Lebih dari 100 Siswa Jadi Korban, DPRD Cianjur Panggil Semua Pihak Antisipasi Keracunan MBG

DPRD Cianjur gerak cepat panggil pihak terkait usai lebih dari 100 siswa jadi korban keracunan MBG. Apa langkah antisipasi agar insiden ini tak terulang?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Lebih dari 100 Siswa Jadi Korban, DPRD Cianjur Panggil Semua Pihak Antisipasi Keracunan MBG
DPRD Cianjur gerak cepat panggil pihak terkait usai lebih dari 100 siswa jadi korban keracunan MBG. Apa langkah antisipasi agar insiden ini tak terulang? (Merdeka.com)

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mengambil langkah serius dengan mengundang seluruh pihak terkait Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Pertemuan ini bertujuan untuk mengantisipasi dan mencari solusi atas insiden keracunan yang beberapa kali menimpa siswa penerima manfaat program tersebut.

Ketua DPRD Kabupaten Cianjur, Metty Triantika, menyatakan bahwa dugaan keracunan setelah siswa menyantap MBG bukan hanya terjadi sekali di wilayah tersebut. Tercatat, lebih dari 100 orang siswa telah menjadi korban, sehingga perlu penanganan serius agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Metty menegaskan, "Ini peristiwa luar biasa yang harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak, kita bersama berbagai pihak harus mencari tahu apa penyebab pastinya, semua pihak yang berwenang dalam Program MBG di Cianjur mesti melakukan evaluasi secara menyeluruh." Pihaknya berharap program pemerintah pusat yang bertujuan baik ini dapat terlaksana dengan optimal di daerah.

DPRD Cianjur menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap Program MBG. Hal ini menyusul rentetan insiden keracunan yang terus berulang tanpa adanya kesimpulan atau perubahan signifikan dalam pelaksanaannya. Untuk itu, DPRD telah mengundang semua pihak terkait, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN) Cianjur, guna membahas permasalahan ini secara komprehensif.

Metty menambahkan bahwa permasalahan yang terjadi tidak boleh terulang kembali. Pihaknya meminta agar semua pihak yang terlibat dalam Program MBG di Cianjur melakukan evaluasi secara menyeluruh. Tujuannya adalah agar program yang baik ini tidak justru menimbulkan dampak negatif bagi para penerima manfaat.

Program MBG yang seharusnya mendukung gizi anak-anak di Cianjur justru diwarnai kekhawatiran. Oleh karena itu, evaluasi mendalam diharapkan dapat mengidentifikasi akar masalah dan menemukan solusi konkret. Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap program ini dapat kembali pulih.

Selain penanganan medis, DPRD Cianjur juga menyoroti pentingnya pendampingan dan pemantauan kondisi psikologis para siswa yang menjadi korban keracunan. Kekhawatiran muncul bahwa mereka dapat mengalami trauma dan enggan untuk kembali menyantap MBG di masa mendatang. "Psikologis anak juga harus menjadi perhatian setelah mengalami keracunan, jangan sampai mereka trauma dengan makanan yang diterima dari program yang baik ke depannya," ujar Metty.

Sementara itu, Ketua DPC GMNI Cianjur, Agus Rama Tunggara, menggarisbawahi bahwa empat kejadian keracunan yang terjadi membuktikan belum optimalnya pelaksanaan program pusat di daerah, khususnya Cianjur. Ia mendesak agar program dihentikan sementara untuk proses evaluasi. "Hentikan dulu sementara programnya selama proses evaluasi, jangan sampai anak Cianjur terus jadi korban dan akhirnya trauma menolak program yang tujuannya sangat baik," tegas Agus.

GMNI Cianjur juga menuntut adanya kompensasi bagi siswa yang menjadi korban keracunan. Selain pendampingan psikologis, tuntutan ini menjadi bagian dari upaya untuk memastikan tanggung jawab pihak terkait. Agus bahkan menyatakan akan menggelar aksi unjuk rasa jika tidak ada evaluasi menyeluruh terhadap Program MBG di Cianjur.

Kabupaten Cianjur telah mencatat empat kasus keracunan yang terjadi setelah siswa menyantap Program Makanan Bergizi Gratis (MBG). Insiden ini menjadi perhatian serius bagi berbagai pihak, mengingat jumlah korban yang tidak sedikit dan kejadian yang berulang.

Kasus terbaru terjadi di Kecamatan Cugenang, di mana sekitar 36 siswa dari dua sekolah berbeda mengalami keracunan. Setelah menyantap MBG, para siswa tersebut segera mendapat penanganan medis di puskesmas setempat. Kejadian ini menambah daftar panjang insiden serupa yang membutuhkan penanganan cepat dan evaluasi mendalam.

Rangkaian kejadian keracunan ini menunjukkan adanya celah dalam pengawasan dan kualitas makanan yang disalurkan melalui program tersebut. "Untuk kebaikan segera lakukan evaluasi menyeluruh agar tidak ada lagi korban keracunan usai menyantap MBG. Ini merupakan tugas bersama berbagai pihak terkait," pungkas Agus Rama Tunggara.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi