Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pertanian, menegaskan kembali komitmennya untuk menjaga stabilitas harga beras dan keterjangkauan pangan di seluruh wilayah. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa langkah ini penting guna memastikan akses pangan yang merata bagi masyarakat. Upaya ini menjadi prioritas nasional dalam menghadapi tantangan ketahanan pangan.
Dalam beberapa minggu terakhir, harga beras di tingkat nasional menunjukkan tren penurunan yang signifikan berkat berbagai langkah pengendalian yang telah diterapkan pemerintah. Meskipun demikian, Amran Sulaiman mengingatkan agar semua pihak tidak lengah dan terus memperketat pengawasan. Pengawasan ini akan terus ditingkatkan secara berkelanjutan.
Penurunan harga tersebut tercatat di berbagai daerah, namun pemerintah tetap fokus pada penguatan monitoring. Hal ini dilakukan melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Satuan Tugas Pengendali Harga Beras. Tujuannya adalah memastikan harga eceran tetap sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) di setiap provinsi.
Advertisement
Advertisement
Pengawasan Ketat Pemerintah Jaga Stabilitas Harga Beras
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan terhadap harga beras di pasar. "Harga beras telah turun di seluruh Indonesia, namun kita tidak boleh berpuas diri. Insya Allah, pengawasan akan semakin diperketat," ujar Amran dalam sebuah pernyataan pada Sabtu. Komitmen ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengawal ketersediaan pangan.
Meskipun sebagian besar wilayah menunjukkan perbaikan, pemerintah mengakui masih ada tantangan di beberapa daerah. Khususnya di wilayah non-produksi seperti Papua, harga beras masih terpantau melebihi HET yang ditetapkan. Situasi ini memerlukan perhatian khusus dan intervensi yang lebih intensif dari pihak berwenang.
Namun, Amran juga menyoroti keberhasilan di Merauke, Papua Selatan, di mana harga beras relatif stabil. Stabilitas ini dicapai berkat adanya program lumbung pangan (food estate) yang telah berjalan efektif di sana. Keberhasilan ini menjadi contoh nyata bagaimana program strategis dapat memberikan dampak positif pada harga pangan lokal.
Advertisement
Advertisement
Tren Penurunan Harga dan Peran Vital Bulog
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perkembangan positif terkait harga beras di Indonesia. Hingga minggu keempat Oktober 2023, sebanyak 225 kabupaten dan kota mencatat penurunan harga beras. Ini merupakan indikator bahwa upaya stabilisasi harga mulai membuahkan hasil yang nyata di lapangan.
Secara provinsi, dari 38 provinsi yang ada, 33 di antaranya mengalami depresiasi harga beras. Hanya lima provinsi yang menunjukkan perkembangan harga positif atau stabil. Penurunan terbesar tercatat di Papua Selatan, dengan angka 1,56 persen. Angka-angka ini menggambarkan tren positif secara keseluruhan.
Secara nasional, harga beras medium turun 1,65 persen dan beras premium turun 0,69 persen dibandingkan bulan September 2023. Untuk mendukung stabilitas ini, Perum Bulog terus mengoptimalkan distribusi beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program ini menjadi tulang punggung dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan beras.
Advertisement
Hingga 30 Oktober, Bulog telah mendistribusikan 564,6 ribu ton beras SPHP ke seluruh penjuru negeri. Dukungan ini diperkuat oleh stok beras yang sangat memadai, mencapai 3,9 juta ton. Dari jumlah tersebut, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menyumbang 3,754 juta ton, sementara sisanya merupakan stok komersial.
Sumber: AntaraNews