Film 'Pengin Hijrah' Bikin Penasaran, Ternyata Syuting di Uzbekistan dan Indonesia!

Film Pengin Hijrah siap tayang 30 Oktober 2025, menawarkan kisah romansa religi dengan latar eksotis Indonesia dan Uzbekistan, dijamin bikin penasaran ingin berwisata!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Film 'Pengin Hijrah' Bikin Penasaran, Ternyata Syuting di Uzbekistan dan Indonesia!
Film Pengin Hijrah siap tayang 30 Oktober 2025, menawarkan kisah romansa religi dengan latar eksotis Indonesia dan Uzbekistan, dijamin bikin penasaran ingin berwisata! (AntaraNews)

Industri perfilman nasional kembali menorehkan prestasi dengan produksi film di luar negeri melalui drama romansa-religi berjudul "Pengin Hijrah". Film ini dijadwalkan akan menyapa penonton di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 30 Oktober 2025. Karya kolaborasi antara Sinemata Pictures dan Multi Buana Kreasindo (MBK) Production ini disutradarai oleh Jastis Arimba.

Film "Pengin Hijrah" mencoba memvisualisasikan perjalanan spiritual dan romansa yang mendalam dengan latar tempat yang eksotis dan kaya budaya. Lokasi syuting yang dipilih tidak hanya di Indonesia, tetapi juga meluas hingga ke Uzbekistan, sebuah negara yang dikenal dengan sejarah Islamnya yang kental. Ambisi tinggi tim produksi ini diharapkan menjadi tonggak penting bagi industri film nasional.

Keberhasilan produksi film ini dengan fokus pada lokasi-lokasi bersejarah Islam di Asia Tengah membuktikan kapasitas sineas Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa para pembuat film tanah air tidak canggung dengan batasan geografis maupun budaya dalam menciptakan karya berkualitas. Bahkan, pencapaian ini mendapat pujian langsung dari Temur Mirzaev, aktor sekaligus Advisor Menteri Pariwisata Uzbekistan.

Cerita film "Pengin Hijrah" diadaptasi dari novel berjudul sama karya Hengki Kumayandi, berpusat pada karakter Alina Saraswati yang diperankan oleh Steffi Zamora. Alina adalah seorang selebgram yang di mata publik media sosial terlihat hidup megah dan bahagia, namun citra itu hanyalah topeng belaka. Di balik kemegahan tersebut, Alina menghadapi tiga kesulitan besar yang menghancurkan dirinya, termasuk skandal foto seksi, tumpukan utang orang tua, dan pukulan terberat berupa jatuh sakitnya sahabat karibnya, Ulfa.

Terpuruk dalam kebingungan, Alina merasa hidupnya seperti kehilangan pegangan dan mencari jalan keluar dari keterpurukannya. Titik baliknya datang saat ia bertemu dengan Omar, seorang mahasiswa Indonesia yang diperankan oleh Endy Arfian. Omar digambarkan sebagai sosok "green flag" yang tulus, sabar, dan memiliki pemikiran bijaksana, membawa Alina menuju ketenangan dan kesadaran dalam menyikapi setiap pergolakan hidupnya.

Hubungan Alina dan Omar pun berlandaskan niat yang sama, yaitu untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik atau berhijrah. Namun, proses perubahan Alina tidaklah mudah dan diuji oleh Joe (Daffa Wardhana), mantan pacar Alina, yang mewakili "circle" lama yang penuh masalah. Konflik antara masa lalu yang diwakili Joe dan masa depan yang ditawarkan Omar merefleksikan kesulitan banyak anak muda saat ini untuk meninggalkan lingkungan lama saat berupaya menjadi lebih baik. Beruntung, kehadiran Nadzira Shafa sebagai Aisyah, sahabat lain yang mendukung perjuangan Alina, berhasil menekankan pentingnya "support system" yang positif dalam proses hijrah mereka.

Salah satu elemen menarik dari film "Pengin Hijrah" adalah penggunaan lokasi syuting dengan visual yang eksotis dan beragam. Film ini membawa penonton ke empat tempat utama, yaitu kampus di Bogor, kesibukan Jakarta, negeri bersejarah Uzbekistan, dan keindahan Belitung. Lokasi syuting di Belitung memiliki nilai historis signifikan dalam industri film, mengingat pariwisata Belitung dulunya sempat sangat populer dan terkenal lewat film "Laskar Pelangi" yang membuka mata dunia akan keindahan alamnya. Kini, "Pengin Hijrah" mengambil tongkat estafet tersebut, dengan harapan visual pantai dan pemandangan Belitung yang eksotis dapat semakin mempopulerkan pariwisata andalan kabupaten itu.

Selain mempromosikan keindahan lokal, film "Pengin Hijrah" juga membawa penonton langsung ke pusat peradaban Islam di Uzbekistan, termasuk kota-kota suci Samarkand, Bukhara, dan Tashkent. Perjalanan ini adalah safari spiritual yang mendukung narasi hijrah Alina, termasuk kunjungan ke kompleks makam ulama besar Imam Bukhari. Visual tropis di pantai Belitung yang kontras dengan bangunan bercorak Asia Tengah yang diselimuti salju dan dingin, berhasil menciptakan sinematografi yang memukau dan kaya nuansa.

Temur Mirzaev, aktor sekaligus Advisor Menteri Pariwisata Uzbekistan, melihat film ini sebagai "kendaraan" promosi yang efektif untuk negaranya, sebuah pernyataan yang menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap kualitas produksi yang dihasilkan oleh sineas Indonesia. Hal ini menggarisbawahi potensi film sebagai medium promosi pariwisata dan budaya yang kuat.

Meskipun berlatar tempat bersejarah Islam yang kaya, eksplorasi mendalam terhadap sejarah dan budaya lokasi-lokasi tersebut terasa kurang optimal, dan lebih banyak berfungsi sebagai latar belakang dramatis untuk perjalanan emosional Alina. Pesan utama film mengenai esensi hijrah juga terasa terlalu instruktif, dengan dialog-dialog yang sering kali kaku dan terkesan menceramahi, mengurangi kedalaman emosi yang seharusnya terbangun secara alami.

Terlepas dari kritik tersebut, kualitas akting para pemain dalam film "Pengin Hijrah" patut diacungi jempol. Endy Arfian yang memerankan Omar, melakukan persiapan total, termasuk belajar bahasa dan budaya Uzbek dari penutur lokal, agar perannya sebagai pemuda blasteran terasa natural dan meyakinkan. Steffi Zamora juga berhasil menampilkan dengan baik jiwa kerentanan dan kerapuhan Alina, membuat karakternya terasa lebih hidup dan relevan.

Kolaborasi dengan Uzbekistan diperkuat dengan kehadiran aktris senior Adolat Kimsanova, yang memerankan Nenek Omar, Halima. Adolat, yang telah memiliki 50 tahun pengalaman di dunia seni peran, mengakui skenario Indonesia menantangnya untuk memerankan karakter nenek yang agresif untuk pertama kalinya, dan menunjukkan dinamika akting yang kuat. Ini menunjukkan kualitas produksi yang mampu menarik talenta internasional.

Selain itu, Original Soundtrack (OST) yang dibawakan oleh Nadzira Shafa dengan lagu "Arah Bersamamu" memberikan lapisan emosional yang sangat personal pada film. Lagu ini merupakan karya ciptaan bersama mendiang suaminya, Muhammad Ameer Azzikra, sehingga benar-benar menyatu dengan tema spiritual dan romansa dalam film. Kehadiran OST ini menambah kedalaman cerita dan memberikan pengalaman yang lebih menyentuh bagi penonton.

Secara garis besar, "Pengin Hijrah" adalah film yang ambisius, sukses dalam eksplorasi visual, dan berani membawa tema spiritual ke layar lebar dengan latar belakang budaya yang kaya. Meskipun narasi dramanya terkadang terlalu dominan dalam memberikan pelajaran moral, film ini tetap penting sebagai bukti bahwa sinema Indonesia mampu menciptakan karya yang spektakuler secara visual sekaligus relevan secara spiritual. Film ini sangat direkomendasikan bagi penonton yang ingin melihat romansa dengan latar belakang tempat yang eksotis.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi