Pekanbaru, Riau – Satu unit helikopter jenis AS365-N3 (PK-KIO) milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sebelumnya bertugas memantau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau telah ditarik kembali ke Jakarta. Penarikan ini dilakukan setelah kontrak operasionalnya berakhir, bertepatan dengan kondisi Riau yang mulai memasuki musim penghujan.
Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau, Jim Gafur, mengonfirmasi penarikan helikopter tersebut pada Minggu (21/9). Menurut Jim, faktor utama penarikan adalah berakhirnya masa kontrak serta intensitas hujan yang tinggi di berbagai daerah di Riau, menyebabkan kondisi nihil karhutla selama sepuluh hari terakhir.
Meskipun satu helikopter telah ditarik, upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla di Riau tetap berjalan. Dua helikopter patroli lainnya masih disiagakan, sementara tujuh unit helikopter water bombing juga tetap berada di provinsi tersebut untuk mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan.
Advertisement
Advertisement
Kontrak Berakhir, Riau Nihil Karhutla
Penarikan helikopter AS365-N3 (PK-KIO) dari Riau ke Jakarta merupakan langkah yang diambil setelah kontrak operasionalnya selesai. Helikopter ini sebelumnya memiliki peran krusial dalam memantau pergerakan api dan titik panas di wilayah Riau yang rawan karhutla.
Jim Gafur menjelaskan bahwa keputusan penarikan juga didasari oleh kondisi cuaca yang sangat mendukung di Riau. "Sudah, hari ini sudah ditarik ke Jakarta. Dari laporan Riau sudah sepuluh hari terakhir nihil karhutla. Intensitas hujan tinggi merata di berbagai daerah di Riau," kata Jim di Pekanbaru.
Musim hujan yang intens dan merata di seluruh daerah Riau telah secara signifikan mengurangi risiko terjadinya karhutla. Kondisi ini memberikan jeda bagi tim penanggulangan bencana, meskipun kewaspadaan tetap harus dijaga.
Advertisement
Advertisement
Dua Helikopter Patroli Tetap Siaga
Meski satu helikopter pantau karhutla telah ditarik, Provinsi Riau tidak sepenuhnya tanpa pengawasan udara. Dua helikopter patroli lainnya masih tetap disiagakan untuk memantau kondisi lapangan dan potensi karhutla yang mungkin muncul.
Dua unit helikopter tersebut adalah Bell 505 (PK-WSA) dari BNPB dan Bell 412 SP (PK-DAS) dari Kementerian Kehutanan. Kedua helikopter ini akan terus diterbangkan untuk memantau karhutla sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Kehadiran dua helikopter ini memastikan bahwa upaya deteksi dini dan pemantauan tetap berjalan, meskipun risiko karhutla menurun. Kesiapsiagaan ini penting untuk merespons cepat jika sewaktu-waktu terjadi perubahan cuaca atau munculnya titik api baru.
Advertisement
Advertisement
Tujuh Helikopter Water Bombing Masih Bertahan
Selain helikopter patroli, tujuh unit helikopter yang difungsikan untuk kegiatan water bombing (pemboman air) juga masih siaga di Riau. Helikopter-helikopter ini memiliki kapasitas besar untuk memadamkan api dari udara, menjadi aset vital dalam penanggulangan karhutla.
Tujuh unit helikopter water bombing tersebut meliputi Sikorsky UH-60A (N61AA), Sikorsky UH-60A (N260UH), Mi-8AMT (RA-22747), Mi-8AMT (RA-22729), Mi-8AMT (RA-22834), Kamov KA-32C (RA-31021), dan Superpuma AS332L2 (P2-MHL). Keberadaan mereka menunjukkan kesiapan Riau menghadapi potensi karhutla.
Meskipun Riau telah memasuki musim penghujan dan kondisi nihil karhutla, belum ada laporan pasti mengenai penarikan helikopter water bombing ini. Jim Gafur menyatakan bahwa keputusan terkait penarikan helikopter water bombing sepenuhnya berada di kewenangan pusat. "Kalau ini (Heli WB) belum ada dapat laporan akan ditarik. Tapi semua kebijakan ada di pusat," jelas Jim.
Advertisement
Sumber: AntaraNews