Sutradara Rako Prijanto Hadirkan Sentuhan Lokal dalam Adaptasi What's Up with Secretary Kim

Film Adaptasi What's Up with Secretary Kim karya Rako Prijanto menjanjikan nuansa realistis dan sentuhan lokal yang berbeda dari versi Korea aslinya, siap tayang di Vidio.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Sutradara Rako Prijanto Hadirkan Sentuhan Lokal dalam Adaptasi What's Up with Secretary Kim
Film Adaptasi What's Up with Secretary Kim karya Rako Prijanto menjanjikan nuansa realistis dan sentuhan lokal yang berbeda dari versi Korea aslinya, siap tayang di Vidio. (AntaraNews)

Jakarta, Merdeka.com – Sutradara kenamaan Rako Prijanto kembali dengan karya terbarunya, sebuah adaptasi lokal dari serial drama Korea Selatan populer, “What's Wrong with Secretary Kim?” (2018). Film yang diberi judul “What’s Up with Secretary Kim?” ini akan menyuguhkan pengalaman menonton yang berbeda, dengan sentuhan realisme khas Indonesia.

Rako Prijanto mengungkapkan bahwa pendekatannya dalam menggarap film ini sangat berbeda dari versi aslinya yang cenderung komikal. Perubahan signifikan ini bertujuan agar cerita lebih dekat dan relevan dengan penonton Tanah Air, menjadikannya sebuah tontonan yang segar dan mudah dicerna.

Film produksi Falcon Pictures ini dijadwalkan tayang perdana di platform Vidio pada tanggal 8 November 2025. Penonton akan diajak menyaksikan chemistry antara Adipati Dolken dan Mawar De Jongh yang kembali beradu akting setelah sukses dalam film sebelumnya.

Rako Prijanto menjelaskan filosofi di balik keputusan untuk menghadirkan sentuhan realisme dalam Adaptasi What's Up with Secretary Kim. Menurutnya, pendekatan ini akan membuat penonton Indonesia merasa lebih terhubung dengan alur cerita dan karakter yang disajikan.

“Jadi, kalau kami tuh bikinnya sangat realis gitu, sementara versi Korea-nya kan sangat comical, gitu kan,” kata Rako dalam sesi tanya-jawab mengenai film barunya di Jakarta. Ia menambahkan bahwa beberapa elemen komikal dari serial asli sengaja dihilangkan untuk memperkuat nuansa realistis.

Rako Prijanto juga mencontohkan bagaimana frasa populer seperti 'aura' yang ada di versi Korea tidak akan terlalu ditonjolkan. “Nah di sini tuh enggak kami tonjolkan, karena memang kami kepingin realis, supaya, tadi ya dekat dengan penonton Tanah Air,” jelasnya, menekankan bahwa adaptasi ini dirancang agar lebih membumi.

Perbedaan antara Adaptasi What's Up with Secretary Kim dengan versi aslinya tidak hanya terletak pada gaya penceritaan, tetapi juga pada detail latar lokasi dan gaya busana para karakter. Hal ini menjadi salah satu upaya untuk memperkuat identitas lokal film tersebut.

Adipati Dolken, pemeran utama pria sebagai Rendra Prakasa, mengungkapkan adanya perubahan signifikan pada latar lokasi. “Ada satu adegan tempatnya kayak di angkringan,” kata Adipati, menunjukkan bagaimana elemen budaya Indonesia diintegrasikan ke dalam cerita.

Selain latar, aktris Mawar De Jongh yang memerankan karakter sekretaris Kimberly Laksono, juga menyebutkan penyesuaian pada pilihan busana. Penyesuaian ini dilakukan untuk memastikan bahwa penampilan karakter sesuai dengan konteks budaya dan realitas di Indonesia, sekaligus memberikan kesan yang lebih otentik.

Film “What’s Up with Secretary Kim?” menjadi ajang reuni bagi Adipati Dolken dan Mawar De Jongh yang sebelumnya pernah beradu akting. Kolaborasi mereka diharapkan dapat membawa dinamika yang menarik dan chemistry yang kuat di layar lebar.

Adipati dan Mawar mengaku senang bisa kembali bekerja sama setelah proyek "#Teman Tapi Menikah 2" pada tahun 2020. Pengalaman sebelumnya ini tentu menjadi modal berharga bagi keduanya untuk membangun karakter dan interaksi yang meyakinkan dalam film adaptasi ini.

Skenario film ini ditulis oleh Alim Sudio, seorang penulis skenario berpengalaman, yang turut berkontribusi dalam membentuk narasi Adaptasi What's Up with Secretary Kim agar sesuai dengan visi Rako Prijanto. Kolaborasi tim produksi ini diharapkan dapat menghasilkan karya yang berkualitas dan menghibur.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi