Indonesia telah menunjukkan sikap tegas dalam menolak kehadiran atlet Israel di berbagai ajang internasional. Penolakan ini berakar dari komitmen Indonesia terhadap perjuangan Palestina dan penolakan terhadap penjajahan. Sejak tahun 2015, berbagai peristiwa telah mencerminkan sikap ini, termasuk penolakan tim senam artistik Israel dan pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 FIFA 2023.
Penolakan terhadap atlet Israel bukanlah hal baru bagi Indonesia. Pada tahun 2015, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyerukan kepada pemerintah untuk menolak tim senam artistik Israel bertanding di Indonesia. Seruan ini mengemuka menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika yang diadakan di Jakarta dan Bandung. MUI menekankan bahwa konstitusi Indonesia menentang segala bentuk penjajahan, termasuk yang dilakukan oleh Israel.
Dalam konteks yang lebih luas, Indonesia juga menolak partisipasi tim nasional Israel dalam Piala Dunia U-20 FIFA 2023. Keputusan ini diambil setelah Gubernur Bali, I Wayan Koster, secara terbuka menolak kehadiran tim Israel di wilayahnya. Meskipun Presiden Joko Widodo menginginkan pemisahan antara politik dan olahraga, penolakan dari masyarakat tetap kuat.
Advertisement
Penolakan Tim Senam Artistik Israel (2015)
Seruan MUI untuk menolak tim senam artistik Israel bertanding di Indonesia merupakan langkah awal dalam rekam jejak penolakan ini. Wakil Ketua Umum MUI, KH Ma'ruf Amin, menyatakan bahwa tindakan ini didasari oleh konstitusi Indonesia yang menentang penjajahan. Menurutnya, "Konstitusi kita menentang penjajahan, dan Israel adalah negara penjajah. Jadi, kita tidak boleh menerima mereka di sini."
Seruan ini muncul menjelang Konferensi Tingkat Tinggi Asia Afrika yang diselenggarakan di Jakarta dan Bandung. MUI juga meminta pemerintah untuk tidak memberikan visa kepada tim senam artistik Israel, menegaskan sikap Indonesia terhadap isu Palestina.
Advertisement
Pembatalan Piala Dunia U-20 FIFA (2023)
Indonesia dicopot sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 FIFA 2023 karena penolakan terhadap partisipasi tim nasional Israel. Gubernur Bali, I Wayan Koster, menegaskan sikapnya dengan menyatakan, "Kami menolak tim Israel bermain di Bali. Ini adalah sikap kami yang konsisten dengan kebijakan luar negeri Indonesia terhadap Palestina."
Meskipun Presiden Joko Widodo telah meminta agar politik tidak dicampuradukkan dengan olahraga, penolakan dari beberapa pihak di Indonesia tetap kuat. Menteri Pemuda dan Olahraga, Dito Ariotedjo, mengakui bahwa penolakan terhadap Israel menjadi salah satu faktor utama pembatalan tersebut.
Advertisement
Penolakan Atlet Israel di Kejuaraan Dunia Angkat Besi (2015)
Indonesia juga menolak memberikan visa kepada atlet angkat besi Israel untuk Kejuaraan Dunia Angkat Besi di Houston, Amerika Serikat, yang seharusnya menjadi kualifikasi Olimpiade. Meskipun kejuaraan diadakan di AS, penolakan visa oleh Indonesia berdampak pada partisipasi atlet Israel.
Advertisement
Penolakan Atlet Israel di Kejuaraan Dunia Surfing (2023)
Di tahun 2023, tim surfing Israel tidak dapat berpartisipasi dalam World Surfing Games di El Salvador karena masalah visa yang diduga terkait dengan Indonesia. Meskipun acara tidak diadakan di Indonesia, laporan menunjukkan bahwa tekanan atau kebijakan Indonesia dapat mempengaruhi partisipasi Israel di acara internasional.
Advertisement
Hubungan Indonesia-Israel
Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel dan secara konsisten mendukung perjuangan Palestina. Sikap ini berakar pada amanat konstitusi Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan. Dengan demikian, penolakan terhadap atlet Israel menjadi bagian dari komitmen Indonesia dalam mendukung hak-hak Palestina.