Gubernur DKI Pramono Anung Akui Dengar Adanya Dugaan Bullying di Balik Ledakan SMAN 72 Jakarta

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui mendengar selentingan soal bully yang menjadi penyebab ledakan di SMAN 72 Jakarta.

Winda Nelfira
Oleh Winda Nelfira - Reporter
Gubernur DKI Pramono Anung Akui Dengar Adanya Dugaan Bullying di Balik Ledakan SMAN 72 Jakarta
Gubernur DKI Pramono Anung Akui Dengar Adanya Dugaan Bullying di Balik Ledakan SMAN 72 Jakarta (Merdeka.com)

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui mendengar adanya indikasi perundungan atau bullying yang dialami oleh terduga pelaku dalam kasus ledakan di SMAN 72 Jakarta.

Hal tersebut ia sampaikan usai meninjau langsung lokasi kejadian pada Senin (10/11).

“Ketika di lapangan saya mendapatkan beberapa hal tentang itu (dugaan bullying),” kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta.

Pramono menegaskan bahwa bentuk perundungan di sekolah tidak boleh terjadi karena dapat memicu tindakan berbahaya seperti yang menimpa SMAN 72.

“Jadi yang paling utama yang bersifat perundungan atau bullying tidak boleh terulang kembali karena ini bisa menjadi motivasi atau pemicu,” ujarnya.

Polisi Masih Selidiki Penyebab Ledakan

Kronologi Ledakan di SMA 72 Jakarta: 54 Korban Luka, Motif Bullying Diduga Jadi Pemicu
Sebuah ledakan mengguncang SMA Negeri 72 Jakarta di Kelapa Gading, menyebabkan 54 orang luka-luka dan diduga dipicu oleh kasus perundungan, memicu penyelidikan mendalam. AntaraNews

Meski mengakui mendengar adanya dugaan bullying, Pramono menegaskan bahwa penyelidikan sepenuhnya dilakukan oleh Polda Metro Jaya. Ia meminta masyarakat tidak berspekulasi dan menunggu hasil resmi dari pihak kepolisian.

“Karena ini yang berwenang sepenuhnya adalah kepolisian, mari kita tunggu bersama-sama apa yang sebenarnya terjadi. Jadi untuk itu saya tidak komentar, tetapi sekali lagi kita tunggu apa yang menjadi temuan yang sebenarnya,” jelasnya.

Hingga kini, Pemprov DKI Jakarta mencatat ada 30 korban dalam insiden tersebut yang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit.

Rinciannya, 14 orang dirawat di RS Islam Jakarta Cempaka Putih, 15 orang di RS Yarsi, dan satu orang di RS Pertamina Jaya.

Rekomendasi