Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bekerja sama dengan Radio Republik Indonesia (RRI) menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) dan Talkshow Film Radio. Acara ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional 2025.
Program Film Radio merupakan inisiatif pemutaran film inklusi yang dilengkapi fitur audio description sejak 2023.
Fitur tersebut memungkinkan penonton tunanetra menikmati film melalui narasi audio yang mendeskripsikan visual secara detail.
Ketua KPI Pusat, Ubaidillah, menegaskan bahwa akses terhadap informasi dan hiburan merupakan hak dasar seluruh warga negara, termasuk penyandang disabilitas.
“Informasi harus merata dan inklusif. Tidak hanya menyentuh mata dan telinga pemirsa, tetapi juga dapat dinikmati dan dipahami kelompok difabel,” ujar Ubaidillah.
Ia juga mengapresiasi kerja sama berkelanjutan antara KPI dan RRI yang secara konsisten menjalankan program Film Radio sebagai sarana pemenuhan hak informasi bagi penyandang disabilitas.
Advertisement
Kolaborasi Berbagai Pihak
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi KPI, RRI, dan Minikino. Kolaborasi itu bertujuan memperluas jangkauan ruang tontonan inklusif. Saat ini, Film Radio telah bermitra dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap isu kesetaraan, sehingga penyebaran pesan inklusi semakin luas.
Dua film yang diputar dalam kegiatan tersebut adalah “Takutan Basunat”, karya Forum Sineas Banua Banjarmasin, serta “Sorai: Inklusi dalam Seuntai Seni” dari Jogja Disability Arts. Kedua film tersebut mengangkat pengalaman disabilitas melalui pendekatan kreatif dan humanis.
Film “Takutan Basunat” menghadirkan cerita dekat dengan kehidupan masyarakat, sementara “Sorai: Inklusi dalam Seuntai Seni” menampilkan seni sebagai medium penguatan ruang inklusi.
Masyarakat di luar Jakarta turut mengikuti acara melalui platform Zoom, yang memastikan pesan kesetaraan dapat dijangkau oleh publik di berbagai wilayah.
Advertisement
Program Film Radio Pernah Dipresentasikan di Forum Internasional
Direktur Program dan Produksi RRI, Mistam, menekankan bahwa RRI memiliki komitmen panjang terhadap penyiaran yang inklusif dan bebas hoaks.
“RRI ini adalah Town Hall Meeting, rumah rakyat Indonesia. Semua stakeholder berhak berbicara objektif dan akurat. Haram hukumnya bagi RRI menyiarkan berita yang tidak benar,” ujar Mistam dalam sambutannya.
Ia pun menyampaikan bahwa program Film Radio sudah pernah dipresentasikan di forum internasional Asia Broadcasting Union sebagai bukti komitmen Indonesia dalam mengawal perlawanan terhadap diskriminasi.
Mistam menambahkan bahwa RRI siap memaksimalkan seluruh kanalnya baik digital maupun terrestial untuk mendukung program inklusif seperti Film Radio.
Sementara itu, Direktur Film Animasi, dan Video Kementerian Ekonomi Kreatif, Doni Setiawan, menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan acara ini.
Ia menilai bahwa penyiaran dan sinema inklusif merupakan bagian penting dari perkembangan industri kreatif nasional.
“Saya optimis masa depan perfilman Indonesia akan bergerak semakin inklusif, inovatif, dan berdaya saing,” ujar Doni.
Ia memaparkan bahwa PDB ekonomi kreatif tumbuh 5,69 persen hingga semester pertama tahun ini, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 26,4 juta orang.
Sektor film juga mengalami pertumbuhan signifikan, dengan hampir 300 judul film tercatat di LSF tahun ini dan meningkatnya minat penonton terhadap film lokal.
Menurut Doni, semakin banyak film Indonesia yang mengangkat budaya dan bahasa daerah, menandai perkembangan positif bagi industri perfilman nasional.
Reporter Magang: Ahmad Subayu