Sejumlah penyewa kios di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, kini tengah menghadapi tantangan berat. Mereka merasakan dampak langsung dari pemindahan sejumlah maskapai penerbangan dari bandara tersebut ke Bandara Soekarno-Hatta.
Kondisi ini menyebabkan penurunan omzet yang sangat drastis, memaksa beberapa pemilik usaha untuk gulung tikar. Karyawan kios, seperti Chika (27), mengungkapkan bahwa tempat usahanya menjadi sepi pengunjung sejak beberapa tahun terakhir, dan situasi ini semakin parah setelah adanya pengurangan penerbangan.
Pemindahan maskapai yang dimulai sejak 1 Agustus 2025 ini secara signifikan mengurangi jumlah penumpang yang datang. Akibatnya, kios-kios di bandara tersebut kini hanya melayani sedikit pelanggan setiap harinya, jauh dari kondisi normal sebelumnya.
Advertisement
Advertisement
Omzet Anjlok Drastis, Karyawan Terdampak Langsung
Dampak pemindahan maskapai Halim ini secara langsung terasa pada pendapatan harian kios-kios. Salah satu karyawan, Chika, menuturkan bahwa kiosnya kini hanya melayani sekitar enam pelanggan per hari, yang sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya.
Penurunan omzet mencapai 50 persen, bahkan ada kios lain yang hanya mencatat pendapatan Rp43 ribu dalam sehari. Angka ini sangat tidak sebanding dengan pengeluaran rata-rata untuk membayar sewa tempat yang mencapai puluhan juta rupiah setiap bulannya, belum termasuk gaji pegawai.
Untuk bertahan, beberapa penyewa kios telah mengambil langkah drastis seperti mengurangi jumlah karyawan. Kios tempat Chika bekerja, misalnya, kini hanya memiliki lima karyawan dari sembilan sebelumnya, dan mengurangi sif kerja dari empat menjadi dua orang. Namun, upaya ini belum mampu mengatasi kerugian yang terus terjadi setiap bulan.
Advertisement
Advertisement
Sewa Tak Turun, Pengelola Diminta Beri Keringanan
Di tengah kondisi sepi pembeli dan omzet yang anjlok, penyewa kios di Bandara Halim menghadapi masalah lain. Harga sewa tempat tidak mengalami penurunan, membuat mereka semakin tertekan karena harus membayar penuh meskipun tidak ada pemasukan yang memadai.
Penyewa kios telah berupaya untuk bersurat kepada pihak pengelola bandara guna meminta keringanan biaya sewa. Namun, permohonan tersebut belum membuahkan hasil, dan pengelola tetap mengharuskan pembayaran sewa secara penuh.
Kondisi ini diperparah dengan kebutuhan untuk membeli bahan baku makanan-minuman, biaya operasional, listrik, hingga gaji karyawan. Pemasukan yang minim tidak cukup untuk menutupi biaya sewa, sehingga banyak kios terancam gulung tikar. Chika berharap pengelola bandara dapat memahami situasi ini dan mengeluarkan kebijakan penurunan biaya sewa serta transparansi manifest penerbangan.
Advertisement
Karyawan lain, Yadi, juga mengakui mengalami hal serupa dengan sepinya penumpang pesawat yang makan dan minum di kiosnya. Situasi ekonomi yang dirasakan oleh para penyewa kios ini menggambarkan kondisi "kembang kempis" di tengah ketidakpastian.
Sumber: AntaraNews