahwa ibunya memerlukan istirahat total untuk penyembuhan patah kaki. Meskipun biaya rumah sakit dan operasi telah ditanggung Jasa Raharja, kebutuhan lain seperti popok dan perbaikan motor harus ditanggung sendiri. Ini menambah daftar pengeluaran yang tidak sedikit.

Keluarga berupaya mencari solusi alternatif untuk mempercepat penyembuhan, termasuk mempertimbangkan obat herbal (China) setelah obat dari rumah sakit habis. Daniel juga menyoroti bagaimana ibunya harus menjalani check up rutin sesuai anjuran dokter untuk memantau perkembangan pasca operasi. "Dokter minta untuk melakukan check up karena masih ingin dilihat bagaimana perkembangan setelah operasi," jelas Irma.

Keterbatasan finansial semakin menekan keluarga. Harapan akan bantuan serius dari pelaku kecelakaan sempat muncul, namun hanya berujung pada tawaran ganti rugi sebesar Rp500 ribu. Jumlah ini dianggap tidak sebanding dengan kerugian dan penderitaan yang dialami, sehingga keluarga melaporkan kejadian ini ke kepolisian.

Teror Pelaku dan Harapan Keadilan

Penderitaan keluarga korban lakalantas Makassar semakin bertambah dengan adanya dugaan "teror" dari pihak pelaku. Pelaku mengirimkan link berita online yang menuduh keluarga korban memeras. Padahal, tujuan keluarga hanya berharap pelaku dapat membantu meringankan beban biaya selama masa penyembuhan.

Daniel menuturkan, keluarga awalnya sangat berharap ada keseriusan pelaku untuk ikut membantu meringankan beban. Namun, respons pelaku yang dianggap tidak serius membuat keluarga merasa kecewa. Mereka kini mendesak kepolisian untuk menindaklanjuti laporan agar keadilan dapat ditegakkan.

Insiden kecelakaan yang memicu semua permasalahan ini terjadi pada Minggu, 7 Desember 2025, di Jalan Sibula Dalam, Makassar. Kecelakaan ini melibatkan motor milik Irma dan mobil pelaku. Kasus ini menyoroti pentingnya penanganan yang adil dan empati terhadap korban kecelakaan lalu lintas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi