Psikolog Paparkan Strategi Ampuh Keluar dari Hubungan Toksik Demi Jaga Mental

Psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Himpsi Kaltim, Fransisca Debi Oktavia, memaparkan strategi mengenali tanda bahaya dan langkah konkret keluar dari hubungan toksik untuk menyelamatkan kesehatan mental.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Psikolog Paparkan Strategi Ampuh Keluar dari Hubungan Toksik Demi Jaga Mental
Psikolog dari IPK Himpsi Kaltim, Fransisca Debi Oktavia, membagikan strategi penting untuk mengenali tanda bahaya dan langkah konkret keluar dari hubungan toksik demi menyelamatkan kesehatan mental. (AntaraNews)

Samarinda – Seorang psikolog klinis menyoroti pentingnya kesadaran dan strategi tepat bagi individu yang terjebak dalam hubungan toksik. Fransisca Debi Oktavia, psikolog dari Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kalimantan Timur, memaparkan langkah-langkah krusial untuk mengenali tanda bahaya dan berani mengambil keputusan demi menyelamatkan kesehatan mental.

Menurut Fransisca, banyak individu sering kali tidak menyadari bahwa mereka sedang terperangkap dalam siklus hubungan yang merugikan secara emosional dan psikologis. Situasi ini diperparah oleh berbagai faktor yang membuat korban sulit melepaskan diri, meskipun dampak negatifnya sudah terasa jelas.

Pemaparan ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk lebih peka terhadap dinamika hubungan yang dijalani. Dengan memahami strategi yang tepat, diharapkan setiap orang dapat menjaga kesejahteraan mentalnya dari dampak destruktif sebuah hubungan yang tidak sehat.

Mengenali Tanda Bahaya Hubungan Toksik

Fransisca Debi Oktavia menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang sulit keluar dari hubungan toksik. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah hubungan yang sudah berjalan lama, keluarga dan teman-teman sudah saling mengenal, serta adanya pola-pola yang sudah terbiasa dijalani.

Individu yang terjebak dalam hubungan toksik seringkali harus selalu menyesuaikan diri secara terus-menerus demi memenuhi keinginan pasangannya. Hal ini terjadi tanpa memikirkan kebutuhan batinnya sendiri, sehingga menimbulkan tekanan psikologis yang berkelanjutan.

Penting bagi setiap individu untuk secara jujur mengevaluasi apakah diri sendiri berkembang menjadi pribadi yang lebih baik atau justru menyusut menjadi kerdil dalam hubungan tersebut. Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan adalah apakah ia lebih sering merasa takut atau merasa nyaman saat berada di dekat pasangannya dalam keseharian.

Poin krusial lainnya adalah memastikan apakah pasangan benar-benar mengubah perilakunya secara nyata lewat tindakan dan bukan sekadar janji manis di bibir saja. Perubahan perilaku yang konsisten adalah indikator penting untuk menilai kesehatan sebuah hubungan.

Dampak Destruktif Hubungan Toksik pada Individu

Dampak destruktif dari hubungan toksik sangat beragam, salah satunya adalah hilangnya jati diri. Kondisi ini membuat korban melupakan siapa dirinya yang sebenarnya sebelum menjalani hubungan tersebut, mengikis identitas personal secara perlahan.

Hobi atau kegiatan positif yang dulu sering dilakukan perlahan mulai ditinggalkan karena fokus waktu dan energi yang tersita sepenuhnya hanya untuk melayani ego pasangan. Korban hubungan tidak sehat ini bahkan cenderung menarik diri dari lingkungan sosial, sehingga interaksinya dengan dunia luar atau sahabat lama menjadi sangat terbatas.

Penurunan fungsi sebagai manusia juga terlihat jelas ketika seseorang mendadak menjadi malas dan kehilangan gairah untuk menjalani kehidupan sehari-hari yang produktif. Produktivitas menurun drastis karena energi mental terkuras habis untuk mengelola dinamika hubungan yang tidak sehat.

Secara keseluruhan, hubungan toksik dapat menyebabkan kerusakan parah pada kesehatan mental dan emosional seseorang. Oleh karena itu, mengenali tanda-tandanya dan berani mengambil langkah adalah hal yang sangat penting.

Langkah Konkret untuk Melepaskan Diri

Psikolog Fransisca membagikan langkah pertama dan terpenting untuk melepaskan diri dari hubungan toksik adalah mengakui perasaan sendiri dan berhenti menyangkal kenyataan bahwa hubungan tersebut memang sudah tidak sehat. Penyangkalan hanya akan memperburuk kondisi mental dalam jangka panjang.

Rasa sayang yang masih tersisa seringkali menjadi penghalang utama bagi seseorang untuk keluar dari hubungan toksik. Namun, penting untuk menyadari bahwa mempertahankan hubungan yang merugikan diri sendiri bukanlah bentuk kasih sayang yang sehat.

Dukungan eksternal dari sistem pendukung yang positif seperti teman dekat atau keluarga sangat dibutuhkan untuk menguatkan mental dalam fase kritis ini. Lingkungan yang suportif dapat memberikan perspektif baru dan kekuatan emosional yang diperlukan.

Mencari bantuan profesional seperti psikolog juga merupakan langkah bijak untuk mendapatkan panduan dan strategi yang lebih terarah. Dengan demikian, proses pemulihan dari dampak hubungan toksik dapat berjalan lebih efektif dan terarah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi