Heroik! Tiga Petugas Damkar Surabaya Evakuasi Dua Santri dari Bawah Puing

Tiga personel tim penyelamat Damkar Kota Surabaya berbagi pengalaman mereka saat mengevakuasi korban dari reruntuhan Pondok Pesantren Al Khoziny.

Diankurniawan123
Oleh Diankurniawan123 - Reporter
Heroik! Tiga Petugas Damkar Surabaya Evakuasi Dua Santri dari Bawah Puing
Anggota tim penyelamat Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BASARNAS) berdoa setelah upacara penutupan yang menandai berakhirnya operasi pembersihan puing dan pencarian di lokasi runtuhnya musala Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (07/20/2025). (AFP/ Juni Kriswanto)

Tiga anggota tim penyelamat dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya berbagi pengalaman saat melakukan evakuasi korban dari reruntuhan Pondok Pesantren Al-Khoziny yang terletak di Buduran, Sidoarjo.

Mereka berhadapan dengan waktu yang mendesak serta tekanan fisik dan mental saat berjuang di antara puing-puing beton dalam misi kemanusiaan.

Ketiga petugas yang berani tersebut adalah Abdul Aziz, Galang Ferbi, dan Elvanio Santoso. Mereka memberikan kesaksian tentang usaha penyelamatan dua santri, Yusuf dan Haikal, pada hari pertama tragedi tersebut terjadi.

Elvanio Santoso mengungkapkan bahwa proses penyelamatan dimulai sekitar pukul 22.00 WIB.

"Kami datang dari hari pertama, terdengar suara Yusuf. Dia bilang, 'Pak, ada lubang. Tangan saya kelihatan tidak," ungkap Elvanio di hadapan Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, pada Rabu (15/10).

Setelah mendengar suara Yusuf, tim segera menemukan posisinya. Dengan rasa syukur, mereka menemukan bahwa kondisi Yusuf tidak terjepit puing. Akses untuk mengevakuasi Yusuf sangat kecil, hanya seukuran botol air mineral, yang hanya dapat digunakan untuk memberikan minuman dan biskuit.

Untuk menyelamatkan Yusuf, tim harus memperbesar lubang evakuasi. Oleh karena itu, mereka berdiskusi dengan Basarnas dan memulai proses yang memakan waktu antara 4 hingga 5 jam. Elvanio bekerja dari pukul 22.00 hingga lewat pukul 02.00 dini hari.

"Saat itu saya sudah kehabisan tenaga, akhirnya tugas akhir memotong rangka besi beton saya serahkan kepada teman saya, Abdul Aziz, hingga akhirnya Yusuf berhasil dikeluarkan dengan selamat," jelas Neo, sapaan akrabnya. Dia juga mengakui bahwa tragedi Al-Khoziny adalah pengalaman luar biasa pertama yang dia hadapi selama enam tahun bekerja di DPKP Kota Surabaya. "Yang pasti, ini menjadi kebanggaan tersendiri bisa ikut berpartisipasi atau terjun langsung, kami dapat menyelamatkan korban yang terjebak dalam reruntuhan," katanya.

Sementara itu, Abdul Aziz dan Galang Ferbi yang bertugas pada hari kedua dan ketiga, fokus pada upaya penyelamatan untuk membuka akses menuju santri bernama Haikal yang terjebak di reruntuhan.

Tim berusaha menggali lubang masuk sedalam kurang lebih 5 meter. Tekanan mental tim sangat terasa, karena selain menghadapi situasi darurat saat menuntun Haikal, mereka juga mendengar teriakan minta tolong dari sekitar lima korban lainnya di lokasi yang sulit dijangkau.

"Akhirnya, kita mencoba menguatkan dan menenangkan para santri bahwa mereka akan segera diselamatkan," ungkap Aziz saat menceritakan upayanya menenangkan para santri.

Evakuasi Haikal menjadi tantangan karena posisinya terjepit beton, hanya tangan kanannya yang bisa bergerak. Setelah menggali tanah sejauh 2 meter, sekitar pukul 12.00 WIB, Haikal mulai berteriak dan mengigau, "sudah jangan mainan itu. Haikal tidak bisa bernapas". "Mendengar teriakan tersebut, kami langsung berkoordinasi dengan tim pendamping dan berinisiatif memberikan suplai oksigen dan minuman. Setelah mendapatkan suplai oksigen, Haikal akhirnya lebih tenang dan evakuasi bisa dilanjutkan," tambahnya.

Proses evakuasi Haikal terus berlanjut bersama Basarnas hingga akhirnya ia berhasil dikeluarkan dari reruntuhan beton yang menimpanya. Mendengar cerita para personel DPKP mengenai penyelamatan santri Al-Khoziny, Eri menyampaikan apresiasi yang tinggi atas keberanian dan ketulusan tim penyelamat Kota Pahlawan.

"Saya sangat bangga, karena tim penyelamatan Kota Surabaya berbuat kebaikan tanpa pamrih untuk menolong sesamanya," kata Eri setelah melakukan kunjungan ke Kantor DPKP.

Sebagai bentuk penghargaan, Eri berencana memberikan penghargaan kepada personel DPKP pada momen Hari Pahlawan, 10 November mendatang.

"Kami juga akan memperbaiki dan melengkapi alat kebugaran di kantor DPKP, karena untuk menyelamatkan, para personel harus dalam kondisi sehat," katanya.

Rekomendasi