Banjir bandang yang melanda Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada Kamis, 27 November 2025, meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi warga setempat. Mereka tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tetapi juga orang-orang tercinta.
Hingga 2 Desember 2025, tercatat 115 orang meninggal dunia akibat bencana ini, sementara 76 orang lainnya masih hilang dan dalam proses pencarian. Selain itu, sebanyak 1.511 orang terpaksa mengungsi akibat dampak banjir.
Sebagaimana diberitakan Liputan6.com pada Selasa (2/12) sore, situasi di Palembayan masih sangat mencekam. Proses pencarian terus dilakukan oleh tim gabungan, baik di pemukiman yang tertimbun maupun di aliran sungai.
Di kawasan Salareh Aia, banyak rumah penduduk yang hancur dan ters swept oleh arus air bercampur bebatuan dan kayu besar. Beberapa bangunan yang masih berdiri terlihat dalam kondisi parah, dengan dinding yang bolong dan posisi rumah yang miring, nyaris roboh.
Data Korban Bencana Sumbar
Jumlah korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor di Sumatera Barat terus meningkat. Data terbaru per Selasa, 2 November 2025, menunjukkan bahwa 193 orang telah meninggal dunia, dan 116 orang lainnya masih hilang serta dalam pencarian di provinsi tersebut.
"Dari total tersebut, 161 korban telah berhasil diidentifikasi, sementara 32 korban lainnya belum diketahui identitasnya. Proses pendataan masih berlangsung karena temuan korban baru terus muncul di berbagai lokasi yang terdampak," ungkap Sekretaris Daerah Sumbar, Arry Yuswandi.
Dia juga menambahkan bahwa jumlah pengungsi yang tercatat mencapai 17.402 jiwa, yang berpindah ke berbagai tempat aman dengan fasilitas yang sangat terbatas.
Arry menjelaskan, tim SAR gabungan masih aktif melakukan pencarian dan evakuasi terhadap warga yang dilaporkan hilang. Menurutnya, tantangan terbesar berasal dari korban yang tertimbun material longsor dan kurangnya alat berat yang dapat digunakan di lokasi.
"Kesulitan dalam pencarian korban disebabkan oleh banyaknya yang tertimbun material longsor serta banjir bandang," jelas Arry.
"Tebalnya material, akses jalan yang terputus, dan cuaca yang tidak menentu semakin memperlambat mobilisasi tim penyelamat," tambahnya.
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement