Gubernur Jakarta Pramono Anung terang-terangan mengenai komunikasinya dengan mantan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.
Pramono mengungkap sempat bertanya kepada Ahok mengenai beban pekerjaan rumah (PR) yang masih mengganjal dan belum tuntas di Jakarta.
Dari pembicaraan tersebut, terungkap dua 'utang' masa lalu yang menjadi perhatian utama: sengketa lahan Sumber Waras dan nasib Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo.
"Kepada Ahok saya tanyakan, 'Pak Ahok, apa yang jadi beban Pak Ahok?' (Jawabannya) Sumber Waras dan Kalijodo," ungkap Pramono dalam acara Berita Satu Regional Forum 2025 di Jakarta, Rabu (10/12).
Kalijodo: Dari 'Sajadah' Balik Jadi 'Haram Jadah'
Pramono menyoroti kondisi miris Kalijodo saat ini. Ia mengenang bagaimana Ahok dulu sukses menyulap kawasan tersebut dari tempat prostitusi dan perjudian menjadi ruang terbuka hijau yang ramah anak.
Namun, kondisi itu berbalik 180 derajat setelah pergantian kepemimpinan karena kurangnya perawatan.
"Kalijodo itu dulu zaman sebelum Pak Ahok itu 'haram jadah' (tempat maksiat). Jadi 'tempat sajadah' karena ruang bermain anak-anak. Begitu ganti pemimpin enggak ada yang nyentuh lagi, apa yang terjadi? 'Haram jadah' lagi," sentil Pramono.
Tak ingin membiarkan aset publik itu terbengkalai, Pramono menegaskan komitmennya untuk membenahi kembali kawasan tersebut. "Sekarang kita perbaiki lagi," tegasnya.
Advertisement
Tuntaskan Kasus Sumber Waras
Selain Kalijodo, Pramono juga bertekad menyelesaikan polemik pembelian lahan RS Sumber Waras yang telah terkatung-katung selama lebih dari satu dekade. Menurutnya, ketidakjelasan status lahan ini hanya akan terus menyandera siapapun yang memimpin Jakarta jika tidak segera dibereskan.
"Sumber Waras terus terang saja, kalau tidak kita selesaikan, pasti ada tersangkanya. Sudah 10 tahun lebih," ujar Pramono.
Advertisement
Bukan Cari Panggung Sendiri
Pramono menekankan bahwa langkahnya membereskan proyek-proyek mangkrak dari era gubernur sebelumnya termasuk monorel (Bang Yos) dan integrasi JIS (Anies Baswedan) bukanlah bentuk pencitraan pribadi.
Ia mengaku sudah "selesai dengan dirinya sendiri" dan tidak memiliki ego untuk membuat monumen baru hanya demi namanya tercatat dalam sejarah.
"Salah satu problem bangsa ini adalah setiap ganti gubernur, ganti pemimpin, ingin namanya tercatat. Saya enggak. Saya ingin menyelesaikan semua persoalan gubernur yang tidak selesai sebelumnya," ungkap Pramono.
Reporter Magang : Muhammad Naufal Syafrie