Pihak manajemen PDAM Kota Semarang memastikan bahwa penemuan mayat di Reservoir Siranda tidak berdampak pada pelanggan. Pasalnya, air dari tandon tersebut sudah tidak dialirkan ke jaringan distribusi selama dua bulan terakhir.
Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Moedal Kota Semarang, Yudi Indardo menyebut Reservoir Siranda tidak digunakan untuk operasional harian, melainkan hanya berfungsi sebagai cadangan (backup).
"Reservoir Siranda sejak bulan Maret 2025 hanya digunakan sebagai cadangan. Terakhir digunakan pada tanggal 5 Juli 2025 untuk back up kepada sekitar 3000 pelanggan atau 1,5 persen dari total pelanggan PDAM Kota Semarang karena ada perbaikan sistem di Semarang Barat," kata Yudi Indardo, Jumat (22/8).
Dia menyebut hanya digunakan selama 7-8 jam, dan sejak saat itu tidak digunakan lagi hingga terjadi kasus penemuan mayat mengambang di Reservoir Siranda pada Sabtu 16 Agustus 2025.
Karena hanya difungsikan sebagai cadangan, pihaknya juga menyebut tidak ada penjaga yang standby di Reservoir Siranda selama 1x24 jam. Meski demikian, setiap hari petugas penjaga saluran hanya mengecek rutin secara fisik dari luar. Untuk pengecekan mendalam bersama teknisi hanya dilakukan pada saat Reservoir Siranda akan digunakan sebagai back up ke pelanggan.
"Pengecekan terakhir dilakukan pada tanggal 5 Juli 2025 pada saat akan digunakan sebagai cadangan ketika ada perbaikan. Jadi selama tanggal 29 atau 30 Juli sejak korban dilaporkan hilang hingga ditemukan tewas pada tanggal 16 Agustus 2025, Reservoir Siranda tidak digunakan,” ujarnya.
Atas kejadian penemuan mayat tersebut, Reservoir Siranda telah dikuras dan dibersihkan dengan disinfektan. Air yang tercemar mayat juga dibuang melalui pipa saluran pembuangan yang terpisah dengan pipa saluran pengairan.