Pemungutan Suara Ulang (PSU) yang digelar di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk Papua dan Kabupaten Pesawaran, berlangsung aman dan damai. Pelaksanaan PSU tersebut menjadi cerminan nyata kedewasaan demokrasi di tengah masyarakat Tanah Air.
Keberhasilan PSU menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia semakin matang. Masyarakat dinilai telah mampu menolak segala bentuk provokasi dan hoaks yang beredar luas di media sosial.
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU), Mochammad Afifuddin, menyampaikan bahwa PSU di Mahakam Ulu, Kota Palopo, dan Kabupaten Pesawaran berjalan tertib dengan tingkat partisipasi yang tinggi.
“Seperti di Mahakam Ulu, sebanyak 20.941 pemilih menggunakan hak pilihnya, dengan partisipasi mencapai 74,14 persen,” ungkapnya dalam keterangannya, Selasa (10/6).
Ia juga mengapresiasi kontribusi semua pihak, mulai dari penyelenggara hingga pemilih yang telah menjaga proses tetap kondusif.
“Apresiasi tinggi kami sampaikan kepada seluruh penyelenggara dan pemilih yang telah memastikan proses ini berjalan kondusif,” tambahnya.
Sementara itu, Kapolda Lampung Irjen Pol Helmy Santika menyampaikan rasa terima kasih atas partisipasi aktif masyarakat dalam menyukseskan PSU, khususnya di Pilkada Pesawaran. Menurutnya, keberhasilan PSU mencerminkan kedewasaan demokrasi di tingkat lokal.
“Ini menjadi fondasi kuat dalam menjaga stabilitas daerah,” ucap Helmy.
Ia juga menekankan pentingnya netralitas aparat penegak hukum dalam proses demokrasi.
“Netralitas anggota Polri adalah harga mati. Ini adalah komitmen kami untuk menjaga marwah demokrasi agar tetap adil dan bermartabat,” tegasnya.
Dari Papua, seruan damai disampaikan tokoh agama Pastor Catto Mauri. Ia mengajak masyarakat untuk memilih dengan hati yang jernih dan menjauhkan diri dari provokasi.
“Mari kita datang ke TPS pada 6 Agustus mendatang, berdoa agar Tuhan memberkati dan memberi hikmat serta akal budi yang sehat agar kita dapat memilih pemimpin yang benar-benar hadir dalam hati kita,” ujarnya.
Pastor Mauri juga menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan pilihan politik.
“Beda pilihan itu biasa, yang luar biasa adalah tetap bersatu dalam perbedaan. Mari kita jaga persaudaraan dan keutuhan Papua,” tutupnya.